Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....

Selasa, 26 Juli 2016

Tunggu Saja

Di dunia yang serba digital ini, apa-apa yang kita lakukan, katakan, dan lain-lainnya dapat terekam dengan mudah dan rekamannya bisa saja tercecer dimana-mana. Kita begitu mudah mendokumentasikan apapun yang sedang kita lakukan dan dengan sengaja atau tidak, suatu hari, dokumentasi itu kita nikmati kembali. Entah dalam bentuk tulisan, percakapan, suara, gambar, bahkan video. 

Semua dokumentasi itu dapat muncul kapan saja, membawa semacam perasaan yang aneh. Sungguh. Entah bagaimana, rasanya terkadang kamu begitu bodoh bisa melakukan itu. Menyesal barangkali juga bisa. Tapi dulu, dokumentasi itu terjadi benar-benar adalah perkataan dan tindakan kamu. "Bagaimana mungkin dulu aku bisa berkata seperti itu?", "Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu?". Ahh banyak hal yang akan membuatmu terheran heran dengan masa sekarang saat kamu melihat dokumentasi masa lalu. Sunggu mengherankan. Belum tentu apa yang pernah kita katakan dan lakukan, sejalan dengan masa sekarang. Sedikitpun tidak. Belum tentu juga, masa dulu sama seperti yang dikatakan di masa sekarang. Manusia itu berubah. Waktu berlalu. Ahh, sungguh dunia ini begitu sangat aneh. 

Dulu bilang benci, sekarang bilang cinta. Dulu bilang rindu, sekarang bilang tak sudi. Dulu berkata kita, sekarang berkata aku. Dulu manis-manis, sekarang semuanya pahit atau sebaliknya. Waktu akan membuktikannya, dan pada saat kamu punya semua rekamannya, dan suatu hari membukanya kembali, kamu dapat tertawa sekeras-kerasnya. Karena sungguh, itu adalah peristiwa paling aneh dan mengherankan yang pernah kamu lalui. Terkadang kamu begitu bodoh masuk dalam pusaran peristiwa itu. Saat kamu bisa menertawakannya, disitulah letak kamu dapat berdamai dengan masa lalumu.  

Waktu mengubah manusia. Peristiwa dan pengalaman mengubah manusia, karenanya jangan pernah mengharap manusia akan seperti apa yang kamu bayangkan setiap waktu. Masa akan mengubah mereka. Mereka berubah. Sudah banyak buktinya. Tunggu saja.

-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 22 Juli 2016

Untuk Hati

Untuk hati yang terbolak balik
Untuk hati yang mampu membedakan baik dan buruk, 
Untuk hati yang bebas dari prasangka buruk,
Untuk hati yang lemah...

Maafkan atas semua yang pernah terucap
Entah karena prasangka, atau praduga
Demi Allah, ampuni ampuni ampuni jiwa manusia yang begitu lemah ini
Kuatkan hatinya. Bebaskan hatinya. Tegakkan hatinya kembali
Buatlah kini ia setegar karang 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Kamis, 21 Juli 2016

Cerita di Tengah Perjalanan

Ini adalah cerita tentang pemuda. Pemuda yang pernah menunggu gadis berkerudung biru di atas dermaga.  Waktu itu, gadis berkerudung biru datang menghampiri sang pemuda, sekedar untuk menyapanya dan mengatakan sebuah kalimat yang hingga kini masih menghantui si pemuda. "Maukah kamu melupakan masa lalu?", kalimat terakhir dari perjumpaan terakhir sang pemuda dengan si gadis itu. Di sebuah dermaga lusuh di pinggir pantai nan sendu. Di kala senja dan angin barat sedang musim-musimnya. Hingga kini kalimat itu masih terngiang di telinga sang pemuda, dan tak pernah kuasa ia mampu menerka apa makna dibalik kalimatnya. Sang pemuda hanya selalu berprasangka, jika ada masa lalu, kenapa ia harus dilupakan. Jika harus pula dilupakan, kenapa harus ada masa lalu. 

Tak pernah ada penjelasan, yang ia tunggu-tunggu, tak pernah juga ia datang kembali untuk sekedar menjelaskan apa maksudnya. Sudah sekian tahun, tak pernah ia coba untuk serius menghitungnya. Yang ada dalam kepalanya adalah "Lama". Ia pun tak pernah muncul kembali, hanya sesekali dalam mimpi yang semakin hari bukan lagi penuh pelangi dan biru-biru, namun seolah berubah menjadi hitam dan menyeramkan. Warna-warna itu berganti menjadi tak menentu. Wajah putih dan bersih itu berubah seperti saat melihat wajah sendiri pada cermin yang berembun: buram, kabur. 

Sang pemuda merebahkan tubuh pada tikar lusuh, yang hanya menjadi satu satunya alas tidurnya setiap malam. Ia meletakan kepalanya pada tumpukan pakain yang ia selimuti dengan kain lebar. Terasa empuk layaknya bantal. Ia tak punya kasur, hanya tikar plastik dan semen kasar nan keras yang jadi alas tidurnya. Ia tak menghiraukan itu, meski terkadang sesekali ia rasakan tulang punggung dan pinggangnya sakit-sakitan. Lemari pakain pun tak punya, hanya selimut dekil teman sang pemuda itu tidur setiap malamnya. Sudah hampir satu tahun pemuda itu menghuni rumah kosong di pinggiran kota. Ia ingin berhemat dari kejamnya kehidupan kota tua. Karena itu, ia memang memilih hidup seperti itu. Baginya sudah sangat laya, karena ia pernah hidup jauh lebih buruk dari itu. Rumah, tikar, alas kepala empuk, selimut, pakaian, adalah banyak benda yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya.

Selasa, 19 Juli 2016

Esensi

Saat manusia bahagia, ia sering lupa tentang duka yang pernah ia alami. Saat manusia dilanda kesedihan dan kesulitan, ia bakal lupa tentang kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah ia alami. Bahkan seringnya ia lupa tentang nikmat-nikmat hidup lain yang saat itu ia punya. Begitu mudah manusia lupa akan satu hal, saat hal lain terjadi pada hidupnya. Makanya, mungkin itulah sumber dari sebuah ungkapan "Jangan terlalu bahagia, dan jangan terlalu bersedih" karena dua-duanya sejatinya adalah dua hal yang sama. 

Tidak ada yang sungguh-sungguh nyata di dunia ini : Suka-Duka, Cinta-Benci, Tawa-Tangis, semuanya. Apapun yang manusia alami dan rasakan, itu sejatinya seperti fatamorgana. Saat manusia merasakan duka, sebenarnya ada suka disana. Sesulit apapun hidup yang manusia rasakan, pasti masih ada kebahagiaan di sisi lain yang seringnya tidak manusia sadari. Begitu juga sebaliknya, saat manusia bahagia, entah di sisi yang mana, manusia tengah dilanda  duka atau pun kecewa. Semua perasaan itu hanya temporer, sementara, dan semua itu bukan lah esensi. 

Disinilah letak seberapa baik manusia mampu mengendalikan hidupnya sendiri. Bahwa apapun itu, yang esensi bukanlah apa yang manusia rasakan dan pikirkan, karena esensi manusia itu adalah hidup itu sendiri. 

 
-Catatan Perjalanan Hidup-

Read Also