Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Personally. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personally. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Desember 2021

Good bye 2021 & Wellcome 2022

2021 sudah mau habis, ayo kita evaluasi. 

Apa yang paling membuatmu bahagia di tahun 2021 ini?
Well, jujur, di tengah hantaman pandemi Covid, yang paling saya sukuri adalah sehat, baik itu sehat fisik, keuangan, maupun hubungan keluarga. Meski pernah kena Covid di awal tahun 2021, alhamdulilah gak lalu saya sembuh dan keluarga juga gak tertular. Meskipun Covid sempat meninggi di pertengahan tahun 2021, berita kematian dimana-mana, lalu ekonomi terpuruk, banyak perusahaan yang sulit, Alhamdulilah sekali, keluarga saya sehat dan secara finansial keluarga tetap masih bisa stabil. 

Apa yang paling kamu syukuri di tahun 2021 ini?
Saya bersyukur tahun 2021 ini pekerjaan saya stabil. Artinya saya bisa beradaptasi di lingkungan baru tempat saya bekerja. Saya bergaul dan berkomunikasi dengan baik dengan atasan saya, rekan kerja, dan tim saya. Menurut saya overall performance, tidak ada isu negatif yang berarti. Saya bersyukur punya atasan baru, meski belum pernah kerja dan kenal sebelumnya, yang sangat peduli pada karir, perkembangan, personal, dan kewarasan tim. Saya sering ngobrol dengan beliau, sehingga saya merasa bisa merasakan betapa pedulinya beliau dengan saya dan tim. Ini yang membuat saya kadang malu untuk banyak perhitungan. Menyelesaikan pekerjaan dengan benar dan memberikan kontribusi diluar job desc sebaik yg saya bisa merupakan hal yang akhirnya ingin saya lakukan. Saya gak boleh menyepelekan pekerjaan, lingkungan dan atasan sebaik ini. 

Ohya, 1 hal lagi yang sangat saya syukuri di tahun 2021 ini adalah kelahiran anak kedua kami. Saya & istri. Momen yang tak terlupakan mendampingi istri lahiran dari pagi sampai malam beserta campur aduknya perasaan nitipin anak pertama kami ke orang lain. Hal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Alhamdulilah, anak kedua kami lahir normal dan tumbuh dengan sehat. Keluarga kecil saya makin lengkap rasanya. 

Apa yang paling membuatnya kecewa di tahun 2021 ini?
Hemm, agak sulit sih menemukan ini ditengah betapa sangat bersyukurnya saya pada apa yang saya jalani di tahun 2021 ini. Tapi kalau dibandingkan dengan niat awal untuk melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, tahun 2021 ini yang mengecewakan adalah saya masih tertinggal jauh untuk menyelesaikan thesis saya. Sepertinya batas waktu yang diberikan sulit untuk saya kejar. Murni kesalahan ada pada saya, karena terlalu sering menunda-nunda. Sebenarnya, gak ada alasan gak punya waktu. Waktu berjibun sebenarnya, pekerjaan juga gak jadi alasan. Meski memang urusan pekerjaan gak ada habisnya, tapi sebenarnya kalau mengalokasikan waktu dengan serius, pasti akan selesai juga. Banyak waktu yang bisa digunakan untuk lebih produktif. 

Apa yang paling membuatmu sedih?
Kesedihan sebenarnya agak mendramatisir kalau buat saya. Karena emosi menurut saya sifatnya itu sementara. Sama seperti bahagia/senang, sedih juga kadang datang, hinggap sementara waktu di diri kita, lalu pada akhirnya akan pergi juga. Entah waktu atau ada emosi lain yang mengubahnya. Meski begitu, ada hal yang membuat saya berkaca-kaca sedih adalah saat orangtua istri saya meninggal. Pertama ayah, lalu disusul Ibu tak lama setelahnya. Mungkin sekitar 3 bulan setelah ayah meninggal karena sakit, ibu menyusul. Bahkan untuk ibu, meninggalnya tiba-tiba. Kita semua kaget dan sangat terpukul. Apalagi kami tidak bisa ke rumah orangtua karena pandemi lagi tinggi-tingginya serta anak kedua kami baru lahir. Saat memikirkan istri saya yg sudah kelihangan orangtuanya, membuat saya sering ingin meneteskan air mata sendiri. Betapa kasihan dia. Bagaimana jika itu menimpa saya? kadang saya berpikir begitu. Akhirnya, saya memohon pada Allah, semoga saya dan anak-anak bisa menjadi pelipur lara, penghapus kesedihan istri saya. 

Nah lalu apa yang menjadi resolusi di tahun 2022?
1. Sehat
2. Investasi
3. Lulus S2
4. Produktif membaca (target naik 30% dari jumlah buku yg selesai dibaca tahun 2021)
5. Olahraga
6. Kurangi marah-marahnya
7. Berkinerja sebaik-baiknya di pekerjaan

Yes, sepertinya itu dulu yang saya bisa pikirkan mengenai 2021 yang sebentar lagi selesai dan 2022 yang segera datang. 

Terimakasih untuk 2021 dan tetap OPTIMIS menyongsong 2022. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Sabtu, 05 Juni 2021

18 Mei 2021, Welcome on earth

Pagi itu, setelah sekian hari ditunggu-tunggu kapan kontraksi itu datang...akhirnya istri saya bilang perutnya mules. Saat saya berpikir untuk mulai merapikan perlengkapan saya untuk bekerja di rumah, saya cepat-cepat whatsup bos saya untuk minta ijin hari itu. 

Istri saya masih sempat beberes rumah; menyapu, merapikan kamar tidur, membersihkan toilet, dan melipat baju. Katanya nanti kalau pulang kerumah bawa dedek bayi, rumahnya sudah rapi dan nyaman. Baiklah, itu memang jadi kebiasaannya. 

Saya bersiap, meminta si kakak untuk merapikan diri juga dan akhirnya sekitar jam 8 pagi kami berangkat ke rumah sakit tempat kami biasanya melakukan kontrol kehamilan. 

Kami langsung menuju ruang IGD. Petugas meminta istri saya ke ruang rawat IGD. Saya pergi ke ruang administrasi bersama si kakak untuk mengurus pendaftaran dan sebagainya. Saya berusaha sabar dan tidak meluap-luap waktu itu, karena pengalaman saya yang ngurus administrasi di rumah sakit ini lelet dan bikin emosi. Setelah semua urusan administrasi selesai saya kembali ke ruang IGD. 

Hari menjelang siang dan kami dipindah ke ruang persalinan. Namuun sebelum pindah itu, ternyata covid ini membuat ribet, istri dan saya harus melalui test antigen dulu. Dan seperti biasa, proses administrasi utk sekedar test antigen lama sekali. Saya dioper sana sini. Itulah, saya coba untuk menahan mood saya sepanjang hari itu. 

Kata bidannya, berangsur-angsur pembukaannya makin besar dan mules-mules istri saya semakin sering. Di ruang persalinan, saya menunggu bersama si kakak. Tapi karena memang peraturannya hanya 1 orang yang boleh menunggu pasien, saya harus melobi security dan perawat agar anak saya diijinkan untuk sementara berada di kamar pasien. Akhirnya malam itu, saya titipkan si kakak ke temen sekaligus tetangga saya. Hati saya agak remuk sebenernya, anak saya selalu tidur bersama orangtuanya dan gak pernah bermalam dirumah siapapun. Tapi karena kondisi, apa boleh buat. 

Senin, 10 Mei 2021

What do you have when you are 25 ?

Apa yang kamu punya di usiamu yang ke-25?

Apa versi ideal seorang manusia di usia 25?


Well....saya gak tau darimana dan siapa yang memulai, tapi hari ini saya banyak membaca di social media khususnya LinkedIn dan Twitter orang membahas tentang usia 25. Pertanyaannya, "versi ideal seseorang di usia 25 tahun itu punya apa saja?". Ada yang bilang, saya gak tau ini siapa awalnya, di usia 25 seseorang itu seharusnya sudah punya duit minimal 100 juta, rumah & mobil. Dan pembahasan ini ramai sekali menarik diskusi, tentu ada yang pro & kontra. 

Saya gak pernah terlibat dalam obrolan di social media. Ya, saya hanya menikmati sebagai sumber berita saja dan agar tidak ketinggalan dengan kejadian-kejadian viral/trend masa kini. Saya minimal tidak kudet tentang apa yang terjadi pada para penduduk dunia maya. Karena itu, saya gak pernah ambil pusing apapun yang sedang viral untuk iku-ikutan berkomentar apalagi membagi-bagikannya. Saya selalu berpikir, hal seperti itu tidak ada faedahnya. 

Tapi yang membuat saya tergelitik ingin menulis mengenai "versi ideal 25 tahun" ini adalah karena setelah saya flash-back pada usia saya yang ke-25, saya jauh dari apa yang dibilang entah siapa itu tentang versi ideal usia 25 tahun. Ada akun seseorang yang sudah mendapat centang biru, dan saya pernah ketemu orang ini dalam suatu seminar, yang kata-katanya mendamaikan hati serta itu pula yang saya yakini. Kurang lebih ia bilang bahwa setiap manusia punya waktu dan masanya sendiri dan gak bisa dibanding-bandingkan. I am totally agree, and I strongly believe it too. 

Sabtu, 02 Januari 2021

Parno Covid-19

Semua hal yang berhubungan dengan Covid ini sejujurnya membuatku sedikit frustasi. Hidup kita jadi berubah total: bepergian dan keramaian menjadi sesuatu yang mahal dan asing. Bersin sedikit saja pikirannya sudah aneh-aneh. Virus yang tak kelihatan ini membuat kita takut, eh mungkin gak buat semua orang takut sih :).

Meski insyaAllah tubuhku sehat dan imunitas ku baik, aku juga sangat rajin cuci tangan dan kemanapun pakai masker. Aku selalu mengatur pikiranku untuk selalu waspada dan sesering mungkin cuci tangan serta tidak memegang area wajah. Aku coba atur otaku disiplin 3M. 

Aku punya keluarga: anak istri yang setia menanti dirumah. Aku terkadang khawatir juga dengan mereka seketika aku sampai rumah. Aku yg masih sering bepergian ini, apalagi ke Jakarta, jangan sampai membawa pulang virus ini dan membuat sengsara anak istri yang gak tau apa apa dan hanya dirumah saja. Apalagi istriku sekarang, ia lebih rentan ditengah kondisinya saat ini. Ya Allah lindungilah aku dan keluargaku dari virus covid ini. Bismillah. 

Karena aku baru pindah ke tempat kerja baru dan urusan handover pekerjaan, serta ingin lebih cepat engage dengan stakeholder divisiku maka hampir setiap hari aku pergi ke kantor. 

Beberapa Minggu lalu, tiba tiba sore aku dikasih tau atasanku jika ada orang dari divisi lain yang positif dan ia sehari sebelumnya wara wiri disekitar tempat kerjaku untuk suatu keperluan pekerjaan. Jadilah kami dipulangkan lebih cepat dan disuruh wfh hingga beberapa hari. Isolasi mandiri dan minum obat imunitas tubuh, itu instruksi dari kantor. Alhamdulillah aku tak kenapa kenapa, begitu juga dengan anggota tim yang lain. 

Beberapa hari lalu, atasanku langsung suaminya positif. Setelah swab test, atasanku dan anak-anaknya juga positif tapi kondisi tubuhnya stabil, gak ada gejala. Saya sempat makan siang bareng di kantin hari itu, buka masker dan duduk sebelahan. Tentu aku jadi parno. Sampai dirumah aku langsung mandi dan meminta anak istriku untuk jauh jauh dulu. 

Kondisi badanku sih baik baik saja, gak ngerasain apa yang aneh. Tapi terkadang pikiran parno muncul saat misal tetiba bersin, atau tenggorokan agak sakit. Zzzz, kita gak bisa lihat itu barang virus kecil, so sangat wajar kita khawatir berlebihan. We are dealing with unnormal things, and it's more horrible since we can't see it. 

Istriku aku bilang dikantor ada yg positif apalagi langsung melarang ini itu dan bawel ini itu. Wajar sih. Pagi pagi dah minta untuk aku olahraga, berjemur, dan minum health tone yg dari kantor. Bersin dikit langsung ditanya kenapa kok bersin. Malem malem bangun kebangun, bersin beberapa kali dan sedikit agak meler hidungnya, langsung ditanya kenapa kok pilek. 2 hari ini aku di rumah pakai masker. Aku hindari terlalu dekat area mukaku dengan orang dirumah. Aku minta semua alat makan dipisah. Just in case, untuk jaga jaga. 

But well aku masih merasa baik baik saja, gak ada masalah denga tubuhku. Semoga begitu terus selamanya. Tapi waspada itu ttp perlu kan. 

Covid ini sepertinya gak akan pernah bilang. Yg ada mmg kita diminta untuk adaptasi, karena mungkin ia akan seperti influenza selalu ada menjadi teman sakit manusia. Kita harus siap. InsyaAllah dengan ijinnya semua yg terjadi akan terjadi, tapi tawakal adalah usaha terbaik nomer 1 yg bisa kita lakukan. Demi kita dan keluarga kita sendiri. 

Makanya libur panjang ini ngapain?. Dirumah saja, gak usah kemana mana karena kesehatan keluarga lebih penting dari apapun. 


Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu