Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....

Minggu, 20 Agustus 2017

Untitled

Tulisan tulisan ini makin tak berarti....
Mengalir bagai tetes air di penghujung pagi...
Tiada lagi yang bisa kuberi...
Selain kesendirian dan kehampaan...

Air di mata ini pun telah sirna...
Berganti rasa tak peduli...
Bagaimana tidak...

Jika begini, kenapa dulu tidak bilang sejujurnya?. Bahwa hatimu masih terpatri dan tak bisa pergi...
Jika pada akhirnya, aku harus mengetahuinya...

Sudahlah..ini hampa dan sakitku kuberi untukmu.

-Catatan Perjalanan Hidup-

Sabtu, 25 Februari 2017

Pada Akhirnya Siapa Kita

Pada akhirnya siapa kita?. Lahir tanpa membawa apapun, mati pun sama. Bermula dari tiada, berakhir pun dengan tiada. Kita bukan lah siapa-siapa. Pada akhirnya, semua ini hanya kan menjadi sebuah cerita. Cerita yang telah tertulis di sebuah buku tebal, menggariskan nasib dan alur hidup setiap manusia. Semua ini hanya tipu muslihat, ruang kosong tanpa arti. Fatamorgana. Dimata terlihat, namun nyatanya tiada guna.

Semua akan berakhir sama. Apapun jalan yang dilalui, pada ujungnya sama. Ketiadaan juga. Kita terlahir seorang diri, dari satu inti sari. Saat matipun kita akan kembali sendiri. Saat lahir kita tak mengenakan apapun. Sandang, papan, kendaraan, perhiasan, jabatan, semua sirna tak ada arti. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 01 Februari 2017

Untukmu Nak#6

Hi Nak, meski hanya baru bisa melihatmu malam ini lewat layar handphone, ayah sudah cukup senang. Pengobat lelah terbaik sepulang dari bekerja adalah saat melihat senyum manis dan imutnya wajah anak. Itulah mengapa banyak ayah di dunia ini yang rela pergi pulang bekerja jarak jauh, karena setelah sampai rumah, seluruh peluhnya luruh seketika. Karena senyum dan lucunya suara anaknya. 

Dan perasaanku sama seperti jutaan ayah lain didunia ini. 





Ya, hadiah terindah di usia baru tahun ini adalah kamu, memang benar adanya. Melihatmu tersenyum, tertawa, tumbuh besar, adalah anugerah terindah dalam hidupku. Semoga hidup ini masih terberkahi untuk menyaksikan setiap jengkal pertumbuhanmu. 

Terimakasih untuk kado terindah darimu. Dan disini, aku ingin mengabadikan sejengkal demi sejengkal memori bersamamu agar suatu ketika aku, kamu akan lebih tau untuk menghargai sebuah makna kehidupan, kasih sayang, dan pengorbanan. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 25 Januari 2017

Pilihan Pilihan

Disini lagi. Tempat yang sama, untuk kesekian kalinya. Langit biru dengan gelayut warna biru dan putih. Awan-awan berarak lembut, seperti kapas yang berserak ditengah permadani biru nan jernih. Pagi ini, pinggir Ibu Kota nampak berseri dan ceria. Lalu pikiranpun melayang terbang, menangkap kepulan awan tentang : Apa yang membedakan antara muda dan tua?. 

Yang muda belum pernah tua, namun yang tua sudah pernah muda. Muda adalah ketika semua cerita tentang hidup seperti dalam buku dan novel romansa. Mengalir naik turun dengan hingar bingar dunia. Tak peduli apapun yang ada didepannya, diterjang ditendang, apapun yang penting sampai pada keinginannya. Sering waktu berjalan, perlahan, dunia tak seremeh kelihatannya. Banyak yang tak mampu masuk begitu saja dalam kepala. Perlu disaring dan dipilah. Sampai akhirnya, mana yang bisa dan yang tidak bisa diketahui, ditentukan, dan dipertahankan. 

Ini lah alur panjang sebuah hidup. Tua bermula dari muda, namun muda belum tentu awal dari tua. Ataukah mungkin dunia di luar sana yang membuat tua serumit itu? dan justru kebalikannya, muda sesederhana bayangannya. Ya, muda dilain hal, menggambarkan begitu banyak pintu tersedia, entah didepanmu, disamping, bahkan dibelakang. Ketika tua, pintu-pintu itu telah tertutup dengan sendirinya, dan saat kau sadar, ia telah tiada. Pintu baru selalu ada, tapi karena dunia luar sana membuat pintu itu nampak tak seremeh itu kelihatannya. 

************************************************

Seperti malam ini, saat seluruh tenaga telah habis untuk sebuah kata yang begitu mulia. Sebuah kewajiban yang dapat membawamu masuk ke surga. Berjalan gontai menyesuri temaram lampu malam, ditengah bisingnya suara ibu kota, dan hiruk pikuk manusia. Menyeret langkah demi langkah dan tepat malam hari ini, sehari sebelum sebuah entah keberhakan entah kesalahan bakal terjadi dalam catatan hidup umat manusia. 

Kemudian, tersadar bahwa tak ada yang begitu mudah menyerahkan segalanya bahkan kepada orang yang pernah kau janjikan segala-galanya. Ada akar, ada serabut, dan ada ranting-ranting yang tetap akan menahan dan menjagamu di tempat dimana kamu pernah tumbuh dan berkembang. Tak semudah itu dibanding saat kamu pernah berkata " Iya", "Aku bisa", apalagi membawa-bawa nama kodrat dan seharusnya. Akar-akar dan serabut itu akan terus menahanmu. Ia mengikat tanganmu, menggenggam erat kakimu, atau mungkin mencerabut pikiranmu dan meletakkan ditempat mereka untuk kemudian kaki, tangan, dan pikiranmu bergerak sesuai akar-akar itu. Tak akan mungkin, dan tak ada niat, untuk mengusir, menebas, atau memotong akar-serabut-ranting itu, karena begitulah kehidupan. Tanpa mereka, tak ada kehidupan itu sendiri. Bagaimana mungkin pohon tumbuh tanpa mereka?. Barangkali ini saat yang tepat untuk memberi pagar pada pohon itu, ditempat ia seharusnya, agar akar dan ranting tetap menjaganya tetap sehat dan hidup sebagaimana mestinya. 

Terkadang, kita tak harus melakukan apapun untuk hidup. Karena ternyata segala sumber kehidupan itu sudah ada didalam diri kita. Mungkin kita pernah salah mencari sumber penghidupan diluar sana, namun akar-serabut-ranting yang kita punya tetap setia menjaga kita. 

Biarlah begitu, karena malam ini malam yang bersejarah. Malam dimana kata-kata dan serangkaian peristiwa tak lagi mampu mengganggu. Saat minum kopi ini lebih terasa istimewa dibanding seteguk air surga sekalipun. 

Read Also