Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....

Jumat, 21 Oktober 2011

Sikap Kritis, Peka, dan Peduli mahasiswa: Jiwa, Pikiran dan Tindakan

Oleh:
Panca Dias Purnomo[1]

Mahasiswa takut pada Dosen…
Dosen takut pada Dekan…
Dekan takut pada Rektor…
Rektor takut pada Menteri…
Mentri Takut pada Presiden…
Presiden Takut pada Mahasiswa…
(Taufik Ismail, 1998)

Penggalan puisi diatas adalah karya seorang sastrawan ternama Indonesia yang mengandung makna mendalam dari sejarah panjang perjuangan mahasiswa dalam progesivitas perbaikan bangsa ini. Puisi itu merupakan rekam sejarah heroisme mahasiswa Indonesia yang tiada pernah henti memperjuangankan takdir negaranya dengan senantiasa mengawal dan mengevaluasi jalannya pemerintahan. Mahasiswa adalah bagian dari pemuda yang mempunyai andil besar dalam sejarah dinamika perkembangan bangsa ini. Mahasiswa adalah pemuda yang mempunyai peran sebagai agent of change, social control, iron stock, dan the guardian value dalam ranah berbangsa dan bernegara. Sebagai manusia yang lebih tercerahkan (enlightenment people) dibandingkan kelompok masyarakat lainnya, mahasiswa seharusnya mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi di sekelilingnya. Penumbuhan sikap peka dan peduli mahasiswa terhadap kondisi di sekitarnya harus disuburkan sejak dini, karena mahasiswa egois-lah yang hanya mementingkan diri sendiri, sedangkan realitas mayoritas masyarakat bangsa ini masih tertindas oleh ketidakadilan dan kebodohan. Apapun minat, keahlian, dan kemampuan mahasiswa, mahasiswa harus mempunyai kesadaran untuk terus menggali informasi, ilmu pengetahuan dan membekali diri dengan kapasitas keilmuan yang tinggi, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan bangsa dan masyarakatnya. Itulah jiwa, pikiran dan tindakan seorang mahasiswa, yaitu kritis, peka, peduli, dan haus akan informasi dan pengetahuan.
Mengapa Mahasiswa?
Mengapa mahasiswa harus mempunyai sikap kritis, peka, peduli, dan haus akan informasi dan pengetahuan? Jawaban dari pertanyaan ini merupakan jiwa atau ruh yang harus disadari dan dimiliki oleh setiap mahasiswa dalam setiap aktivitas yang dilakukan serta sebagai dorongan dan motivasi  untuk terus memberikan kontribusi untuk kejayaan bangsa dan negara.
Pertama, mahasiswa sebagai bagian dari pemuda mempunyai peran dan fungsi yang sangat mulia dalam tataran berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa berperan besar dalam membangkitkan semangat kemajuan di bangsa ini. Peran dan fungsi tersebut antara lain: mahasiswa adalah “iron stocks” atau gudang calon pemimpin bangsa di masa depan. Mereka ditempa dan dididik di perguruan tinggi untuk menjadi seorang calon pemimpin bangsa yang memang nantinya layak mengisi pos – pos tertentu baik sektor pemerintah maupun swasta. Karena itu, calon pemimpin bangsa tidak hanya sekedar membekali diri dengan kecerdasan pikiran melainkan dengan kecerdasan spiritual agar menjadi pemimpin yang kuat menahan godaan dunia dan jernih dalam berpikir dan bertindak. Mahasiswa adalah “social control”, yaitu pengontrol sekaligus pengevaluasi kebijakan – kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat (sosial). Selain itu, mahasiswa adalah “the guardian values” atau penjaga nilai – nilai. Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mampu mentransfer pemikirannya kepada masyarakat melalui teladan dan karya nyata untuk menjaga nilai – nilai kebaikan dalam masyarakat.
Mahasiswa sering juga disebut “agent of changes” atau kaum intelektual. Seseorang yang memiliki kemampuan dan ketrampilan tertentu, mempunyai persepsi holistic. Artinya mereka mampu melihat, menafsirkan, dan menyimpulkan gejala sosial secara utuh menyeluruh dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Mereka mampu berpikir kritis, kreatif, spekulatif, deduktif, dialektik, dan mereka selalu berpikir kearah perubahan.[2]
Kedua, mahasiswa adalah bagian terbesar dari civitas akademika perguruan tinggi, dimana setiap perguruan tinggi di Indonesia mempunyai tri dharma perguruan tinggi sebagai dasar perguruan tinggi begerak yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiga nilai tersebut juga harus menjadi ruh atau jiwa setiap mahasiswa dalam melakukan setiap aktivitasnya, yaitu mahasiswa harus mempunyai kemampuan mendidik, meneliti, serta mengabdikan diri kepada masyarakat. Begitulah lingkaran peran mahasiswa yang sesungguhnya. Mahasiswa yang hanya mementingkan nilai dan kuliah dikelas tanpa peduli kepada kondisi masyarakat, maka ia belum layak disebut mahasiswa sejati. Mahasiswa yang hanya pandai beretorika di organisasi mahasiswa kampus tanpa pernah menggunakan retorika dan kemampuannya dalam fungsi pengabdian masyarakat, maka sebenarnya mahasiswa itu hanya layak disebut mahasiswa bermulut besar.
Oleh karena itu, berdasar ketiga nilai tri dharma perguruan tinggi tersebut, mahasiswa harus mempunyai sikap kritis terhadap kondisi sekitarnya, peka, peduli, dan haus akan ilmu pengetahuan dan informasi untuk kemudian memberikan apa yang mahasiswa kuasai kepada masyarakat. Ilmu dan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jika tidak pernah ditransfer kepada masyakarat hanya akan bernilai nol (0). Pengabdian kepada masyarakat beranegaka ragam bentuknya, misalnya aksi turun kejalan, bakti sosial, pasar murah, pengobatan gratis, pelatihan dan pembinaan di desa – desa, dll.
Ketiga, Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta, 11,01 juta jiwa (BPS) adalah mereka yang berhasil kuliah sampai perguruan tinggi. Jumlah itu hanya sekitar 4,65% dari total populasi penduduk Indonesia. Jumlah yang kecil dibandingkan dengan negara lainnya. Melihat betapa masih kecilnya jumlah mahasiswa di Indonesia, apakah pernah terbersit dalam pikiran kita bahwa kita ini adalah orang yang sangat beruntung? Beruntung karena ternyata tidak banyak pemuda di negara ini yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Kenapa?karena pendidikan tinggi masih terlampau mahal bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Beruntung sekali kita bukan? Fakta lainnya adalah perguruan tinggi negeri di Indonesia masih mendapatkan dana subsidi dari pemerintah untuk kegiatan operasionalnya. Dana subsidi dari mana? Dana subsidi dari pajak yang dibayarkan oleh seluruh rakyat Indonesia di seluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu, kita sebagai segelintir orang yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan santunan dari pajak yang dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia, Akankah masih saja memikirkan kepentingan diri sendiri?TIDAK. Ini adalah konsekuensi dan tanggung jawab moril yang kita emban, untuk membalas budi baik seluruh rakyat Indonesia dengan kepekaan, kepeduliaan, dan keinginan menggali sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Sejarah telah membutkikan bahwa mahasiswa selalu berada dalam garda terdepan kemajuan dan perubahan sebuah bangsa, “Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan tradisi berpikir suatu bangsa seringkali diubah secara mendasar oleh para mahasiswa. Seperti perubahan tradisi berpikir masyarakat Perancis yang mengalami perubahan sangat fundamental setelah ada revolusi mahasiswa pada 1968” (Zanuba Wahid-Membangun (Kembali) Kesadaran Kritis Mahasiswa-2008).
Pada hakikatnya mahasiswa adalah fase dimana manusia berada pada masa kalkulatif (tercerahkan) oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Sudah sepantasnya orientasi pergerakan mahasiswa dan organisasai mahasiswa adalah untuk menumbuhkan kemampuan intelektualitas. Kemampuan yang bukan hanya memfokuskan pada kekuatan tetapi juga daya kritis untuk merespon isu-isu kekinian. Disinilah mahasiswa harus mampu menampilkan fakta-fakta terkait problematika masyarakat yang sesungguhnya. Disinilah mahasiswa dituntut dengan kemampuan intelektualitasnya, untuk mampu mencari solusi sekaligus memecahkan akar permasalahan tersebut[3].
Ini lah jiwa, ruh, dan semangat yang harus disadari dan dimiliki oleh setiap mahasiswa bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya akan selalu mempunyai hubungan dengan bangsa, negara dan masyarakat.  Karena itu, jiwa dan pikiran serta tindakan mahasiswa adalah kritis, peka, peduli, dan haus pengetahuan.

Peran Organisasi Mahasiswa
Sikap kritis, peka, peduli, dan keinginan untuk menggali ilmu pengetahuan serta berkontribusi untuk masyarakat selama ini sering muncul dan tersemai subur dari keberadaan organisasi mahasiswa baik intra maupun ektra kampus. Sejarah dan fakta kekinian juga membuktikan bahwa merekalah yang aktif di organisasi mahasiswa yang dengan sadar dan lantang memberikan pembelaan, kritik, masukan, serta aksi nyata untuk memperbaiki kondisi masyarakat di negara ini, dengan berbagai cara yang mereka bisa dan kuasai.
Organisasi mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang sangat vital dalam menumbuhkan dan menyemaikan nilai – nilai esensi dan perjuangan mahasiswa. Selain itu, mahasiswa adalah wadah yang sangat efektif untuk menumbuhkembangkan kemampuan mahasiswa terutama soft-skill dan life-skill. Organisasi mahasiswa adalah tempat untuk mengembangkan Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ).
Organisasi mahasiswa tidak hanya sekedar event organizer yang hanya mengadakan event parsial dan sporadis semata, seperti seminar, pelatihan, dan kuliah umum. Organisasi mahasiswa lebih dari sekedar hubungan formal dan komunikasi publik. Organisasi mahasiswa adalah lembaga kaderisasi dan lembaga pengembangan diri. Organisasi mahasiswa adalah tempat bersemainya budaya intelektualitas mahasiswa, tempat dimana mahasiswa berlatih menjadi seorang intelektual muda sejati dan sebagai agen penumbuh 3 pilar budaya seorang intelektual yaitu membaca, menulis, dan diskusi. 
Organisasi mahasiswa membutuhkan hubungan personal dan emosi yang sejalan. Jika organisasi ingin dijadikan keluarga, lalu keluarga yang seperti apa? Perlu adanya kepedulian yang bersifat personal di dalam keluarga. Tentunya asas perbedaan akan mewarnai dalam suatu keluarga. Perbedaan itu yang dapat menjadi stimulus bagi kita untuk menjadi dewasa, sikap saling menerima dan saling melengkapi[4]. Organisasi mahasiswa berisikan oleh mahasiswa dengan berbagai macam cara pandang sehingga selalu memunculkan dinamika, karenannya organiasasi mahasiswa adalah sarana menuju kedewasaan personal dan juga spritiual.  
Berdasarkan hal tersebut maka organsiasi mahasiswa dituntut untuk terus meningkatan kualiatas dirinya dan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat mahasiswa. Sebagai miniatur pemerintahan negara dalam penyelenggaraan negara yang semestinya dilakukan oleh aparatur negara. Maka, organisasi mahasiwa harus meng-adopsi prinsip-prinsip pemerintahan layaknya dalam sebuah negara dan dikolaborasikan dengan prinsip sebagai organisasi pengkaderan dan perjuangan. Dengan demikian, satu media yang dapat membentuk kematangan mahasiswa dalam hidup bermasyarakat ialah organisasi. Dengan senantiasa ber-organisasi maka mahasiswa akan senantiasa terus berinteraksi dan beraktualisasi, sehingga menjadi pribadi yang kreatif serta dinamis dan lebih bijaksana dalam persoalan yang mereka hadapi[5].
Ada beberapa salah persepsi dan penyempitan makna jika berbicara mengenai organisasi mahasiswa maupun aktivis mahasiswa. Sering kali banyak salah pemahaman tentang makna, peran dan fungsi organisasi mahasiswa. Banyak orang yang salah mempersepsikan bahwa organisasi mahasiswa hanya berkutat dengan dunia sosial-politik dan pekerjaan utamanya adalah demo atau aksi turun ke jalan. Tidak semua organisasi mahasiswa selalu berorientasi politik. Organisasi mahasiswa mempunyai peran dan fungsinya menurut tujuan organisasi mahasiswa tersebut dibentuk, misalnya organisasi mahasiswa di bidang minat bakat, kesenian, budaya, sosial, sosial-politik, riset, dan kewirausahaan. Selain itu, aktivis mahasiswa seringnya dialamatkan kepada mereka yang aktif di organisasi mahasiswa yang berbau sosial-politik, seperti BEM dan SENAT. Padahal, semua pengurus organisasi mahasiswa, apapun organisasinya, adalah aktivis mahasiswa. Karena aktivis mahasiswa, adalah mereka yang aktif dan memberikan timbal balik manfaat kepada organisasi dan almamaternya. Pada intinya, semua organisasi mahasiswa (apapun tujuan organisasinya) adalah sarana yang efektif untuk belajar menjadi dewasa, belajar mengembangkan soft-skill, life-skill, EQ dan SQ yang nantinya akan bermanfaat saat masuk ke dunia masyarakat yang sesungguhnya. Apapun organisasi dan tujuannya, yang terpenting adalah  bagaimana organisasi itu bisa menumbuhkan nilai, sikap, dan karakter kritis, peka, peduli, dan haus ilmu pengetahuan serta peningkatan kapasitas diri kepada seluruh anggotanya sehingga dapat dihasilkan mahasiswa yang sesungguhnya.

Sikap Kritis
Sikap kritis sering disalahpahami sebagai sikap negatif karena sering dianggap atau dipersepsikan sebagai sikap menentang dan melawan. Sikap kritis juga dianggap sebagai sikap ketidakpercayaan kepada orang lain. Sikap kritis juga hanya seringnya dihubungkan dengan demonstrasi mahasiswa atau aksi masa yang berujung bentrokan dan kerusuhan masa. Seringkali kesempitan pemaknaan ini terjadi di kalangan masyarakat kita, bahkan masih banyak mahasiswa yang berpikir seperti itu. Apakah sikap kritis adalah hanya yang demikian?
Telah banyak teori dan penjelasan mengenai sikap kritis. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1) sikap kritis dimaknai sebagai kemampuan berpikir objektif. Mahasiswa dapat melihat sisi poitif dan negatif suatu masalah secara seimbang, sebelum akhirnya membuat keputusan. Mahasiswa selalu bisa mempertimbangkan segala sesuatunya secara bijaksana, proporsional atau seimbang tanpa dibumbui rasa emosi yang berlebihan. 2) Sikap kritis adalah menyampaikan sesuatu sesuai dengan kondiri riil sesuai dengan realita. 3) Kritis juga berarti bisa mengevaluasi apa yang ditangkap dengan apa yang disampaikan sehingga menemukan kejelasan. Misalnya, dalam diskusi mahasiswa senantiasa meluaskan materi atau menghubungkan dengan beberapa informasi, fakta, ide sehingga akan diperoleh kejelasan yang lebih holistik. Sedangkan, mengkritik berarti menanggapi dengan perspektif tertentu, diikuti pernyataan solutif sebagai masukan atas kekurangan yang ada. Tanggapan tanpa saran konstruktif bagai teori yang tak didukung dalil ilmiah yang valid5.
Pada intinya, sikap kritis adalah bagaimana melihat sesuatu hal dengan cara yang lebih objektif dan seimbang, mencari kaitannya dengan kondisi, informasi, atau fakta lain sehingga diperoleh kondisi yang lebih holistik atau menyeluruh. Kondisi ini akan menghasilkan sikap yang tidak serta merta menerima apa yang terjadi kepada masyarakat atau kondisi di sekitarnya. Sikap kritis disini adalah bertujuan untuk menumbuhkan sikap peka, peduli, dan motivasi atau semangat untuk terus menggali informasi dan pengetahuan sedalam – dalamnya agar diperoleh mahasiswa yang berintelektualitas tinggi, tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri dan kampus, melainkan untuk masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Sikap kritis tidak selalu hanya ditunjukan dengan aksi dan demontrasi turun ke jalan memprotes kebijakan pemerintah, meskipun itu adalah salah satu bentuk dari sikap kritis, peka dan peduli terhadap kondisi masyarakat. Seperti yang telah dijelaskan diawal tulisan ini, bahwa menunjukan sikap kritis, peka, dan peduli serta kehausan menggali ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan, misalnya, diskusi, menulis di media massa, bakti sosial, dan sarana lain yang dapat mengundang kesadaran publik terhadap sesuatu. Misalnya, sekelompok mahasiswa aktivis lingkungan yang tergabung dalam organisasi lingkungan, ingin mengkritik pemerintah sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sumber daya air di Kota Semarang, melakukan aksi membagikan botol minuman kepada masyarakat, aksi damai di Tugu Muda Semarang, dan melakukan press release di media massa kota, serta melakukan kampanye di kampus – kampus. Itulah beberapa contoh aksi nyata dari sikap kritis, peka, dan peduli terhadap kondisi di sekitar mahasiswa.
Mahasiswa adalah kaum intelektual, mampu berpikir secara mendalam dan tajam dalam menyikapi sesuatu masalah serta bersikap bijaksana dan dewasa yang pada muaranya adalah untuk kemajuan institusi, masyarakat, bangsa dan negara.

Menumbuhkan Sikap Kritis dan Haus Pengetahuan Serta Informasi
Kesadaran kritis yang melampaui tabir asap itu sesungguhnya bisa dibangun dengan tradisi berpikir relasional (melihat suatu masalah atau fakta tidak semata-mata dari substansinya, tetapi dalam relasinya dengan masalah dan fakta lain) dan “outward looking” (melihat masalah atau fakta di dalam negeri dalam perspektif geo-politik, geo-ekonomi dan geo-kultural dalam konteks hubungan internasional, khususnya hubungan antara negara Dunia Pertama dan Ketiga)[6].
Sikap kritis akan berkorelasi dengan tingkat intelektualitas mahasiswa. Hal ini lah yang akan membedakan mahasiswa yang berkualitas dengan yang kurang berkualitas. Menumbuhkan sikap kritis melalui peningkatan intelektualitas mahasiswa tersebut dilakukan dengan menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan diskusi dikalangan mahasiswa sehingga akan tercipta amosfer kampus yang dinamis dan solutif yang mampu menciptakan mahasiswa dengan kapasitas kelimuaan dan intelektualitas tingkat tinggi. Tentunya hal tersebut perlu adanya sinergisitas dan kerja bersama antara birokrat kampus, dosen, dan organisasi mahasiswa.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sikap kritis, kepekaan, kepeduliaan terhadap kondisi sekitar, dan keinginan untuk terus berkembang antara lain:
  1. Sering terlibat dalam lingkungan yang dinamis
  2. Perluas wawasan
  3. Cari tahu dan ambil kesempatan
  4. Komitmen dan teguh
  5. Berusaha optimal
  6. Terus besemangat dalam belajar dan berlatih
  7. Berani mencoba dan berani gagal
  8. Nikmatilah
  9. Selalu berusaha dekat dengan Yang Maha Kuasa
  10. Mulai lah dari hal yang kecil

Sedangkan, berikut ini adalah hal – hal yang sering menyebabkan seseorang enggan bersikap kritis, peka, dan peduli, diantaranya:
  1. Fanatisme
  2. Kurangnya Pemahaman Pada Suatu Kasus
  3. Merasa Paling Pintar
  4. Bersikap Subjektif
  5. Sempitnya Wawasan dan Perspektif
  6. Zona Nyaman

Kritis yang Etis, Analitis dan Solutif
Banyak pendapat yang sering mengatakan bahwa dalam menyampaikan pendapatnya, mahasiswa cenderung emosional dan kurang menampilkan argumentasi-argumentasi rasional. Padahal, keterlibatan aktif mahasiswa dengan kondisi masyarakat memerlukan dasar-dasar logis agar dapat difahami dan diterapkan anggota masyarakat khususnya masyarakat kecil dan miskin[7].
Pendapat tersebut barangkali yang sekarang ini mulai dipercayai oleh sebagian masyarakat Indonesia, bahwa mahasiswa Indonesia hanya bisa berteriak – teriak di pinggir jalan, meneriakan keadilan tanpa memahami betul permasalahan apa yang sebenarnya mereka sedang perjuangkan. Hal ini juga yang membuat mindset masyarakat kepada aksi dan demonstrasi mahasiswa cenderung negatif karena berujung pada anarkisme dan kerusuhan.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam menunjukan sikap kritis, peka, dan pedulinya harus juga dilakukan dengan cara – cara yang intelek, elegan, dan bijaksana. Karena itu, dalam mengeluarkan sikap kritisnya mahasiswa harus berpedoman atau memegang teguh prinsip etis (sesuai norma), analitis (mengadakan analisa sehingga mempunyai data kuat mengenai sesuatu masalah), dan solutif (mempunyai solusi terhadap masalah yang sedang diangkat). “Pribadi berilmu nan santun jauh lebih terhormat daripada memiliki sejuta ilmu tanpa akhlak mulia”[8].
Sesungguh sikap dan karakter seperti itulah yang bisa disebut sebagai mahasiswa sejati: sang intelektual, sang perubahan.

Semangat Berprestasi dan Berkontribusi (tindakan)
Motivasi atau semangat berprestasi merupakan faktor primer seseorang agar berhasil mencapai sesuatu. Hal ini didasarkan atas kesadaran pribadi yang akan menggerakan seseorang untuk melakukan tindakan. Mahasiswa dapat meraih prestasi tinggi jika ia mempunyai kesadaran tinggi yang dapat mendorong dirinya sendiri untuk meraih apa yang ia telah rencanakan. Kesadaran mencapai sesuatu dapat dicapai jika mahasiswa mampu memahami makna atau esensi keberadaannya di kampus dan kehidupan ini. Persepsi ini dapat dicapai mahasiswa dengan menyerap dan mengolah informasi dari lingkungannya (baca: kampus). Persepsi positif terhadap kampus dapat menumbuhkan semangat berprestasi. Mahasiswa yang mempunyai persepsi positif terhadap kampusnya mempunyai motivasi berprestasi yang jauh lebih besar kepada kampusnya untuk mengharumkan almamaternya.
Semangat berprestasi jika tidak diimbangi dengan semangat berkontribusi kepada almamater, masyarakat, dan bangsanya maka hanya akan menghasilkan mahasiswa – mahasiswa yang egois, egois dengan prestasi personalnya masing – masing. Karenanya, sikap kritis, peduli, dan peka terhadap kondisi di sekitar kita harus kemudian membawa penumbuhan motivasi beprestasi dan sekaligus berkontribusi utuk kejayaan dan kemajuan almamater, masyarakat, bangsa, dan negara. Semangat berkontribusi untuk membangun kejayaan almamater tercinta. Karena sejatinya, kampus, masyarakat dan negara ini tidak akan pernah menjadi apa – apa tanpa peran dari setiap kita yang kita berikan, sesuai dengan kemampuan, keahlian, dan kapasitas kita.
The worth of a state, in the long run is the worth of individuals composing it (John Stuart Mill). Jika kita ingin membangun sebuah negara yang besar dan berharga, maka negara itu harus berisikan oleh orang-orang besar dan berharga yang menyusun negara itu. Demikian pula dengan organisasi atau pun almamater dimana kita berada, setiap kita harus menjadi individu yang berkualitas dan berharga agar organisasi dan almamater yang kita cintai ini menjadi berkualitas dan berharga kelak. Setiap individu didalam almamater kita sangat menentukan seberapa berkualitas almamater kita.
Pada akhrinya, semua landasan berpikir dan bersikap mengenai sikap kritis, peka, dan peduli tidak akan pernah ada artinya jika itu hanya ada didalam kata – kata atau hanya tulisan belaka tanpa ada tindakan yang nyata untuk mewujudkannya. Jiwa dan pikiran yang sudah tersemai dalam diri harus diwujudkan dalam aksi nyata, sikap kritis yang membawa pada aksi praktis.
Kita belajar, berkontribusi karena kita cinta UNDIP …….
UNDIP JAYA!!!
HIDUP MAHASISWA!!!
Download file dalam bentuk pdf. disini

[1] Ketua BEM FPIK UNDIP 2010; Komisi Ahli Internal BEM KM UNDIP 2011, E-mail: panca.purnomo@gmail.com; Blog: http://www.pancagarden.blogspot.com

[2] Agus Dairo Beke. 2008. Pengaruh motivasi beprestasi mahasiswa, persepsi kompetensi dosen, dan sikap mahasiswa terhadap hasil belajar mata kuliah manajemen sumber daya mausia. Jurnal Bina Widya, volume 19, No. 3
[3] Bulletin al-Inqilaby. Mahasiswa Kini dan Nanti, http://www.dakwahmedia.com/suara-mahasiswa/mahasiswa-kini-dan-nanti.html
[4] Ridwan Wicaksono. 2011. Kesadaran Terhadap Esensi Organisasi Mahasiswa, http://www.okezone.com
[5] Zaldy Munir. 2010. Peran dan Fungsi Organisasi Mahasiswa, http://zaldym.wordpress.com/
[6] Zannuba Arifah Chafsoh Wahid. 2008. Membangun (Kembali) Kesadaran Kritis Mahasiswa, http://www.zannubawahid.com/
[7] http://www.republika.co.id/9611/16/16KRITIS.111.html
[8] Ahmad Asrof Fitri. 2011. Nalar Kritis Mahasiswa, http://m.suaramerdeka.com

5 komentar:

  1. Pak KaBEM Salam Mahasiswa. Subhanallah tulisannya luar biasa dan inspiratif. Izin menyadur tulisannya yah pak KaBEM. Untuk bahan referensi di beberapa materi BEM. Tenang pasti dicantumkan sumbernya. Terima Kasih atas materinya yang sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  2. Oh iya kak, mau tanya saya masih kurang paham dengan statement kakak yang
    "“outward looking” (melihat masalah atau fakta di dalam negeri dalam perspektif geo-politik, geo-ekonomi dan geo-kultural dalam konteks hubungan internasional, khususnya hubungan antara negara Dunia Pertama dan Ketiga)[6]"

    masih belum paham geo-politik itu apa dan bagaimana serta geo2 yg lainnya?. Trims kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks ya maya sudah berkunjung ke blog ini.

      itu sbenarnya saya sadur dari tulisannya Zannuba Arifah Chafsoh Wahid, yg menurut pemahaman saya artinya adalah kita harus bisa melihat masalah yang melanda negeri ini dg perpektif kondisi politik, ekonomi, dan budaya rakyat kita sendiri. Bukan melihatnya dg kacamata pemahaman luar/asing/barat. Karena kita punya kearifan politik, ekonomi, dan budaya lokal kita sendiri. Jadi, artinya, kita bisa melihat masalah dg kacamata luar dan dalam negeri shg pemahaman kita ttg masalah itu lebih komprehensif.

      Hapus
  3. bagus sekali ka tulisannya, izin untuk copas dan jadikan referensi ya ka. saya mahasiswa baru angkatan 2012, sedang mencoba untuk menjadi pribadi kritis dan peka terhadap masyarakat. Salam Mahasiswa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok. terimakasih kembali, semoga berguna ya....sukses, dan selamat belajar ^^

      Hapus

Read Also