"Blessed are those that can give without remembering and receive without forgetting"
Pages
Rabu, 06 November 2024
Ciri tim Solid
Minggu, 29 November 2020
Babak Baru : Its hard to say goodbye
Langit gelap, hujan turun rintik rintik. Aku keluar dari gedung megah warna coklat itu menggendong tas dan menenteng goody bag kecil. Tas itu berisi penuh dengan kenangan-kenangan, sama seperti isi kepalaku selama masa yang aku bisa ingat. Hujan seperti biasa, turun sore itu, membasahi semua yang ada: taman, pepohonan, dan pelataran. Air membuat genangan di sana sini. Aku bergegas pergi,tak hirau dengan hujan rintik sore itu, dan sepatuku yang mulai basah karena genangan-genangan air sepanjang jalan.
Sampai di pertigaan jalan menuju arah keluar, sudut jalan yang sangat aku kenal, tak terasa ada sesuatu yang keluar dari mataku. Dadaku terasa sesak, nafasku sedikit tersengal. Kemudian aku sadar, ya, aku menangis. Aku tetap berjalan, menunduk, dan tetes demi tetes air keluar dari sudut mataku. Aku biarkan, sengaja tak aku usap, biar mereka bersatu dengan tetesan air hujan yang masih setia menghampiri rambutku. Mereka bersatu, menetes bersama dipipiku. Mungkin mataku merah saat itu, entahlah.
Aku hela nafas dalam-dalam, berharap sesak itu cepat berlalu. Bukan aku tak suka, bukan aku benci perasaan itu, aku cuma tak ingin terlalu lama susah bernafas. Aku masih harus berjalan beberapa menit hingga aku tiba ditempat parkir. Dadaku bergetar, ternyata sedalam ini sulitnya perpisahan. Perasaan yang sama saat aku melambaikan tangan perpisahan kepada keluargaku di desa Waya, 6 tahun lalu. Perpisahan, memang sesuatu yang tak pernah mudah.
Sulit bagiku mengutarakan apa yang aku rasakan sore ditengah hujan itu. Susah mengatakan "selamat tinggal" pada sesuatu dan pada orang-orang yang telah sekian lama menempel dalam setiap aktifitasmu.
Ya, 4 tahun lebih aku membuat banyak cerita bersama perusahaan ini, bersama orang-orangnya, ruang meeting, ruang kerja, loby, kantin, gedung coklat nan megah itu, dan taman-taman hijau disekelilingnya. Semua membentuk bayangan-bayangan dalam memori, dan membuat jaring-jaring kenangan yang menggenggam kuat isi kepalaku.
Saat aku pertama tiba di lokasi dimana aku bekerja, semua masih tanah kosong. Saat hujan seperti sore itu, tanah coklat menjadi lengket dan senang menempelkan diri pada sepatu siapa saja yang lewat, ban motor dan mobil pun juga. Kini, tanah itu diatasnya telah berdiri bangunan yang megah, kokoh sekaligus indah dan asri.
Selasa, 30 Juni 2020
Memperbaiki Profil Diri Sendiri
Jumat, 21 Februari 2020
Jangan Baper
Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sama seperti hubungan dengan pasangan, sifatnya dinamis. Selama melibatkan manusia, gelombang hubungannya akan naik atau turun, seperti gelombang air. Dinamis, tidak statis.
Jika hubungan dengan tim sangat erat dan dekat, gak usah kaget jika suatu ketika hubungan itu bisa renggang dan tegang. Karena misalnya, sebagai atasan kita harus kejar target atau deadline, kita jadi sering mengingatkan bawahan kita tentang pekerjaan, meminta hasil pekerjaan dengan buru-buru, dan mengontrol hasil kerja berulang-ulang. Kondisi seperti ini pasti sangat tidak nyaman, tapi tak bisa terelakan.
Atau misalnya, kita merasa tidak sejalan dengan pikiran dan rencana atasan kita. Kita ajukan pendapat, tapi tak diterima. Kita sempat berdebat, ujungnya perintah atasan tak bisa kita tolak. Setelah itu, mungkin hubungan atasan-bawahan jadi tegang dan kikuk.
Hal seperti ini tidak bisa ditolak, selama melibatkan orang lain. Hubungan akan ada riak-riaknya.
Itu wajar, itu normal.
Yang paling penting dari itu semua adalah jangan bawa perasaan. Selama itu menyangkut hubungan kerja profesional, jangan masukan kedalam hati. Perbedaan pendapat itu biasa, pendapat kita ditolak, itu biasa, rencana kita tidak dipakai itu biasa, kadang kita diomelin atasan itu biasa, rekan kerja kita gak supportif itu biasa, bawahan kita ngambek dan terkadang lamban itu biasa. Yang gak biasa, jika bawahan sudah dikasih tau berkali-kali tapi tetap tidak berubah, nah ini baru perlu dibina.
Terkadang kita di-bully, di-ceng-ceng-in karena sesuatu entah fisik, warna kulit, muka, perilaku agar dibuat bahan lelucuan itu pun jangan dimasukan dalam hati. Jangan emosi, apalagi pakai hati.
Terkadang kita harus memainkan permainan jungkat jungkit. Ketika hasil kerja yang dititikberatkan, maka hubungan dengan orang lain akan mengendor, ketika hubungan dengan orang lain yang lebih diutamakan maka hasil kerja bisa jadi mengendor. Ada akibat dari tindakan apa yang kita pilih. Sulit utk benar-benar ada ditengah-tengah dengan hasil yang maksimal.
Itulah seninya mengelola hubungan antar manusia di tempat kerja. Seni sekaligus keterampilan. Yang bisa dipelajari semua orang.
-Catatan Perjalanan Hidup-
Rabu, 15 Januari 2020
Motivasi Internal Vs Eksternal
Motivasi internal adalah motivasi yg sumbernya dari dalam diri sendiri. Orang yg memiliki motivasi ini tidak lagi mengharapkan reward, pengakuan, atau pujian dari atasan bahkan orang lain untuk mencapai tujuannya. Dia hanya ingin meraih kepuasan dan kematangan intelektualitas.
Dari kedua motivasi ini, menurut saya, motivasi internal lah yg paling besar pengaruhnya terhadap pencapaian seseorang. Apapun jurus yg dipakai leader atau bahkan organisasinya untuk meningkatkan motivasi seseorang, selama motivasi internalnya lemah, maka kecepatan dan result-nya ya akan begitu2 saja.
Motivasi internal itu lahir dari dalam, yakni keinginan untuk mengaktualisasikan diri, keyakinan tentang visi dan cita-cita pribadi, keinginan untuk menghasilkan pekerjaan sebaik-baiknya, dan keinginan untuk menciptakan karya. Motivasi ini tidak ada hubungannya dg lingkungan, siapa atasan, siapa tim dan organisasinya.
Seberapa kuatkah pengaruh motivasi internal ini dalam pekerjaan kita?. Atau apakah selama ini kita masih bekerja karena faktor eksternal: takut omelan atasan, ketakutan kehilangan jabatan, bonus, dll?.
Jika kita sebagian besar faktor yg menggerakan diri kita adalah karena eksternal, kita ibarat lari sprint. Stamina tinggi tapi cepat loyo. Jika faktor yg berpengaruh paling besar itu adalah motivasi internal, maka kita ibarat pelari maraton. Stamina stabil dan tetap terjaga dari awal sampai akhir berjam-jam.
Mana yg ingin kita pilih?.
-Catatan Perjalanan Hidup-
Senin, 25 November 2019
Mereka yang Telah Selesai dengan Dirinya Sendiri
Sekian tahun waktu itu berlalu, saya gak pernah "ngeh" dengan makna kalimat itu. Kalimat itu hanya berlalu begitu saja sekian tahun ini, bahkan saya gak ingat pernah mendengarnya.
Semakin dewasa seseorang, semakin bertambah usianya, semakin banyak pahit manis kehidupan yg ia rasakan. Semakin matanglah ia secara emosional dan sosial.
Namun hanya mereka yg bisa menghadapi manis pahit kehidupan dengan sempurna ketika ia benar-benar sudah selesai dengan lingkaran terkecil kehidupannya. Benar apa yg disampaikan kepada saya beberapa tahun lalu. Saya yakin itu dari Pak Anies, Gubernur DKI sekarang, dan seorang pendiri Indonesia Mengajar statusnya 6 tahun lalu.
Ia bisa mengatakan itu, saya yakin karena pasti ia sudah mengalaminya sendiri dan mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya.
Kalau kita ngomongin masalah dunia kerja, semakin tinggi posisi dan pengaruh seseorang, semakin berat beban profesionalnya. Ia akan menghadapi tekanan yg lebih besar, dinamika tim yg lebih luas, dan tanggung jawab mengelola target perusahaan yg makin membesar. Kondisi ini membutuhkan kematangan personal dan sosial yg baik dari seseorang.
Kondisi personal datang dari dirinya sendiri dan lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Termasuk menurut saya adalah kadar keimanan dari hasil ibadah seseorang itu. Jika kondisi ini baik, kematangan personal yg berpengaruh terhadap performan di tempat kerja pun biasanya akan baik. Gak jarang saya mendengar cerita bahwa ada seseorang yg kinerjanya buruk karena faktor personal termasuk keluarga yg berantakan. Saya yakin Pak Anies dulu ngomong pesan yg diawal tadi karena ia merasakan itu. Ia matang secara personal, dari ibadahnya kepada Tuhan dan ia punya support maksimal dari lingkaran terdekatnya. Bagaimana seseorang bisa memimpin dg baik, jika dirinya dan keluarganya aja kacau balau. Ya kan?. Kehidupan personalnya seakan baik-baik saja. Saya bukan pengagum garis kerasa atau bahkan menjagokan dirinya ya, tapi itulah yg saya lihat. Ini faktor yg sangat besar dalam mendukung seseorang telah selesai dengan dirinya sendiri atau belum.
Selain faktor kematangan personal, kematangan sosial pun menjadi faktor seseorang sudah selesai dengan dirinya sendiri atau belum. Bagaimana hubungannya dengan saudara-saudaranya, dengan tetangga, dan kelompok masyarakat?. Jika ia bisa bersosialisasi dengan baik, berkontribusi dg baik pada lingkungannya, maka ia bisa dikatakan matang secara sosial.
Sukses seseorang telah matang dilihat dari bagaimana "menurut saya" ia menghandle dinamika personal dan sosialnya, maka semakin besar kemungkinannya dia akan sukses di karir profesionalnya.
Bagaimana ia bisa memimpin dan mengelola orang lain, lha wong mengelola diri sendiri dan keluarganya aja dia gak mampu?.
-Catatan Perjalanan Hidup-
Jumat, 14 Juni 2019
Boss Relationship
Jumat, 24 Mei 2019
Pengalaman Is The Best Teacher
Team. Banyak sekali buku dan pelatihan yang membahas efektifitas team. Tapi selesai membaca dan mengikuti pelatihan, gak semudah itu dalam mengimplementasikannya. Manusia, makhluk yang unik. Beda dengan robot. Perasaan atau emosional manusia berperan serta dalam efektifitas team. Baper istilahnya jaman sekarang. Faktor perasaan malah kadang porsi pengaruhnya paling besar dalam efektifitas team. Ini adalah faktor X dalam manajemen team. Apalagi Indonesia kan, orangnya masih banyak yang baperan...hehe.
So, the point adalah pengalaman akan membuat kita jadi lebih matang, dan dewasa dalam menghadapi banyak kondisi. Pengetahuan akan membuat kita lebih siap menghadapi situasi apapun karena kita sudah tau duluan teorinya. Tapi lagi-lagi pengetahuan tanpa pengalaman tidak berarti apa-apa, sedangkan pengalaman tanpa pengetahuan itu pincang.
Salam
-Catatan Perjalanan Hidup-
Rabu, 13 Maret 2019
Initiative adalah Koentji!
Selasa, 05 Maret 2019
Grit
Rabu, 09 Januari 2019
Growth Mindset
Kamis, 22 Maret 2018
Ahli dan Praktisi
Senin, 19 Maret 2018
Coping with Stress
Aku keingat pernah download beberapa e-book menarik seputar pekerjaan. Jadilah aku pengen sekalian belajar, nambah wawasan sembari mencari inspirasi. Ada artikel menarik tentang bagaimana menangani stress, dan tetiba aku senyum-senyum sendiri karena mikir " Yeah, aku kayaknya pernah ada di fase-fase kayak gitu". Kemudian aku berpikir, yes I did survive, buktinya aku masih hidup sampai sekarang masih dalam mentally psikally health. I guess soo π
Merujuk dari artikel "Coping With Stress" tulisannya Naomi Soto, dkk yang entah aku lupa dapat dari mana artikel itu, menjelaskan secara ringkas dan praktis bagaimana menangani stress. Tapi ada hal dasar yang harus diketahui, yakni tentang apa itu stress dan sumbernya. Si penulis bilang begini " What is stress?. Everyone has stress. Stress is your body’s response to a change or difficult situation. It is a natural response". Semua orang pasti punya stress. Karena stress itu adalah respon alamiah ketika tubuh menghadapi perubahan atau situasi yang sulit. Misalnya ketika kita harus pindahan rumah. Banyak barang yang harus dikemas, dirapikan, dipindahkan dst. Hal itu membuat kita stress. Semakin banyak orang mengalami stress, hal-hal kecil bisa membuat perubahan yang signifikan. Jadi lebih mudah marah, tersinggung, dan lain lain. Penyebab stress ini disebut stressor. Perubahan dalam hidup kita dapat menjadi stressor. Misalnya saat kita barus lulus kuliah, melamar pekerjaan sana sini belum dapat. Yang awalnya ada kesibukan, menjadi tidak. Ini menyebabkan stress. Apalagi putus cinta, di-PHK, hutang yang belum lunas dan lain lain.
Read Also
-
Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...6 tahun yang lalu