Judul itu saya ambil dari sebuah film yang pernah saya tonton. Saya menontonnya bukan di Bioskop atau DVD, saya menyaksikan film itu melalui smartphone saya via aplikasi "HOOQ".
Film itu memberi kesan cukup mendalam untuk saya. Seorang Will Smith yang tertatih tatih menjalani hidup, akhirnya ditinggal oleh istrinya karena ia tak sanggup hidup dalam keterbatasan. Will Smith tetap ngotot untuk mengasuh anaknya. Hidup yang berat ia jalani sehari-hari. Ia mengalami kesulitan menjual barang dagangannya, hutang makin mencekik dan tagihan sewa rumah tak bisa ia bayar. Akhirnya ia diusir dari apartmen-nya, pindah ke motel diusir lagi, hingga ia pernah tidur di toilet stasiun bersama anaknya. Aku turut meneteskan air mata saat melihat ia dan anaknya tidur di-toilet. Adegan yang sangat menyayat hati.
Untuk menekan pengeluaran, ia membawa anaknya berjualan barang kemana-mana. Saking gak punya uang, ia setiap malam mengantri untuk mencari gereja yang menawarkan tempat tidur dan makan kepada para gelandangan. Ya ia menjadi "homeless". Tak sanggup sewa rumah dan motel, ia tidur dari ruangan sempit ke ruangan sempit lainnya. Untuk mendapatkan ruang tidur sempit itu pun tak mudah, ia harus mengantri panjang dan bahkan berebut dengan yg lain.
Saya agak lupa narasi persisnya, saat ia benar-benar dibawah dan merana itu Will Smith sempat bilang dalam hati "Pendiri negara Amerika bilang setiap warga negara berhak untuk mengejar kebahagiaan, mungkin karena itu kebahagiaan tidak pernah kita capai, karena kita hanya berhak mengejarnya saja, bukan menggapainya-memperolehnya". Tetes air mata pun tak sanggup saya bendung saat mendengar suara hati Will Smith ini.