Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....

Jumat, 16 September 2016

Siapakah yang Paling Beruntung itu?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang masih memiliki kedua kaki, kedua tangan, dan seluruh anggota tubuh yang lengkap sehingga membuatnya tak tertatih tatih hanya sekedar untuk berjalan?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang masih dapat tidur di bawah atap rumah sementara ada manusia lain yang tidur didalam gerobak?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang masih memiliki seperiuk beras sementara ada manusia lainnya yang bahkan tak tau mau memasak apa esok pagi?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang selalu dapat makan malam bersama keluarganya, anak istrinya dirumah?Sementara ada diantara manusia yang harus merelakan malam malamnya habis di jalanan?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Iakah yang masih dapat memeluk manusia yang dicintainya, sementara ada ditengah manusia yang saling mencintai tak dapat bertatap muka untuk sekian lama?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Iakah yang disambut dengan senyuman dan ciuman hangat tepat saat membuka pintu?

Siapakah sebenenarnya manusia yang paling beruntung itu?
Iakah yang masih dapat menuliskan kata-kata ini, sementara yang lainnya tak sanggup lagi sekedar menulis? 

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Iakah manusia yang masih dapat membaca tulisan ini?.

Saya kira, manusia yang paling beruntung itu adalah ia yang tau untuk apa ia dilahirkan di dunia. Ya, beruntung lah ia yang mengetahui jawaban dibalik penciptaannya. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 11 September 2016

Pertanda?

Pernah aku baca rangkaian kata lebih indah dari ini,
Singgah dalam mimpi mimpi
Tidak merasakah ada yang ganjil?

Kata katamu ku rindui
Bayang bayangmu mengantui
Setiap malam
Tidak merasakah ada yang aneh?

Pertanda apakah ini

-Catatan Perjalanan Hidup-

Sabtu, 10 September 2016

Untukmu Nak #3

Halo Nak, bagaimana kabar kamu disana?. Ternyata, kamu sudah besar lho. Saat Ayah menuliskan tulisan ini, kamu masih dikandungan Bunda. Usiamu hampir 7 bulan. Kamu sudah bisa menendang perut Bunda. Perut Bunda bergerak gerak. Ayah suka menempelkan muka ayah ke perut bundamu. Geli dan lucu rasanya merasakan gerakan gerakanmu dari dalam sana. 

Ohya, ayah mau cerita. Dua minggu lalu, Bunda membawamu ke Ibu Dokter. Seperti biasa, tiap bulan Bunda membawamu ke klinik bersalin untuk sekedar kontrol dan mengetahui perkembangan terakhirmu. Saat perut Bunda diperiksa menggunakan alat USG namanya, ayah bisa melihat dengan jelas kepala dan tubuhmu. Meski masih didalam rahim bunda, teknologi kekinian sangat membantu melihat calon bayi. Entah nanti bagaimana saat kamu dewasa nanti. Teknologi pasti telah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan saat ini, 2016. 


Tak hentinya Ayah bersyukur melihatmu disana. Entahlah, perasaan itu tidak bisa dijelaskan. Seperti pecahan pecahan kembang api di malam hari. Percikan perasaan yang halus dalam hati, campur aduk. Ayah hanya bisa merinding dan berkaca-kaca. Saat wajahmu di foto, menurut bunda, wajah kamu mirip sama ayah. Hehe. Hidungmu mirip sekali dengan ayah katanya. Ayah tak terlalu peduli mau mirip siapa dirimu kelak, entah bunda atau ayah. Ayah hanya minta satu hal : kamu sehat dan normal. Itu saja.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku selalu berkata-kata dalam hati sendiri. Apakah aku akan siap menjadi seorang Ayah?. Bukankah tanggung jawab dan peran Ayah itu sungguh berat?. Bisakah aku? Layakkah aku?. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nak, semoga kamu tak pernah kecewa memiliki ayah sepertiku. Semoga aku dapat menjadi pahlawan pertama putraku, dan cinta pertama untuk putriku. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Tangan yang Mengepal Debu

Syair dikepala,
Kata kata puisi tertulislah
Melagu sendu dalam kalbu

Kembali pada lorong lorong waktu
Seperti tangan yang mengepal debu
Ada hijau, merah, kuning, hingga jingga dibalik mata
Ada pula merah muda

Di tempat duduk yang sama
Masih pada semburat senja di ujung cakrawala
Meluncurkan semua keresahan dan kegetiran
Tertulis pada ujung pena di atas kertas yang masih putih
Seperti tangan yang mengepal debu
Terbang kemanapun angin membawanya

Duduk menengadah langit ditengah dermaga
Kata kata, lebih bermakna dari setiap goresan tinta
Tentang masa dan waktu yang terbang melebihi jamannya
Melayang, kemanapun angin kan membawanya
Seperti tangan yang mengepal debu

Sekuat apapun mengepalnya,
Sela jari jari kan jadi jalannya untuk terbang
Seperti debu yang diterbangkannya
Seperti pikiran yang melayang terbawa waktu
Seperti sayap burung yang mengepak di tengah lautan sana
Seperti matahari yang melahirkan senja di batas samudra
Seperti kemesraan yang masih tersisa ditengah tiupan angin

Hiruplah udara pantai
Membebaskan
Melepaskan
Menghidupkan

Seperti tangan yang mengepal debu ...........

-Catatan Perjalanan Hidup-

Read Also