Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Personaly. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personaly. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Oktober 2020

Apa Layak Saya Tidak Bersyukur?

Hi again, 

Sekian lama tak menulis di blog ini karena entah keinginan untuk menulis itu kini tidak semenggebu dulu kala. Kehilangan target hidup?, hahaha...mungkin. Semoga jangan lama-lama males nulisnya ya. 

Saya menulis ini dini hari jam 03:30, setelah membaca doa terimakasih saya kepada Allah dan meminta kepadaNYA kelancaran dan kekuatan dalam menjalani hidup.

Apa ciri setan itu sukses menggoda manusia?. Ialah saat manusia tidak lagi bersyukur kepada Allah atas nikmat dan karunia yang manusia telah terima. Sifat manusia menjadi sama seperti sifat iblis dan setan yang tidak tau terimakasih dan sombong. 

Saya berdoa, semoga saya dan keluarga saya dijauhkan dari segala sifat sombong, angkuh, dan takabur kepada Allah swt. Semoga Allah selalu melindungi saya dan keluarga dari godaan setan dan menuntun kami ke dalam jalan yang lurus, jalan yang Allah ridhoi. 

Apa boleh saya tidak bersyukur dengan hidup saya saat ini?. Masih punya pekerjaan dan penghasilan rutin setiap bulan ditengah kondisi pandemik dan kelesuan ekonomi. Bayangkan orang diluar sana yang mau makan saja tidak ada pilihan dan masih berjuang mencari penghasilan. 

Punya istri dan anak yang alhamdulilah sehat, lalu apa layak saya tidak bersyukur?. 

Punya segala sumber daya yang dibutuhkan untuk disebut sebagai orang yang berkecukupan, dan apa pantas saya angkuh dan sombong kepada Allah?


Memikirkan apa yang saya miliki saat ini, serta mengingat doa-doa saya yang saya panjatkan dan perlahan-lahan keinginan saya mulai terwujud didepan mata, membuat saya takut sekali untuk takabur dan sombong kepada Allah. 

Dia yang telah memberikan semua ini kepada saya. 
Dia yang telah menuntun saya hingga saya sampai ke titik saya seperti sekarang. 
Dia yang memberi jalan terbukanya harapan-harapan baru di masa depan, yang satu per satu mulai kelihatan. 

Apakah saya punya alasan untuk menjadi manusia yang besar kepala dan sombong bahwa semua ini terjadi karena semata kemampuan saya?. Tidak ada sedikit pun bagi saya menjadi seperti itu. 

Alhamdulilah, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih. 

Hidup, mati, sholat, dan ibadahku hanya untuk Allah swt. Semoga IA selalu menjadi awal dan akhir dari setiap langkah perjalanan hidup yang saya lalui. 

Bismillah, semoga berkah rejeki saya untuk kebaikan di jalan Allah swt.  


-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 25 Mei 2020

TETAPLAH DIRUMAH KEKALMU

Kau mungkin bisa pergi kemana saja
Kau juga bisa menghilang selamanya
Kau bisa berubah jadi apapun
Kau menjadi siapa saja pun bisa

Namun ada satu hal yang tak pernah berubah dan hilang: MASA LALUMU

Ia selalu ikut kemanapun kau pergi
Ia bersamamu sampai kapan saja
Ia tak pernah berubah
Tak juga bisa kau ubah
Ia selalu ada disana, bersamamu

Karena sejatinya, kamu yang SEKARANG adalah kumpulan dari MASA LALUMU
Apapun bentuknya ia, entah hitam, putih, atau abu-abu
Ia yang membentukmu menjadi seperti saat ini

Seberapapun jauh kau berlari
Seberapa lama pun kau pergi
Setinggi apapun kau menjadi
IA menempel dalam dirimu

Kau tak pernah bisa mengusirnya
Kau tak bisa meninggalkannya
Seberapa pun kau berusaha
Sebenarnya IA tak pernah JAUH sekuat apapun kau menjauh
Sejatinya IA tak pernah hilang, sekuat apapaun kau menghilang

DIRIMU adalah IA
DIA adalah KAMU

Tak ada yang bisa kamu lakukan selain memeluknya, menggandengnya, memegang tangannya, dan berdamai bersamanya
Tak perlu kau risau tentang masa depan, selama kau bisa berdamai dan MENGENDALIKAN Masa lalumu
Masa LALU bukan untuk ditangisi, dan disesali,

Karena

Harimu adalah HARI INI, bukan KEMARIN atau BESOK


Terimakasih, kini aku baik-baik saja. Aku tak akan lagi mengganggumu dan demikian pun kamu. Tetaplah disana dan nikmati rumahmu yang baru dan kekal di : MEMORIKU.




-Catatan Perjalanan Hidup-

Selasa, 21 Januari 2020

ISTIQOMAH

Entah kutipan dari mana, lupa : 
> >>> "Pada awalnya semua orang bangga pada pilihanny.
> >>> Tapi pada akhirny tidak semua orang setia pada pilihannya.
> >>> Saat ia sadar bahwa yang dipilih mungkin tidak sepenuhnya seperti yang
> >>> diimpikannya.
> >>> Karena yang tersulit dalam hidup ini bukanlah memilih tapi bertahan
> >>> terhadap pilihan.
> >>> Sedikit waktu mungkin sudah bisa menentukan pilihan tapi untuk bertahan
> >>> bisa menghabiskan sisa usiamu. .
> >>> Satu kata untukmu sahabat ISTIQOMAH"

-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 15 Januari 2020

Kalau Kita Masih Bisa Memilih

Cara paling efektif mensyukuri hidup yg kita punya adalah dengan sering-sering melihat kebawah. Lihatlah orang lain yg gak seberuntung kita.

Kita masih bisa makan 3x sehari?. Jutaan orang diluar sana yg makan sekali saja sudah beruntung.
Kita masih tidur terlindung atap?. Jutaan orang diluar sana tidur digerobak dan beratap langit.
Kita masih bisa memilih baju?. Jutaan orang diluar sana gak perlu memilih, karena gak ada yg dipilih bajunya.
Apalagi kalau kita masih bisa memilih makan di restoran enak dan mahal, wah gak usah ditanya, seberuntung apa hidup kita di dunia ini.

Jika ditulis satu per satu disini, sungguh gak akan cukup.

Kalau kita masih bisa banyak memilih sebelum melakukan apa saja didunia ini, maka bersyukurlah. Karena gak banyak org yg bisa seperti kita.

So, be grateful, be blessed, and stay humble.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 24 Mei 2019

Pengalaman Is The Best Teacher

Ternyata yang diajarkan dari buku dan pelatihan gak segampang itu diimplementasikan. Kita memang perlu pengetahuan sebagai salah satu rujukan dalam membuat pendekatan dan keputusan tertentu. Tapi ada yang gak kalah pentingnya lagi adalah pengalaman. Pengalaman melakukan dan menghadapi sendiri.

Team. Banyak sekali buku dan pelatihan yang membahas efektifitas team. Tapi selesai membaca dan mengikuti pelatihan, gak semudah itu dalam mengimplementasikannya. Manusia, makhluk yang unik. Beda dengan robot. Perasaan atau emosional manusia berperan serta dalam efektifitas team. Baper istilahnya jaman sekarang. Faktor perasaan malah kadang porsi pengaruhnya paling besar dalam efektifitas team. Ini adalah faktor X dalam manajemen team. Apalagi Indonesia kan, orangnya masih banyak yang baperan...hehe.

So, the point adalah pengalaman akan membuat kita jadi lebih matang, dan dewasa dalam menghadapi banyak kondisi. Pengetahuan akan membuat kita lebih siap menghadapi situasi apapun karena kita sudah tau duluan teorinya. Tapi lagi-lagi pengetahuan tanpa pengalaman tidak berarti apa-apa, sedangkan pengalaman tanpa pengetahuan itu pincang.

Salam

-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 25 Maret 2019

Kamu Pernah Bertanya

Kamu pernah bertanya, gimana rasanya memilikimu?. Apa bedanya sebelum dulu dengan sekarang. 

Aku gak bisa menjelaskannya. Mungkin tak cukup membuatmu paham. 

Kalau kamu tetap ingin tau jawabannya, maka hidup tanpa memilikimu itu seperti :

Coba bayangkan kalau kamu berlari hanya dengan satu kaki. Pincang?. Ya begitulah rasanya tanpamu. 

Coba bayangkan bernafas dengan satu hidung. Sengal. Ya begitulah rasanya. 

Melihat dengan satu mata. Sempit?.  Ya itulah rasanya. 


Jangan pernah bertanya, gimana rasanya setelah memiliki pasanganmu. Karena ibarat fungsi bagian tubuh, tak akan pernah optimal tanpa pasangan yang satunya. Kata-kata tak akan pernah cukup untuk mendifinisikan pentingnya bagian dari tubuhmu sendiri. Kata "Sakit" bisa jadi kenyataannya bisa jauh lebih dari definisi kata itu sendiri. 

Sepatu kanan tak akan pernah sama lagi tanpa sepatu sebelah kirinya bukan?. Tanpa pasangannya, ia tak akan pernah sama lagi. Ya ia tetap sepatu, tapi makna dan artinya tak akan pernah sama. 

Meski kadang berjauhan, tapi kehadiran bagiannya yang lain akan menyempurnakan segalanya. 

Begitulah jawabanku kalau kamu nanti bertanya lagi. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 22 Maret 2019

Wajah yang Tak Sanggup Ku Lihat

Nak, demi kebahagiaanmu Ayah rela melakukan apa saja. Tak ada kata lain yang lebih membahagiakan selain melihat kamu ceria, tertawa, dan berlarian kesana kemari. Saat kamu sakit, sungguh ingin rasanya ayah saja yang mengalaminya.

Ayah pun tak sanggup melihat wajahmu takut, atau tangis. Maafkan aku, maafkan aku. Takut dari wajahmu tidak seharusnya ada disetiap malam-malam sebelum tidurmu. Usiamu yang masih belia ini tak seharusnya merasakan ketakukan, kesedihan, dan amarah. Tidak, tidak untuk saat ini.

Maaf, maafkan ayah. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik, apa sih guna orangtua selain untuk membesarkan dan membuat anaknya layak merasakan hidup yang lebih baik?. Apakah ayah sudah menjadi manusia seperti itu?.

Semoga waktu menghapus luka masa kecilmu, menghapus kesedihan, ketakukan, dan amarah-amarah itu. Ayah mungkin tidak bisa selalu melindungimu dari kecemasan itu, tapi Ayah ingin selalu kamu mendapatkan hal terbaik dari hidup ini. Kamu layak bahagia, kamu layak dicintai.

Ribuan kata maaf ini mungkin bisa menghapus wajah cemas dan takut yang pernah aku lihat dari wajahmu. Maafkan aku, kamu layak mendapatkan yang lebih baik.

Kamu layak mendapatkan yang lebih baik. Ya mungkin kami yang tak layak memilikimu. Maafkan aku ya Nak.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 19 Agustus 2018

Tentang Pahlawan yang Memperjuangkan Kemerdekaan Hidup Saya



Pernahkah kamu terbangun dari tidur, kemudian seketika berpikir “betapa beruntungnya hidup saya saat ini”. Saat kamu berjalan-jalan berkeliling kota misalnya, lalu kamu melihat sekelompok pekerja proyek konstruksi, seketika ada rasa syukur terbersit dalam pikiranmu “Beruntungnya hidup saya dibandingkan mereka”. Saat kamu melihat ribuan orang berjejal mengantri masuk sebuah acara Job Fair di Ibu Kota, kemudian seketika itu terbayang dikepalamu “Wow, beruntungnya saya saat ini”. Atau misalnya pernahkah kamu bertemu dengan teman-teman masa kecilmu, lalu berpikir seketika bahwa hidupmu jauh terasa lebih mudah dan “Alhamdulilah, nikmat mana di hidupmu yang kau dustakan”. Ya, saya seringkali berpikir hal semacam itu. Saya adalah satu dari sekian orang yang paling beruntung di dunia. 

Semua itu tidak lepas dari seseorang yang begitu berjasa dan berarti bagi hidup saya, yang telah mendorong saya meraih pendidikan. Pendidikan, bagi saya, mengantarkan kita pada kemerdekaan hidup yang sesungguhnya. Orang itu lah yang membawa kemerdekaan, membawa kehidupan. Tanpanya, saya tak akan pernah merdeka.

Beliau bukan terlahir dari keluarga kaya, disebut mampu pun tidak juga. Terlahir dari keluarga yang pas-pasan, keluarga petani kecil biasa di desa. Sama seperti kebanyakan orang di masa itu, untuk bertahan hidup Anda harus bekerja keras. Mengolah sawah yang tak seberapa, menjual apapun yang kau bisa, dan sekolah?. Ah lupakan. Waktu itu, hanya orang-orang yang beruntung dan bertahta yang memasukan sekolah dalam metode pengembangan anak-anaknya. Terlahir sebagai perempuan dan dari keluarga petani, sekolah hanya akan jadi beban. Pikir orangtuanya waktu itu.  Akhirnya, sekolah SD pun hanya sampai kelas 2, selebihnya hari-hari beliau habiskan untuk membantu orang tua; menafkahi keluarga. Membaca dan menulis bukan menjadi keahliannya hingga masa tua tiba. Beliau tak pernah punya ijasah sekolah. Beliau hanya tahu, kerja keras di sawah dan ladang adalah dan satu-satunya cara untuk memberi masa depan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Ia boleh tidak sekolah, tapi semua anaknya harus sekolah; setinggi-tingginya.

Sabtu, 25 Februari 2017

Pada Akhirnya Siapa Kita

Pada akhirnya siapa kita?. Lahir tanpa membawa apapun, mati pun sama. Bermula dari tiada, berakhir pun dengan tiada. Kita bukan lah siapa-siapa. Pada akhirnya, semua ini hanya kan menjadi sebuah cerita. Cerita yang telah tertulis di sebuah buku tebal, menggariskan nasib dan alur hidup setiap manusia. Semua ini hanya tipu muslihat, ruang kosong tanpa arti. Fatamorgana. Dimata terlihat, namun nyatanya tiada guna.

Semua akan berakhir sama. Apapun jalan yang dilalui, pada ujungnya sama. Ketiadaan juga. Kita terlahir seorang diri, dari satu inti sari. Saat matipun kita akan kembali sendiri. Saat lahir kita tak mengenakan apapun. Sandang, papan, kendaraan, perhiasan, jabatan, semua sirna tak ada arti. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 25 Januari 2017

Pilihan Pilihan

Disini lagi. Tempat yang sama, untuk kesekian kalinya. Langit biru dengan gelayut warna biru dan putih. Awan-awan berarak lembut, seperti kapas yang berserak ditengah permadani biru nan jernih. Pagi ini, pinggir Ibu Kota nampak berseri dan ceria. Lalu pikiranpun melayang terbang, menangkap kepulan awan tentang : Apa yang membedakan antara muda dan tua?. 

Yang muda belum pernah tua, namun yang tua sudah pernah muda. Muda adalah ketika semua cerita tentang hidup seperti dalam buku dan novel romansa. Mengalir naik turun dengan hingar bingar dunia. Tak peduli apapun yang ada didepannya, diterjang ditendang, apapun yang penting sampai pada keinginannya. Sering waktu berjalan, perlahan, dunia tak seremeh kelihatannya. Banyak yang tak mampu masuk begitu saja dalam kepala. Perlu disaring dan dipilah. Sampai akhirnya, mana yang bisa dan yang tidak bisa diketahui, ditentukan, dan dipertahankan. 

Ini lah alur panjang sebuah hidup. Tua bermula dari muda, namun muda belum tentu awal dari tua. Ataukah mungkin dunia di luar sana yang membuat tua serumit itu? dan justru kebalikannya, muda sesederhana bayangannya. Ya, muda dilain hal, menggambarkan begitu banyak pintu tersedia, entah didepanmu, disamping, bahkan dibelakang. Ketika tua, pintu-pintu itu telah tertutup dengan sendirinya, dan saat kau sadar, ia telah tiada. Pintu baru selalu ada, tapi karena dunia luar sana membuat pintu itu nampak tak seremeh itu kelihatannya. 

************************************************

Seperti malam ini, saat seluruh tenaga telah habis untuk sebuah kata yang begitu mulia. Sebuah kewajiban yang dapat membawamu masuk ke surga. Berjalan gontai menyesuri temaram lampu malam, ditengah bisingnya suara ibu kota, dan hiruk pikuk manusia. Menyeret langkah demi langkah dan tepat malam hari ini, sehari sebelum sebuah entah keberhakan entah kesalahan bakal terjadi dalam catatan hidup umat manusia. 

Kemudian, tersadar bahwa tak ada yang begitu mudah menyerahkan segalanya bahkan kepada orang yang pernah kau janjikan segala-galanya. Ada akar, ada serabut, dan ada ranting-ranting yang tetap akan menahan dan menjagamu di tempat dimana kamu pernah tumbuh dan berkembang. Tak semudah itu dibanding saat kamu pernah berkata " Iya", "Aku bisa", apalagi membawa-bawa nama kodrat dan seharusnya. Akar-akar dan serabut itu akan terus menahanmu. Ia mengikat tanganmu, menggenggam erat kakimu, atau mungkin mencerabut pikiranmu dan meletakkan ditempat mereka untuk kemudian kaki, tangan, dan pikiranmu bergerak sesuai akar-akar itu. Tak akan mungkin, dan tak ada niat, untuk mengusir, menebas, atau memotong akar-serabut-ranting itu, karena begitulah kehidupan. Tanpa mereka, tak ada kehidupan itu sendiri. Bagaimana mungkin pohon tumbuh tanpa mereka?. Barangkali ini saat yang tepat untuk memberi pagar pada pohon itu, ditempat ia seharusnya, agar akar dan ranting tetap menjaganya tetap sehat dan hidup sebagaimana mestinya. 

Terkadang, kita tak harus melakukan apapun untuk hidup. Karena ternyata segala sumber kehidupan itu sudah ada didalam diri kita. Mungkin kita pernah salah mencari sumber penghidupan diluar sana, namun akar-serabut-ranting yang kita punya tetap setia menjaga kita. 

Biarlah begitu, karena malam ini malam yang bersejarah. Malam dimana kata-kata dan serangkaian peristiwa tak lagi mampu mengganggu. Saat minum kopi ini lebih terasa istimewa dibanding seteguk air surga sekalipun. 

Minggu, 06 November 2016

Gak Masalah Apapun Jurusan Kamu

Masa depan itu gak ada yang tau. Hanya Tuhan yang tau gimana bakalnya masa depan kita. Bener banget deh kata kata ini. Kayak sebuah buku, orang gak akan bisa menebak lanjutan ceritanya sebelum ia membaca kata demi kata, lembar demi lembar isi buku itu. Kayak hidup ini pun begitu, kita baru akan tau cerita kehidupan selanjutnya saat kita menjalani hidup ini waktu demi waktu. 

Well, siapa yang bakal nyangka, aku kini bekerja di bidang Human Resources di sebuah perusahaan manufaktur?. Gak ada!. Aku pun juga, gak bakal mengira aku akan menggeluti dunia ke-HRD-an yang identik dengan mereka yang lulus dari jurusan Psikologi, Hukum, atau Manajemen. Hampir semua orang terkejud kalau tau aku bukan dari jurusan-jurusan itu. Pertanyaannya kok bisa?. Nah ini, aku pun gak terlalu paham bagaimana rencana Tuhan menggerakan ini semua. Bekerja di bidang yang tidak ada kaitannya dengan jurusan semasa kuliah memiliki banyak cerita tersendiri. Dari banyak cerita itu, kini aku sadar betul kalimat seseorang yang aku masih ingat sampai sekarang. Aku dengar kalimat ini ketika aku masih kuliah dulu. Intinya, jurusan tidak bisa menjadi tolak ukur akan menjadi apa kita kelak nantinya. Selama kita enjoy dan passionate di bidang yang kita sukai, meski tak sesuai dengan jurusan kita kuliah, go ahead, lanjutkan. Sehingga, selalu aku bilang jika jurusan apapun itu adalah bagus. 

Aku baru saja pindah perusahaan bulan Agustus lalu. Perusahaanku yang baru adalah perusahaan automotive, bikin mobil kerjasama antara US dengan China. Aku pengen nulis bagaimana beberapa perjalanan hidupku yang unik dan yang masih aku ingat dari seorang lulusan Sarjana Perikanan anak kampung, hingga sekarang bekerja di bidang HRD. 

Minggu, 23 Oktober 2016

Untukmu Nak#4 Semoga Bertemu Pada Waktunya

This morning I woke up and realized that soon I gonna be someone else. Someone who will have bigger responsibility to take care someone else in his shoulder. Grab my hand, and  don't  let it go. Never.

Gemerisik air yang membentur bumi terdengar seperti dentingan koin-koin yang terjatuh dari ketinggian. Berdenting naik turun, seperti orkestra alam yang sedang memainkan alunan musik didepan para penikmatnya. Aku terbangun dengan nafas tersengal. Aku mimpi aneh lagi malam ini. Masih pukul 3 pagi. Suara hujan diluar sana tidak cukup membuat tidurku nyenyak. Tidak cukup juga untuk membuatku kantukku kembali. Mataku sulit untuk aku pejamkan kedua kalinya. Aku menatap langit-langit kamar, tak ada apapun yang mampu kulihat, hanya gelap. Mimpi apa aku barusan tadi?, pikirku. 

Mimpi itu begitu aneh. Apa artinya?. Aku mengatur nafas dalam dalam, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanya sebatas mimpi, bukan bertanda apapun dari alam semesta. Aku mungkin terlalu khawatir dengan bab baru dalam kehidupanku yang akan berganti. Hidup itu seperti buku. Terdiri dari Bab demi Bab yang mana setiap Bab-nya memiliki cerita yang berbeda. Bab 1: kelahiran, Bab 2: Balita, Bab 3: Sekolah, Bab 4, Menikah:, dan seterusnya hingga Bab terakhir dari setiap kehidupan adalah kematian. 

Ya, dalam hitungan minggu aku akan membuka Bab baru dalam kehidupanku. Seringnya, kita selalu berharap alur cerita dalam sebuah buku akan seperti apa yang kita harapkan, bukan?. Seperti saat kita membaca sebuah novel. Bab-Bab berikutnya membuat kita penasaran, dan tak jarang kita berharap ceritanya seperti apa yang kita inginkan. Bahkan kita ingin menjadi jauh lebih berkuasa dari sang penulis buku itu sendiri, jika kita bisa. Bab selanjutnya adalah misteri. Jika kita sudah tau cerita dari Bab selanjutnya, apakah kita masih tertarik untuk membuka lembar demi lembar buku itu?. Bisa jadi tidak, ya kan?. 

Sabtu, 10 September 2016

Berlayarlah Kapal Kita

Ini adalah sebuah perjalanan mengarungi samudra. Berlayar meski bukan seorang pelaut. Samudra luas sampai ujung mata. Kapal telah mengambil sauhnya, bergerak perlahan ke tengah lautan lepas. Nahkoda dan awaknya bersiap, kencangkan peganganmu. Jangan tutup matamu, buka lebar-lebarlah karena pemandangan ditengah samudra ini kan jadi elok katanya. Lautan nan biru, senja menguning diujung cakrawala, lompatan gerombolan lumba-lumba, atau bahkan badai yang siap menerpa. Tak pernah ada kata kembali. Pelaut hanya akan kembali ke dermaga yang sama dengan membawa hasil. Tak pernah tangan kosong. Karenanya, hanya satu kata untuk perjalanan berlayar ini : "Nikmatilah". 

Perjalanan pelayaran ini untuk menemukan jawaban dari pertanyaan saat pertama melihat dunia. Pertanyaan yang sudah diberikan Tuhan kepada setiap manusia yang IA takdirkan hidup di bumi. "Untuk apa aku ada disini?". Mungkinkah hidup di dunia itu sebenarnya adalah sarana penebusan dosa?. Ingat bagaimana awal mula manusia diturunkan Sang Kuasa dari surga untuk menjalani kehidupannya di bumi?. Bermula dari dosa dan kesalahan yang dibuat Adam dan Hawa. Tuhan murka, dan memaksa mereka menjadi penduduk bumi. Hingga kini, turun temurun sampai kepada anak cucunya. Di bumi, Adam dan Hawa menjelajahi setiap jengkalnya dan tak pernah lepas dari kalimat tasbih dan permohonan ampun kepada Sang Maha Kuasa. Mereka bertaubat hingga pada akhirrya Tuhan pun mengampuni mereka. Sebagai bentuk balasan atas usaha penebusan dosa itu, Sang Maha Pencipta menjanjikan kehidupan surga kembali kepada manusia. Ya, janji itu tak cuma cuma, ada syaratnya. Syaratnya adalah : selama hidup di bumi, manusia harus selalu bertasbih dan memohon ampun kepada Sang Pencipta. Sudah ditentukan, dan begitulah seterusnya kehidupan manusia di dunia yang sementara ini. Jika manusia tak mampu melakukannnya, Sang Pencipta pun sudah memberikan balasannya : Hidup bersama iblis di neraka. Dan tak ada satupun yang tidak adil di dunia ini.

Sabtu, 03 September 2016

Racun Rindu

"Rindu barangkali semacam racun yang kita racik dari kesendirian kita yang sunyi, dari tempat yang jauh, dan hilangnya kesempatan untuk melihat senyum seseorang yang diantara jari-jemari, dari sebuah pesan yang terlambat masuk ke ponsel, dari percakapan yang tergesa-gesa dari apapun yang membuat kita nelangsa. 

Racun itu kemudian kita minum sendiri, membuat dada kita jadi lemah dan mata kita berair" 

(Fahd Pahdepie, "Jodoh"-hal. 80). 

Rindu, sebuah kata anekdot yang tak lagi aku ingat kapan terakhir aku mengucapkannya. Hingga tak sengaja mataku membentur rentetan buku dengan warna warni yang menyolok mata. Tergoda dengan judul dan elok sampulnya, akhirnya aku ambil buku itu "Jodoh". Cerita cinta anak kecil aku rasa setelah membaca beberapa baitnya, hingga lembar demi lembar aku baca pun tetap sama. "Ini cerita anak remaja". Sedikit berlebihan alias alai, ketika tau seorang anak SD menjabarkan cinta dengan bahasa orang dewasa. Geli?. Ya pasti, namun disisi lainnya, cerita lugu dan polos serta penggunaan bahasa sastra cinta seperti itu membuat rindu tentang masa masa merah jambu itu menyeruak. Sudah lama aku tak menikmati kalimat merah jambu itu, jadi biarlah sesaat aku nikmati kisah percintaan lebai di novel itu. 

Rindu itu tercipta dari sebuah jarak dan waktu. Jarak yang memisahkan antara kedua insan dan hati. Jarak tak selalu identik dengan jauh. Dekat pun dapat menimbulkan rindu, jika diantara jarak itu ada tembok besar yang tak mungkin runtuh dimakan waktu. Rindu timbul jika waktu tak mempertemukan dalam jeda yang panjang. Waktu dengan jeda pendek pun dapat mencipta rindu jika ada besarnya sebuah rasa. Rasa apakah itu?. Rasa cinta dan sayang. Ya hanya cinta dan sayang yang menjadi penyebab nomor satu rindu. Tanpa ada rasa itu, jarak dan waktu hanyalah kata tanpa makna. Tak ada artinya. Jarak dekat dan waktu singkat pun tak akan jadi penyebab rindu, jika sayang dan cinta pun tak ada. Percuma. Ya, biasa biasa saja. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 22 Juli 2016

Untuk Hati

Untuk hati yang terbolak balik
Untuk hati yang mampu membedakan baik dan buruk, 
Untuk hati yang bebas dari prasangka buruk,
Untuk hati yang lemah...

Maafkan atas semua yang pernah terucap
Entah karena prasangka, atau praduga
Demi Allah, ampuni ampuni ampuni jiwa manusia yang begitu lemah ini
Kuatkan hatinya. Bebaskan hatinya. Tegakkan hatinya kembali
Buatlah kini ia setegar karang 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Selasa, 19 Juli 2016

Esensi

Saat manusia bahagia, ia sering lupa tentang duka yang pernah ia alami. Saat manusia dilanda kesedihan dan kesulitan, ia bakal lupa tentang kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah ia alami. Bahkan seringnya ia lupa tentang nikmat-nikmat hidup lain yang saat itu ia punya. Begitu mudah manusia lupa akan satu hal, saat hal lain terjadi pada hidupnya. Makanya, mungkin itulah sumber dari sebuah ungkapan "Jangan terlalu bahagia, dan jangan terlalu bersedih" karena dua-duanya sejatinya adalah dua hal yang sama. 

Tidak ada yang sungguh-sungguh nyata di dunia ini : Suka-Duka, Cinta-Benci, Tawa-Tangis, semuanya. Apapun yang manusia alami dan rasakan, itu sejatinya seperti fatamorgana. Saat manusia merasakan duka, sebenarnya ada suka disana. Sesulit apapun hidup yang manusia rasakan, pasti masih ada kebahagiaan di sisi lain yang seringnya tidak manusia sadari. Begitu juga sebaliknya, saat manusia bahagia, entah di sisi yang mana, manusia tengah dilanda  duka atau pun kecewa. Semua perasaan itu hanya temporer, sementara, dan semua itu bukan lah esensi. 

Disinilah letak seberapa baik manusia mampu mengendalikan hidupnya sendiri. Bahwa apapun itu, yang esensi bukanlah apa yang manusia rasakan dan pikirkan, karena esensi manusia itu adalah hidup itu sendiri. 

 
-Catatan Perjalanan Hidup-

Sabtu, 16 Juli 2016

27 tahun!

Kapan sebenarnya hidup itu dimulai?. Ada orang mengatakan saat usiamu 17 tahun, ada pula yang berkata saat usiamu 25 tahun, bahkan ada yang mengatakan hidup yang sesungguhnya dimulai pada usia 40 tahun.

Banyak orang berbeda pendapat, namun bagiku, hidup dimulai di usia 27 tahun!. Ya, dari sinilah hidup yang sebenarnya dimulai. Selamat datang di kehidupan yang sebenarnya.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Kamis, 14 Juli 2016

Perantara Doa

Waktu adalah pedang pembunuh yang pada mata pedangnya dilumuri oleh bubuk penghilang rasa sakit. Saat ia menusuk dan mengiris tubuhmu, tak ada sedikitpun rasa disana. Namun setelah efek bubuknya hilang, kau akan merasakan nyeri dan sakit luar biasa.

Begitu dalam sebuah perasaan, hanya dapat terungkap dengan makna kata-kata. Kekuatan kata yang tak dipunya oleh barang apapun. Kata-kata pernah coba aku tulis untuk mengungkapkan dalamnya perasaan kepada wanita terbaik di dunia dalam tulisanku ini "Mamak". Membaca nya kembali seolah mendorongku masuk dalam pekatnya kenangan-kenangan. "Niat dan dalamnya rasa yang begitu besar untuk membahagiakan dan tak pernah ingin mengecewakan Mamak apakah akan sirna seiring waktu?".Terkadang bisikan-bisikan itu muncul saat apa-apa yang dilihat mata terasa memedihkan. Tidak ada anak yang ingin mengecewakan orangtuanya, aku yakin begitu. Apalagi menjadi sumber kekecewaan dan kesedihan bagi keduanya. Jikapun di alam lain orang tua dapat melihat dan turut merasa, suka dan duka sang anak akan turut menyertai mereka.

Untaian doa-doa terpanjat dalam hening, jikapun pernah ada kebaikan yang tercatat oleh malaikat, meski sebesar biji atom, semoga dapat menjadi perantara naiknya kata-kata itu ke atas, ke langit, dan bertahta disana. Hingga suatu ketika ada semburat cahaya atau derai hujan dari langit sebagai tanda terkabulnya doa-doa. Dalam hening dan khusuk hujan malam, ku berbisik-menatap langit : Dengarkan Ya Allah. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 13 Januari 2016

2016 : Menemukan Sepatu yang Hilang

2016. Angka yang akan jadi istimewa dalam sejarah hidup saya. Mengapa? karena diawal tahun ini, selain usia saya akan menjadi 27 *berasa tua ya, saya insyaAllah juga akan berubah statusnya *jeng jeng jeeeennggg. 

Sebelum ke perubahan status, saya singgung sedikit tentang usia. Sebentar lagi usia saya 27 tahun, yeeee lalalalalla. Apa yang kamu rasakan saat mengetahui kalau usiamu akan bertambah?. Campur aduk mungkin ya. Antara bahagia, sedih, bangga, galau bisa juga, dan lainnya. Bagaimana dengan saya?. Well, sejujurnya, saya takut. Iya, sungguh. Usia 27, tidak bisa disebut muda, tidak juga bisa disebut tua. Usia ini adalah usia saat seorang manusia menuju titik kematangannya. Pertanyaannya, sudah sematang itu kah saya?. Atau benarkah, saya sedang dalam proses kematangan hidup?. Entahlah, saya sendiri tidak yakin, apakah benar saya semakin matang dibandingkan saya 1,2, atau 3 tahun lalu yang mana usia saya masih di bawah 25 an. Mungkin, hanya orang lain yang bisa melihat outputnya. 

Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu