Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Professional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Professional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2024

Ciri tim Solid

Bagaimana sebuah tim terbentuk? Bagaimana membuat tim menjadi solid? Bagaimana proses tahapan pembentukan tim hingga akhirnya tim dapat menjadi tim yang kuat?

Bagi seorang manajer baru di dalam karirnya, di organisasi manapun, akan menghadapi masalah yang sama yakni tim. Manajer tidak menghasilkan output hasil kerjanya sendiri, melainkan melalui orang lain, yakni tim-nya. Tim yang kuat menjadi pondasi mutlak untuk menjadi manajer yang handal. 

Tim terdiri dari person yang berbeda, entah bisa jadi 1 orang saja atau bahkan lebih. Uniknya, person/manusia itu punya pikiran, hati, dan kemampuan yang berbeda. Menjadi manager hebat adalah menjadi pemimpin yang handal dalam menyatukan person yang unik, berbeda-beda tadi, kedalam 1 unit fungsi yang saling terhubung. 

Sudah hampir 4 tahun saya di perusahaan saya saat ini. Dari saat awal bergabung, hingga sekarang sudah begitu banyak output kerja tim saya, pun juga sudah banyak proses yang dilalui hingga bisa menjadi tim yang solid seperti sekarang. 

Tak terhitung sudah berapa orang keluar masuk di tim ini, tim yg salah satunya saya dan orang-orang seangkatan saya bangun. Kami bergonta ganti tim, hingga sekarang rasanya irama kerja dan visi sebuah tim itu benar-benar terasa. Ciri-cirinya apa tim itu bisa dibilang solid dan sehat? Berikut beberapa ciri-cirinya, menurtu saya:

- Voluntary resign relative kecil. Jika dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun tidak ada yang voluntary resign, in my opininion, tim itu solid. Resign dg sendirinya bisa terjadi karena beberapa faktor, salah satunya pasti karena kondisi tim dan atasannya. 
- Masing-masing person paham benar tugas dan tanggung jawabnya. 
- Setiap person deliver targetnya
- Setiap person saling support 
- Setiap person bisa saling tertawa, bercengkrama, dan suasana tim terasa hangat
- Sense of purpose dari tim bahwa mereka sedang mengerjakan sesuatu yang impactfull, bermakna, dan ada nilai/value-nya untuk bisnis dan organisasi

Itu ciri-ciri sebuah tim bisa dibilang sehat dan solid. Utk mencapai itu, pengalaman pribadi di perusahaan saat ini butuh waktu hingga setidaknya 2 tahun untuk dapat tim yang seperti itu. 

Kayak puzzle lego, bongkar pasang hingga mendapatkan potongan puzzle lego yang tepat. 

Bagaimana utk recruit orang dg tipe yang kita butuhkan untuk membangun tim yg solid?

Lets find out di post selanjutnya! 

Pdp


-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 29 November 2020

Babak Baru : Its hard to say goodbye

Langit gelap, hujan turun rintik rintik. Aku keluar dari gedung megah warna coklat itu menggendong tas dan menenteng goody bag kecil. Tas itu berisi penuh dengan kenangan-kenangan, sama seperti isi kepalaku selama masa yang aku bisa ingat. Hujan seperti biasa, turun sore itu, membasahi semua yang ada: taman, pepohonan, dan pelataran. Air membuat genangan di sana sini. Aku bergegas pergi,tak hirau dengan hujan rintik sore itu, dan sepatuku yang mulai basah karena genangan-genangan air sepanjang jalan. 

Sampai di pertigaan jalan menuju arah keluar, sudut jalan yang sangat aku kenal, tak terasa ada sesuatu yang keluar dari mataku. Dadaku terasa sesak, nafasku sedikit tersengal. Kemudian aku sadar, ya, aku menangis. Aku tetap berjalan, menunduk, dan tetes demi tetes air keluar dari sudut mataku. Aku biarkan, sengaja tak aku usap, biar mereka bersatu dengan tetesan air hujan yang masih setia menghampiri rambutku. Mereka bersatu, menetes bersama dipipiku. Mungkin mataku merah saat itu, entahlah. 

Aku hela nafas dalam-dalam, berharap sesak itu cepat berlalu. Bukan aku tak suka, bukan aku benci perasaan itu, aku cuma tak ingin terlalu lama susah bernafas. Aku masih harus berjalan beberapa menit hingga aku tiba ditempat parkir. Dadaku bergetar, ternyata sedalam ini sulitnya perpisahan. Perasaan yang sama saat aku melambaikan tangan perpisahan kepada keluargaku di desa Waya, 6 tahun lalu. Perpisahan, memang sesuatu yang tak pernah mudah.

Sulit bagiku mengutarakan apa yang aku rasakan sore ditengah hujan itu. Susah mengatakan "selamat tinggal" pada sesuatu dan pada orang-orang yang telah sekian lama menempel dalam setiap aktifitasmu. 

Ya, 4 tahun lebih aku membuat banyak cerita bersama perusahaan ini, bersama orang-orangnya, ruang meeting, ruang kerja, loby, kantin, gedung coklat nan megah itu, dan taman-taman hijau disekelilingnya. Semua membentuk bayangan-bayangan dalam memori, dan membuat jaring-jaring kenangan yang menggenggam kuat isi kepalaku. 

Saat aku pertama tiba di lokasi dimana aku bekerja, semua masih tanah kosong. Saat hujan seperti sore itu, tanah coklat menjadi lengket dan senang menempelkan diri pada sepatu siapa saja yang lewat, ban motor dan mobil pun juga. Kini, tanah itu diatasnya telah berdiri bangunan yang megah, kokoh sekaligus indah dan asri. 

Selasa, 30 Juni 2020

Memperbaiki Profil Diri Sendiri

Hi, selamat pagi

Setelah selesai jadi Pengajar Muda awal tahun 2014, saya pulang ke kampung halaman dengan niat untuk rehat sejenak sembari melamar pekerjaan. Saya berharap dapat panggilan secepatnya dan tidak terlalu lama di kampung. Saya sering datang ke salah satu perguruan tinggi swasta di Purworejo agar bisa menikmati fasilitas wi-fi, karena saya butuh untuk melamar pekerjaan. Saya perbaharui CV saya, saya melamar pekerjaan lewat berbagai media, aktif mencari iklan lowongan kerja di internet, dan menelusuri website Career Centre Perguruan Tinggi negeri ternama untuk mencari tau event job fair, atau pun lowongan kerja.

3 minggu berlalu, dan tak ada progress apapun. Saya sejujurnya waktu itu sudah mulai frustasi dan khawatir. Saya pun akhirnya mengontak teman saya yang magang di BNI, mananyakan apakah masih bisa magang juga disitu. Apapun bentuknya, yang penting saya sibuk, pikir saya waktu itu. Akhirnya saya berangkat ke Jakarta, tinggal di rumah kakak, dan magang selama 4 bulan di BNI. Selama magang saya melamar kerja kemanapun yang saya bisa. Pun ternyata gak segampang itu juga dapat kerja. Jurusan dan bidang kerja yang saya minati memang tidak nyambung, itulah mungkin kenapa saya sulit mendapatkan panggilan. Saya pernah juga mengikuti seleksi MT atau semacamnya itu disalah satu perusahaan. Saya mendaftar lewat jobfair di Universitas Indonesia. Itu pun saya tidak lolos. Saya sering gagal di psiko-test. IPK saat S1 saya tergolong tinggi: 3,82, tapi saya tidak pernah merasa saya itu cerdas. Beda ya antara cerdas dan pintar. Saya harus belajar dengan giat dan rajin untuk mendapatkan nilai bagus. Saya punya banyak teman yg sekali mendapatkan materi dari dosen dia langsung paham, sedangkan saya harus belajar dan mendalami secara serius baru saya paham dan ingat. Saya pernah juga dipanggil interview untuk posisi HR officer di salah satu perusahaan media yg cukup ternama. "IPK kamu segini, kenapa kamu gak jadi PNS atau dosen saja?", itu kata si HR-nya. Ya jurusan dan IPK saya mungkin gak terlalu menarik bagi HR untuk menerima saya sebagai tim-nya. Saya tau sejak awal, passion saya jika tidak di akademik ya di bagian HR. Saya gak patah semangat waktu itu. Saya apply kemana saja tiada henti.

Jumat, 21 Februari 2020

Jangan Baper

Jangan baper kalau kerja.

Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sama seperti hubungan dengan pasangan, sifatnya dinamis. Selama melibatkan manusia, gelombang hubungannya akan naik atau turun, seperti gelombang air. Dinamis, tidak statis.

Jika hubungan dengan tim sangat erat dan dekat, gak usah kaget jika suatu ketika hubungan itu bisa renggang dan tegang. Karena misalnya, sebagai atasan kita harus kejar target atau deadline, kita jadi sering mengingatkan bawahan kita tentang pekerjaan, meminta hasil pekerjaan dengan buru-buru, dan mengontrol hasil kerja berulang-ulang. Kondisi seperti ini pasti sangat tidak nyaman, tapi tak bisa terelakan.

Atau misalnya, kita merasa tidak sejalan dengan pikiran dan rencana atasan kita. Kita ajukan pendapat, tapi tak diterima. Kita sempat berdebat, ujungnya perintah atasan tak bisa kita tolak. Setelah itu, mungkin hubungan atasan-bawahan jadi tegang dan kikuk.

Hal seperti ini tidak bisa ditolak, selama melibatkan orang lain. Hubungan akan ada riak-riaknya.

Itu wajar, itu normal.

Yang paling penting dari itu semua adalah jangan bawa perasaan. Selama itu menyangkut hubungan kerja profesional, jangan masukan kedalam hati. Perbedaan pendapat itu biasa, pendapat kita ditolak, itu biasa, rencana kita tidak dipakai itu biasa, kadang kita diomelin atasan itu biasa, rekan kerja kita gak supportif itu biasa, bawahan kita ngambek dan terkadang lamban itu biasa. Yang gak biasa, jika bawahan sudah dikasih tau berkali-kali tapi tetap tidak berubah, nah ini baru perlu dibina.

Terkadang kita di-bully, di-ceng-ceng-in karena sesuatu entah fisik, warna kulit, muka, perilaku agar dibuat bahan lelucuan itu pun jangan dimasukan dalam hati. Jangan emosi, apalagi pakai hati.

Terkadang kita harus memainkan permainan jungkat jungkit. Ketika hasil kerja yang dititikberatkan, maka hubungan dengan orang lain akan mengendor, ketika hubungan dengan orang lain yang lebih diutamakan maka hasil kerja bisa jadi mengendor. Ada akibat dari tindakan apa yang kita pilih. Sulit utk benar-benar ada ditengah-tengah dengan hasil yang maksimal.

Itulah seninya mengelola hubungan antar manusia di tempat kerja. Seni sekaligus keterampilan. Yang bisa dipelajari semua orang.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 15 Januari 2020

Motivasi Internal Vs Eksternal

Dalam hubungan kerja, salah satu fungsi leader adalah memastikan timnya mencapai tujuan yg telah ditentukan. Dalam mencapai tujuan tsb, ada faktor motivasi atau keinginan sehingga membuat seseorang bergerak untuk menyelesaikan tugas, tanggung jawabnya demi tercapainya hasil. Faktor leader dalam hal memotivasi timnya, adalah faktor motivasi eksternal. Apapun metode yg digunakan leadernya, itu semua adalah faktor eskternal entah reward, punishment, POAC, dll, itu semua adalah ekternal faktor. Namun, ada satu lagi sumber motivasi yg tidak kalah penting, yakni motivasi internal.

Motivasi internal adalah motivasi yg sumbernya dari dalam diri sendiri. Orang yg memiliki motivasi ini tidak lagi mengharapkan reward, pengakuan, atau pujian dari atasan bahkan orang lain untuk mencapai tujuannya. Dia hanya ingin meraih kepuasan dan kematangan intelektualitas.

Dari kedua motivasi ini, menurut saya, motivasi internal lah yg paling besar pengaruhnya terhadap pencapaian seseorang. Apapun jurus yg dipakai leader atau bahkan organisasinya untuk meningkatkan motivasi seseorang, selama motivasi internalnya lemah, maka kecepatan dan result-nya ya akan begitu2 saja.

Motivasi internal itu lahir dari dalam, yakni keinginan untuk mengaktualisasikan diri, keyakinan tentang visi dan cita-cita pribadi, keinginan untuk menghasilkan pekerjaan sebaik-baiknya, dan keinginan untuk menciptakan karya. Motivasi ini tidak ada hubungannya dg lingkungan, siapa atasan, siapa tim dan organisasinya.

Seberapa kuatkah pengaruh motivasi internal ini dalam pekerjaan kita?. Atau apakah selama ini kita masih bekerja karena faktor eksternal: takut omelan atasan, ketakutan kehilangan jabatan, bonus, dll?.

Jika kita sebagian besar faktor yg menggerakan diri kita adalah karena eksternal, kita ibarat lari sprint. Stamina tinggi tapi cepat loyo. Jika faktor yg berpengaruh paling besar itu adalah motivasi internal, maka kita ibarat pelari maraton. Stamina stabil dan tetap terjaga dari awal sampai akhir berjam-jam.

Mana yg ingin kita pilih?.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 25 November 2019

Mereka yang Telah Selesai dengan Dirinya Sendiri

"Seorang yang sukses adalah mereka yg telah selesai dengan dirinya sendiri", saya lupa siapa dan dimana persisnya saya pertama mendengar kalimat ini. Sepertinya saat pembekalan pelatihan intensif Pengajar Muda. Saya pun lupa persis kalimatnya, atau hanya intisari dari pidato seseorang, tapi kini kalimat ini begitu melekat dikepala saya.

Sekian tahun waktu itu berlalu, saya gak pernah "ngeh" dengan makna kalimat itu. Kalimat itu hanya berlalu begitu saja sekian tahun ini, bahkan saya gak ingat pernah mendengarnya.

Semakin dewasa seseorang, semakin bertambah usianya, semakin banyak pahit manis kehidupan yg ia rasakan. Semakin matanglah ia secara emosional dan sosial.

Namun hanya mereka yg bisa menghadapi manis pahit kehidupan dengan sempurna ketika ia benar-benar sudah selesai dengan lingkaran terkecil kehidupannya. Benar apa yg disampaikan kepada saya beberapa tahun lalu. Saya yakin itu dari Pak Anies, Gubernur DKI sekarang, dan seorang pendiri Indonesia Mengajar statusnya 6 tahun lalu.

Ia bisa mengatakan itu, saya yakin karena pasti ia sudah mengalaminya sendiri dan mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya.

Kalau kita ngomongin masalah dunia kerja, semakin tinggi posisi dan pengaruh seseorang, semakin berat beban profesionalnya. Ia akan menghadapi tekanan yg lebih besar, dinamika tim yg lebih luas, dan tanggung jawab mengelola target perusahaan yg makin membesar. Kondisi ini membutuhkan kematangan personal dan sosial yg baik dari seseorang.

 Kondisi personal datang dari dirinya sendiri dan lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Termasuk menurut saya adalah kadar keimanan dari hasil ibadah seseorang itu. Jika kondisi ini baik, kematangan personal yg berpengaruh terhadap performan di tempat kerja pun biasanya akan baik. Gak jarang saya mendengar cerita bahwa ada seseorang yg kinerjanya buruk karena faktor personal termasuk keluarga yg berantakan. Saya yakin Pak Anies dulu ngomong pesan yg diawal tadi karena ia merasakan itu. Ia matang secara personal, dari ibadahnya kepada Tuhan dan ia punya support maksimal dari lingkaran terdekatnya. Bagaimana seseorang bisa memimpin dg baik, jika dirinya dan keluarganya aja kacau balau. Ya kan?. Kehidupan personalnya seakan baik-baik saja. Saya bukan pengagum garis kerasa atau bahkan menjagokan dirinya ya, tapi itulah yg saya lihat. Ini faktor yg sangat besar dalam mendukung seseorang telah selesai dengan dirinya sendiri atau belum.

Selain faktor kematangan personal, kematangan sosial pun menjadi faktor seseorang sudah selesai dengan dirinya sendiri atau belum. Bagaimana hubungannya dengan saudara-saudaranya, dengan tetangga, dan kelompok masyarakat?. Jika ia bisa bersosialisasi dengan baik, berkontribusi dg baik pada lingkungannya, maka ia bisa dikatakan matang secara sosial.

Sukses seseorang telah matang dilihat dari bagaimana "menurut saya" ia menghandle dinamika personal dan sosialnya, maka semakin besar kemungkinannya dia akan sukses di karir profesionalnya.

Bagaimana ia bisa memimpin dan mengelola orang lain, lha wong mengelola diri sendiri dan keluarganya aja dia gak mampu?. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 14 Juni 2019

Boss Relationship

Ada seorang teman yang bercerita kepada saya bahwa ia ingin mengajukan permohonan rotasi kepada atasannya. Saya tanya kenapa?. Jawabannya simpel; ia tidak cocok dengan atasannya. Tidak cocoknya karena apanya, saya balik tanya. Karena kepribadian atasannya yang ia tidak sukai. Contohnya itu atasannya serius, kaku, keras, dan jarang ngajak ngobrol, lalu katanya suka nembak langsung kesalahan didepan umum saat rapat. Rekan saya ini ingin lepas dari tim atasannya dan pindah ke tim yang lain, yang menurutnya leader di tim itu lebih bisa mengayomi dan ramah. 

Pernah gak merasakan hal seperti ini?. Well, saran saya kepada teman saya ini adalah fokuslah pada faktor yang bisa kita kontrol. Faktor external yang tidak bisa kinta kendalikan, lupakan saja. Faktor yg tidak bisa kita kendalikan itu adalah kepribadian orang lain. Jelas kita tidak mungkin meminta orang lain berperilaku persis seperti yang kita inginkan, tapi kita bisa membuat orang lain memperlakukan kita seperti yang kita harapkan caranya?. Perlakukanlah orang lain seperti harapan mereka ingin diperlakukan. 

Setiap leader pasti punya tipe pendekatan sendiri dalam mengelola tim dan personilnya. Mereka punya ekspetasi, cara komunikasi, cara pengendalian, dan cara mengevaluasi. Nah, tugas kita sebagai bawahan, dan ini faktor yg bisa kita kendalikan, adalah memenuhi ekspektasi atasan kita. 

Terlepas dari kemampuan kepemimpinan dan pengelolaan tim seorang atasan, fokuslah pada kemampuan diri sendiri untuk menangani berbagai macam situasi. Kita tak akan pernah bisa selalu bertemu atasan yang sesuai harapan kita. Ada kalanya kita punya atasan yang positif diarea sini, tapi kurang diarea lainnya. Akan selamanya begitu. Kecuali kita jadi pengusaha lah, kita punya bisnis sendiri, nah kita gak perlu namanya atasan. Selama kita jadi karyawan, pegawai, hubungan atasan-bawahan akan selalu ada. Dan tugas kitalah sebagai bawahan untuk beradaptasi. 

Agar sukses dalam dunia kerja, faktor yang penting dikuasai oleh seseorang adalah membangun hubungan yang positif kepada atasan berdasarkan kepercayaan dan tanggung jawa. Jangan dimaknai membangun hubungan dengan atasan ini artinya menyenangkan atasan, menjilat, menjelekan yang lain, dan cara-cara yang kurang etis lainnya. Makanya, saya katakan membangun hubungan positif dengan atasan dengan berlandaskan kepercayaan dan tanggung jawab. Hubungan yang positif dengan atasan kita akan memberikan pengaruh yang positif pula terhadap perkembangan dan karir kita di dunia kerja. 

Jumat, 24 Mei 2019

Pengalaman Is The Best Teacher

Ternyata yang diajarkan dari buku dan pelatihan gak segampang itu diimplementasikan. Kita memang perlu pengetahuan sebagai salah satu rujukan dalam membuat pendekatan dan keputusan tertentu. Tapi ada yang gak kalah pentingnya lagi adalah pengalaman. Pengalaman melakukan dan menghadapi sendiri.

Team. Banyak sekali buku dan pelatihan yang membahas efektifitas team. Tapi selesai membaca dan mengikuti pelatihan, gak semudah itu dalam mengimplementasikannya. Manusia, makhluk yang unik. Beda dengan robot. Perasaan atau emosional manusia berperan serta dalam efektifitas team. Baper istilahnya jaman sekarang. Faktor perasaan malah kadang porsi pengaruhnya paling besar dalam efektifitas team. Ini adalah faktor X dalam manajemen team. Apalagi Indonesia kan, orangnya masih banyak yang baperan...hehe.

So, the point adalah pengalaman akan membuat kita jadi lebih matang, dan dewasa dalam menghadapi banyak kondisi. Pengetahuan akan membuat kita lebih siap menghadapi situasi apapun karena kita sudah tau duluan teorinya. Tapi lagi-lagi pengetahuan tanpa pengalaman tidak berarti apa-apa, sedangkan pengalaman tanpa pengetahuan itu pincang.

Salam

-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 13 Maret 2019

Initiative adalah Koentji!

Inisiatif adalah kata yang menjadi sangat familir buat saya saat mengikuti pelatihan jadi seorang Pengajar Muda. Waktu itu, inisiatif adalah bak kata dewa dan suci bagi kami karena salah satu kompetensi kunci seorang Pengajar Muda. Inisiatif artinya adalah melakukan sesuatu tanpa diminta orang lain atau sebelum orang lain. Dan ternyata, sampai kini satu kata ini memang benar-benar sakti. 

Kenapa? Karena semakin lama, saya melihat di team manapun saya bekerja, yang membedakan antara top performer dengan average performer adalah, salah satunya, adalah kekuatan inisiatif ini. Seberapa inisiatif kah seseorang dibandingkan orang lain, maka semakin baiklah ia dalam berkontribusi diteam dan semakin bertambahlah ia dimata superiornya. Ini adalah faktor kunci bagi Anda, bagi kita jika ingin sukses di dunia kerja. Kita harus lebih punya : Inisiatif.

Saya bersyukur, karena pernah di-gembleng dalam suasana pelatihan yang mengagungkan inisiatif, dan akhirnya ketika diterjunkan disuasana kerja sebenarnya, saya berusaha menjadi orang yang "se-inisiatif" mungkin. Melihat peluang, menganalisa, lalu mengusulkan dan melakukan sesuatu tanpa orang lain minta atau bahkan tanpa disuruh siapapun termasuk atasan. Sifat itu semakin terpatri dalam diri saya, dan tercermin dalam tindakan-tindakan saya di dunia kerja. 

Alhamdulilah didunia kerja profesional saya saat ini, saya pernah mendapatkan kesempatan untuk di-promosikan naik jabatan oleh atasan saya dan ketika saya bercermin diri, satu faktor kunci dari dalam diri saya adalah inisiatif. Pun di tempat bekerja saya sekarang, saya mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan lagi karena salah satu faktornya adalah inisiatif ini. Ketika saya punya anggota dalam tim pun, inisiatif adalah salah satu faktor nyata yang membedakan anggota tim bagus dan anggota tim hebat. Anggota tim yang hebat pasti memiliki inisiatif yang hebat pula, dan berhasil membuat superiornya "Surprise", "Woow", "Aha", dan akhirnya "Terimakasih ya". Anggota tim yang seperti ini akan ditandai oleh superiornya, dan akan jadi andalan lalu peluang untuk melejit lebih cepat pun bisa dicapai. 

Selasa, 05 Maret 2019

Grit

Saya baru saja menyelesaikan buku karya Angela Duckworth yang berjudul "Grit : The Power of Passion & Preseverance". Saya melihat video beliau ini berbicara di forum TEDX dan membahas secara singkat dan padat tentang Grit. Storytelling beliau sangat mempesona, seperti kebanyakan pembicara di TEDX yang lain. Lalu di website Periplus, toko buku online, muncul buku Grit sebagai salah satu best seller. Tanpa pikir panjang, saya pun membelinya. 

Saya cukup tertarik dengan apa yang beliau sampaikan karena cukup mewakili apa yang saya alami dan rasakan. Saya tidak tau apakah ada kata dalam Bahasa Indonesia yang tepat untuk mewakili"Grit". Grit dalam Bahasa Inggris artinya adalah gabungan antara daya tahan untuk memperjuangkan sesuatu dan kecintaan terhadap apa yang ia lakukan. Bukan cuma tentang usaha, atau hanya "passion" saja tapi gabungan antara keduanya. Dan, kenapa mewakili saya?. Karena saya yakin benar dari sejak saya kuliah dulu bahwa kita bisa menjadi dan meraih apapun jika kita memang berusaha. Benar apa yang beliau paparkan ditulisannya, berdasrakan riset yang beliau lakukan sendiri, kesuksesan seseorang bukan tergantung dari talent atau potensinya, melainkan lebih banyak disebabkan karena "effort" atau usaha yang terus menerus dalam jangka panjang. Saya meyakini ini dari dulu, dan buku ini membuktikannya secara ilmiah. 

Apa yang saya alami saat ini mungkin sebagai salah satu contohnya. Setiap orang pasti akan mengernyitkan dahi ketika tahu latar belakang jurusan saya. Saya adalah alumni jurusan perikanan yang bekerja sebagai seorang praktisi di dunia HRD. Pun demikian, saya mampu menunjukan kinerja dan kontribusi positif kepada pekerjaan, tim, dan perusahaan dimana saya bekerja. Kenapa jurusan dan pekerjaan saya gak nyambung sama sekali?. Apa yang membuat saya bisa "nyemplung" di pekerjaaan saya saat ini?. Apa yang memotivasi saya untuk serius di bidang HR?. Membaca buku itu, membuat saya manggut-manggut setuju, karena itu yang saya rasakan. 

Rabu, 09 Januari 2019

Growth Mindset

Baru sampai kantor, duduk, check HP, dan membaca tag foto beberapa halaman buku yang sedang dibaca oleh istri saya tentang "parenting". Saya gak terlalu ingat persisi judul bukunya, tapi yang pasti buku itu membahas tentang parenting-nya orang Denmark. Ya, Denmark dikenal sebagai negara dengan kualitas pendidikannya yang sangat bagus, selain Singapura & Finlandia. Selain itu, masyarakat Denmark terkenal dengan indeks kebahagian warganya yang tinggi. Apa rahasianya?

Tag foto halaman buku dari istri saya itu, kembali memberi insight kepada saya, bahwa memuji anak hanya berdasar prestasi/hasil saja akan cenderung menjadikan anak manusia yang tak tahan banting, hanya akan menjadi percaya diri saat berhasil dan berprestasi, sulit menerima kegagalan dan kesulitan. Padahal jika boleh kita renungkan sepanjang perjalanan hidup kita, apakah hidup itu memberi hal-hal yang kita senangi saja?. Tidak!. Hidup justru memberi banyak hal yang tidak kita suka: kegagalan, kemacetan, tekanan, kesedihan, dan banyak lagi. Ketika kita memuji anak kita, jangan hanya saat ia berhasil atau berprestasi saja, melainkan lihat dari disi usaha-nya. Hargailah lebih pada proses, pada usahanya, bukan pada hasil-nya. Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi manusia yang tidak takut gagal, dan tidak mudah menyerah serta kehilangan kepercayaan diri ketika gagal.

Selain dari sisi ilmu parenting tersebut, ada kalimat di dalam buku itu yang ada kaitannya dengan dunia bisnis dan organisasi. Kalimat tersebut adalha mengenai Growth Mindset, bunyinya begini  "Orang dengan pola pikir berkembang (growth mindset) lebih baik dalam beradaptasi untuk bekerja sama dalam tim dan menyelesaikan tantangan tanpa stress". Kalimat ini menyadur sebuah artikel yang dimuat di New York Times. Organisasi masa kini lebih menyukai merekrut tipe orang seperti ini, agar organisasi diisi oleh manusia yang tahan banting, lihai dalam beradaptasi, dan pantang menyerah, serta tidak mudah stress. 

Kamis, 22 Maret 2018

Ahli dan Praktisi

Betul kata orang bijak bahwa semakin kita belajar, maka semakin kita tidak tahu. 

Jadi ceritanya begini. Aku sedang diminta untuk mengerjakan suatu project. Project ini belum pernah aku lakukan sebelumnya. Meski sering mendengar dan membaca artikel bebas sesekali mengenai project ini, aku belum pernah hands-on secara langsung. Aku belum cukup memiliki kemampuan atau keahlian dalam hal ini. Aku pun mulai membaca referensi terkait project ini, selain tentunya dijelaskan lisan oleh superiorku. Entah ini mungkin memang bawaan. Aku gak pernah puas kalau hanya mendengar penjelasan orang. Aku harus baca sendiri kitab sucinya, aku harus membaca sendiri buku panduannya. Apalagi di dunia kerja ini, jika tidak diimbangi membaca buku referensi, kita hanya tau pelaksanaannya saja. Jika kita hanya tau pelaksanaanya saja, maka kita disebut sebagai pelaksana. Untuk jadi seorang praktisi, kita harus tau dan paham teorinya sekaligus implementasinya. Banyak juga buku diluar sana yang mengajarkan teori panjang lebar, tapi gak praktis alias gak ada panduan cara menerapkannya. Aku ingin jadi ahli dan praktisi, jujur saja. Makanya, selain harus mengimbangi dengan membaca buku, aku pun memang suka membaca. Meski waktu tak banyak tersisa, tapi sesekali aku sempatkan untuk membaca kalimat demi kalimat dan aku renungkan dan endapkan maknanya. 

Jadilah aku search sana sini mencari beberapa buku referensi yang gak cuma ngomong teori berbusa busa tapi juga praktikalnya di dunia organisasi yang nyata. Toh aku ini kan ujungnya praktisi, bukan ilmuwan. Aku juga nanya sana-sini di beberapa group WA yang isinya ahli-ahli dibidang-nya. Banyak pencerahan dan jawaban dari apa yang selama ini aku sedikit tau mengenainya. Semakin aku ikuti, semakin aku baca, semakin aku renungkan...ya itu kembali ke kalimatku di paling atas "Aku merasa gak tau apa-apa". Kemana saja aku selama ini?. Apakah aku ini hanya robot yang hanya kerja dan kerja saja?.  Berangkat pagi pulang sore, hanya melakukan rutinitas sama yang hanya didasarkan pada target dan uraian job desc?. Aku disadarkan kembali tentang esensi bekerja dan berkarya. 

Senin, 19 Maret 2018

Coping with Stress

Hari menjelang sore dan mata sudah agak penat menatap layar laptop. Seharin ini berkutat menulis dan berimajinasi tentang proyek-proyek yang harus dikerjakan dan diselesaikan. Kepala mulai senut-senut karena terlalu banyak menatap monitor. Perlu refresh otak dan mata terlebih dulu.

Aku keingat pernah download beberapa e-book menarik seputar pekerjaan. Jadilah aku pengen sekalian belajar, nambah wawasan sembari mencari inspirasi. Ada artikel menarik tentang bagaimana menangani stress, dan tetiba aku senyum-senyum sendiri karena mikir " Yeah, aku kayaknya pernah ada di fase-fase kayak gitu". Kemudian aku berpikir, yes I did survive, buktinya aku masih hidup sampai sekarang masih dalam mentally psikally health. I guess soo 😁

Merujuk dari artikel "Coping With Stress" tulisannya Naomi Soto, dkk yang entah aku lupa dapat dari mana artikel itu, menjelaskan secara ringkas dan praktis bagaimana menangani stress. Tapi ada hal dasar yang harus diketahui, yakni tentang apa itu stress dan sumbernya. Si penulis bilang begini " What is stress?. Everyone has stress. Stress is your body’s response to a change or difficult situation. It is a natural response". Semua orang pasti punya stress. Karena stress itu adalah respon alamiah ketika tubuh menghadapi perubahan atau situasi yang sulit.  Misalnya ketika kita harus pindahan rumah. Banyak barang yang harus dikemas, dirapikan, dipindahkan dst. Hal itu membuat kita stress. Semakin banyak orang mengalami stress, hal-hal kecil bisa membuat perubahan yang signifikan. Jadi lebih mudah marah, tersinggung, dan lain lain. Penyebab stress ini disebut stressor. Perubahan dalam hidup kita dapat menjadi stressor. Misalnya saat kita barus lulus kuliah, melamar pekerjaan sana sini belum dapat. Yang awalnya ada kesibukan, menjadi tidak. Ini menyebabkan stress. Apalagi putus cinta, di-PHK, hutang yang belum lunas dan lain lain.

Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu