Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 September 2023

Keluarga

Hidup itu akhirnya adalah tentang membuat prioritas dan memilih, 

Semakin tua usia kamu, semakin kamu makin tau apa yang benar-benar prioritas untukmu, untuk pasanganmu, dan untuk anak-anakmu...

Dan hal yang paling penting ya saat ini adalah : keluarga. 

Mereka adalah kompas kita. Kita menyusun prioritas dan memilih karena mereka. 

Memilih untuk bekerja dengan semangat, alih-alih bermalas-malasan
Memilih untuk menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak di akhir pekan, alih alih nonton film seharian misalnya
Memilih untuk memastikan masa depan anak terjamin, alih-alih beli barang-barang mahal 

Dan seterusnya

Memilih dg sadar bahwa hidup kita tidak ada artinya tanpa mereka. 
Sepenting itu kah? ya jelas. Apakah kamu akan berharap teman kantormu, kakak-adikmu?. Saat tua nanti yg paling akan peduli kepada kita, ya keluarga intimu sendiri, bukan orang lain. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 22 Maret 2020

Jangan Besar Terlalu Cepat ya Nak :-)

Namanya Syifa, kami biasanya memanggilnya Cipa. Nama Cipa ini pertama kali dipopulerkan oleh Neneknya, ya Ibu istri saya. Waktu masih bayi neneknya biasa memanggil Syifa dengan sebutan Cipa, ya jadilah kami ikut-ikutan memanggil anak kami Cipa. Karena terdengar lucu untuk anak bayi, bahkan hingga kini usianya sudah 3 tahun masih terdengar lucu. Tapi entah mungkin suatu ketika saat dia tumbuh makin besar, rasanya nama panggilan ini sudah tidak relevan lagi. Entah kapan kami akan memanggilnya Syifa, atau bahkan mungkin dia sendiri yang akan protes karena dipanggil Cipa dan meminta dipanggil dengan nama sesungguhnya. hehe.

Setiap malam, sekitar jam 9, setelah kami biasanya berada di ruang makan, atau tempat bermainnya dia, dia akan meminta untuk masuk kamar. "Ayah, ayook masuk kamar" katanya. Setelah masuk kamar, dia akan minta nyalain AC. "Ayah, nyalain AC dong". Ia sudah bisa membedakan kamar yang pakai AC atau tidak. Pernah suatu ketika, AC kami rusak dan hampir 1 bulan kami tidak pakai AC, melainkan pakai kipas angin. Untungnya dia tidak merengek harus pakai AC. Ia masih bisa tidur seperti biasa, meski bangunnya lebih cepat dari biasanya kalau pakai AC.

Setelah masuk kamar, dia seringnya meminta kami untuk membacakan buku. Saya senang membaca buku dan mengoleksi buku, dan saya berharap anak saya pun demikian. Kami ajarkan sejak dini untuk selalu membaca buku. Macam-macam buku akan dia ambil dari koleksi bukunya dan meminta saya atau gak bundanya untuk membacakan. Setelah 1 selesai, ia akan meminta dibacakan buku yang lain. Sampai terkadang kami sendiri yang bosan membacanya. Apalagi kalau ada buku baru, ia pasti akan meminta dibacakan berulang ulang. Tapi ternyata, meski ada buku baru, saya bisa bilang kalau ia punya beberapa buku favorit-nya. Buku favorit-nya adalah yang berhubungan dengan hewa.

Buku yang berisikan cerita hewan adalah buku yang paling ia suka. Ohya, sama buku ruang angkasa, yang ada gambar anak kecil berpetualang keliling tata surya, adalah salah satu buku favoritnya. Untuk buku hewan, ia tak pernah bosan untuk minta dibacakan.

Selasa, 04 Desember 2018

Drama Menyapih

Ada cerita yang ingin sekali aku tulis, biar suatu ketika anakku tau bagaimana jalan ceritanya hingga ia menjadi anak yang mandiri. Aku ingin menulis tentang drama cerita menyapih anak, yang genap berusia 2 tahun pertengahan November lalu.

Menyapih berasal dari kata dasar sapih, yang artinya henti. Jadi menyapih, artinya menghentikan anak menyusu ASI setelah 2 tahun. Sudah menjadi siklus alam selama ribuan tahun bahwa setiap manusia yang sudah berusia 2 tahun harus berhenti menyusu ASI dari Ibunya. Kenapa?, aku kira jika googling alasannya secara ilmiah pasti akan ketemu banyak jawabannya. Aku gak tau secara ilmiah apa alasannya--silakan googling sendiri--tapi menurut logikaku sendiri, kualitas ASI dari Ibu itu semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia anak. Jika anak terus menyusu dari Ibunya maka bisa berefek buruk terhadap si anak sendiri. Bahkan beberapa kali, orangtuaku bilang, entah ini tahayul atau beneran ilmiah, anak yang masih nyusu sampai lebih dari 2 tahun bisa menyebabkan keterbelakangan mental anaknya sendiri. Rasullulah katanya juga pernah bersabda bahwa anak yang sudah 2 tahun harus disapih dari Ibunya.

Dan, kamu tau?. Menyapih itu ternyata bukan perkara sederhana dan mudah. Ada anak saudara yang sudah tidak menyusu dari sejak bayi, karena misalnya beberapa faktor. Salah satunya misal karena saat bayi ASI Ibu tidak keluar dengan lancar, atau ASI tidak produktif lagi meski anak masih bayi sehingga mau tidak mau harus digantikan susu formula. Tidak harus menunggu dua tahun, anak dengan kondisi seperti ini, jauh lebih mudah disapih. Bahkan mungkin tidak perlu usaha ekstra untuk menyapih. Kondisi membuat dan memaksanya untuk berhenti ASI dan si anak tidak komplain sama sekali.

Lebih Productive dengan Bijak bersama Smartphone

Well, setelah sekian lama gak nulis di blog, inspirasi untuk menulis kembali muncul tiba-tiba. Sejatinya banyak sih cerita-cerita yang muncul dikepala dan pengen rasanya untuk dituliskan tapi entah niat ternyata hanya tinggal niat semata. Tidak lama kemarin, aku baru membaca beberapa kutipan seorang dokter, intinya dia bilang agar otak kita sehat maka kita harus sering-sering melatihnya. Jangan biarkan otak kita diam (unproductive). Ibarat orang yang berolahraga lah. Jika tidak begitu, maka otak kita bisa kehilangan kemampuannya dan perlahan-lahan membeku. Nah cara untuk melatih otak agar terus sehat dan berkembang misalnya dengan belajar skill baru, menulis, membaca, bermain musik, dan berolahraga. Aku jadi merasa tertampar gitu, hampir semua aktifitas produktif aku lakukan ditempat kerja, contohnya berpikir, menulis, membuat presentasi, berbicara, meeting, dan melakukan aktifitas lainnya. Mungkin itu adalah jam-jam produktifku sepanjang hari. Sesampainya dirumah atau bahkan diakhir pekan? Hampir separuhnya aku pakai buat bersantai-santai. 

Dokter itu benar sih, aku jadi berpikir menurunnya kemampuan berhitungku karena jarangnya aku menggunakannya sekarang. Padahal saat sekolah dulu, aku mendapatkan nilai matematika yang cukup baik dan mudah dalam menghitung apalagi angka kecil. Setelah bekerja, aku sangat merasa kalau kemampuan berhitungya menurung drastis. Contoh sederhana saat ini, jika aku harus menghitung perkalian meski angka kecil aku butuh usaha keras untuk mendapatkan hasilnya. 7x8 misalnya, duh aku butuh waktu dan masih bertanya-tanya bener gak ya jawabannya?. 56. Aku jadi sadar bahwa kemampuan yang lama dikuasai jika tak pernah dipakai, maka ia akan mengendap didalam otak dan lambat laun akan menurun, meski tak sepenuhnya hilang. 

Sama seperti kemampuan menulis. Semakin lama tidak menulis, semakin sulit untuk memulainya lagi. Menemukan kata yang tepat, dan menulis mengalir seperti sebelumnya jadi cukup sulit. Terkadang otak terasa berdenyut denyut dan menghangat saat kita paksa otak kita untuk melakukan sesuatu yang lama tidak kita lakukan. Seperti saat menulis tulisan ini. Aku merasa otaknya sedang berdenyut-denyut, ya layaknya sedang berolahraga dia. πŸ’ƒ

Salah satu kegiatan yang bikin otak beku jaman sekarang ini adalah bermain gawai. Smartphone, contohnya, menawarkan banyak kemudahan untuk kita. Hampir semua hal bisa kita lakukan dengan bantuannya. Namun hal ini bisa membawa kerugian, jika kita tidak menggunakannya dengan lebih "smart" dan bijak. Jika kita sudah terhipnotis dengan kemudahan yang ditawarkannya, dan akhirnya membuat kita jadi "malas" untuk melakukan apapun, maka itu tanda status bahaya. Smartphone kita hanya dipakai untuk scrolling berita, melihat video, chatting, dan browsing tiket dan promo murah maka lama kelamaan otak kita bisa beku. Karena kita tidak melakukan aktifitas yang membuahkan hasil, sesuatu yang produktif. 

Alih-alih melakukan kegiatan tertentu, beraktifitas hanya dengan smartphone kita akan membuat tubuh dan otak kita jadi cepat lemah. Aku akui itu benar adanya, karena aku pernah merasakannya. Tubuh jadi sakit-sakitan, cepat capek, dan susah fokus. Ketagihan smartphone, in unproductive way, sangat merusak. 

Untuk keluar dari kondisi ini, memang perlu usaha. Kadang berkata lebih mudah daripada melakukannya. Tidak ada kata lain selain harus mengontrol diri agar penggunaan smartphone lebih bijaksana. Kita harus memaksa diri sendiri agar bisa keluar dari kondisi itu. Tidak ada seorangpun yang bisa menolong selain diri kita sendiri. 

Menulis, berolahraga, berkebun, membuat sesuatu jauh lebih produktif dibandingkan hanya berjam-jam menghabiskan waktu dengan menggenggam smartphone. 

Ayo aku dan kita bisa keluar dari kecanduan smartphone. !!!


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 01 Februari 2017

Untukmu Nak#6

Hi Nak, meski hanya baru bisa melihatmu malam ini lewat layar handphone, ayah sudah cukup senang. Pengobat lelah terbaik sepulang dari bekerja adalah saat melihat senyum manis dan imutnya wajah anak. Itulah mengapa banyak ayah di dunia ini yang rela pergi pulang bekerja jarak jauh, karena setelah sampai rumah, seluruh peluhnya luruh seketika. Karena senyum dan lucunya suara anaknya. 

Dan perasaanku sama seperti jutaan ayah lain didunia ini. 





Ya, hadiah terindah di usia baru tahun ini adalah kamu, memang benar adanya. Melihatmu tersenyum, tertawa, tumbuh besar, adalah anugerah terindah dalam hidupku. Semoga hidup ini masih terberkahi untuk menyaksikan setiap jengkal pertumbuhanmu. 

Terimakasih untuk kado terindah darimu. Dan disini, aku ingin mengabadikan sejengkal demi sejengkal memori bersamamu agar suatu ketika aku, kamu akan lebih tau untuk menghargai sebuah makna kehidupan, kasih sayang, dan pengorbanan. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 04 Desember 2016

Untukmu Nak#5 Bidadari Kecil

Hai, aku benar benar tidak tau darimana asalnya perasaan ini. Saat kamu melihat seorang anak kecil terbaring tenang, mukanya menunjukan sebuah ketenangan. Entah, aku tak kuasa menahan haru itu. Ia begitu lucu, menggemaskan. Apakah memang ini rasa dari Tuhan untuk setiap manusia?. Untuk selalu menyayangi darah dagingnya sendiri?.

Ya Allah, terimakasih atas semua nya. Bidadari kecil ini sungguh mendamaikan, menyejukan.

Dan pasti Ayah akan selalu menjagamu :-)






-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 14 November 2016

14 November 2016

Disini aku masih duduk sendiri ditengah lalu lalang orang. Menunggu di gate C3 tempat pesawat akan membawaku ke tanah seberang. Pagi tadi sebuah berita yang tak terduga sekaligus menggetarkan hati membawaku ke kembali ke tempat ini. Persinggahan sementara hingga aku bertemu darah dagingku. 

Bandara Soekarno Hatta terminal 1, semoga tak lelah menjadi saksi bagaimana mobilitasku akhir akhir ini untuk berkunjung ke tanah seberang untuk mengantar belahan hati dan buah hati di tanah nenek moyangnya. Orang orang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Berjalan cepat takut tertinggal pesawat, duduk menunggu pesawat terbang, hingga tiduran karena terlalu lama menunggu. Hari ini aku satu dari ribuan orang di bandara ini, menunggu dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat tempat akan membawaku ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda. 

Malam tadi, 13 November 2016 aku sedang dalam perjalanan dari rumah orangtua di Purworejo untuk kembali ke Jakarta. Kereta Sawunggalih Malam, yang kesekian kalinya, menjadi teman setiaku untuk mengantar kembali ke ibu kota. Entah ketika masih sendiri meski saat pulang berdua. Berita tak terduga datang darimu, mengabarkan tentang kontraksi sebagai tanda siapnya buah hati kita untuk melihat dunia. Aku terkejut, jelas. Tak ada angin tak ada hujan. Pun masih ada beberapa hari dari hari perkiraan dokter. Aku pun santai awalnya karena menganggap masih ada beberapa hari lagi. Ternyata, takdir berkata lain. Bayi kita sudah ingin melihat dunia. Ia tak sabar bertemu orang tuanya dan menjadi warna kehidupan kita kelak. Kamu bilang sudah pembukaan 1. Aku pun segera mengatur jadwalku esok hari. Bagaimana jika kamu benar melahirkan malam atau esok hari?

Sabtu, 10 September 2016

Untukmu Nak #3

Halo Nak, bagaimana kabar kamu disana?. Ternyata, kamu sudah besar lho. Saat Ayah menuliskan tulisan ini, kamu masih dikandungan Bunda. Usiamu hampir 7 bulan. Kamu sudah bisa menendang perut Bunda. Perut Bunda bergerak gerak. Ayah suka menempelkan muka ayah ke perut bundamu. Geli dan lucu rasanya merasakan gerakan gerakanmu dari dalam sana. 

Ohya, ayah mau cerita. Dua minggu lalu, Bunda membawamu ke Ibu Dokter. Seperti biasa, tiap bulan Bunda membawamu ke klinik bersalin untuk sekedar kontrol dan mengetahui perkembangan terakhirmu. Saat perut Bunda diperiksa menggunakan alat USG namanya, ayah bisa melihat dengan jelas kepala dan tubuhmu. Meski masih didalam rahim bunda, teknologi kekinian sangat membantu melihat calon bayi. Entah nanti bagaimana saat kamu dewasa nanti. Teknologi pasti telah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan saat ini, 2016. 


Tak hentinya Ayah bersyukur melihatmu disana. Entahlah, perasaan itu tidak bisa dijelaskan. Seperti pecahan pecahan kembang api di malam hari. Percikan perasaan yang halus dalam hati, campur aduk. Ayah hanya bisa merinding dan berkaca-kaca. Saat wajahmu di foto, menurut bunda, wajah kamu mirip sama ayah. Hehe. Hidungmu mirip sekali dengan ayah katanya. Ayah tak terlalu peduli mau mirip siapa dirimu kelak, entah bunda atau ayah. Ayah hanya minta satu hal : kamu sehat dan normal. Itu saja.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku selalu berkata-kata dalam hati sendiri. Apakah aku akan siap menjadi seorang Ayah?. Bukankah tanggung jawab dan peran Ayah itu sungguh berat?. Bisakah aku? Layakkah aku?. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nak, semoga kamu tak pernah kecewa memiliki ayah sepertiku. Semoga aku dapat menjadi pahlawan pertama putraku, dan cinta pertama untuk putriku. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Kamis, 14 Juli 2016

Perantara Doa

Waktu adalah pedang pembunuh yang pada mata pedangnya dilumuri oleh bubuk penghilang rasa sakit. Saat ia menusuk dan mengiris tubuhmu, tak ada sedikitpun rasa disana. Namun setelah efek bubuknya hilang, kau akan merasakan nyeri dan sakit luar biasa.

Begitu dalam sebuah perasaan, hanya dapat terungkap dengan makna kata-kata. Kekuatan kata yang tak dipunya oleh barang apapun. Kata-kata pernah coba aku tulis untuk mengungkapkan dalamnya perasaan kepada wanita terbaik di dunia dalam tulisanku ini "Mamak". Membaca nya kembali seolah mendorongku masuk dalam pekatnya kenangan-kenangan. "Niat dan dalamnya rasa yang begitu besar untuk membahagiakan dan tak pernah ingin mengecewakan Mamak apakah akan sirna seiring waktu?".Terkadang bisikan-bisikan itu muncul saat apa-apa yang dilihat mata terasa memedihkan. Tidak ada anak yang ingin mengecewakan orangtuanya, aku yakin begitu. Apalagi menjadi sumber kekecewaan dan kesedihan bagi keduanya. Jikapun di alam lain orang tua dapat melihat dan turut merasa, suka dan duka sang anak akan turut menyertai mereka.

Untaian doa-doa terpanjat dalam hening, jikapun pernah ada kebaikan yang tercatat oleh malaikat, meski sebesar biji atom, semoga dapat menjadi perantara naiknya kata-kata itu ke atas, ke langit, dan bertahta disana. Hingga suatu ketika ada semburat cahaya atau derai hujan dari langit sebagai tanda terkabulnya doa-doa. Dalam hening dan khusuk hujan malam, ku berbisik-menatap langit : Dengarkan Ya Allah. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Selasa, 28 Juni 2016

Untukmu Nak (2)

 Tangerang, 26 Juni 2016

Hai Nak, bagaimana kabarmu hari ini?. Tiada doa pernah berhenti untukmu bahwa kesehatan dan keselamatan kan senantiasa menemanimu. Saat kamu membaca tulisan ini, mungkin dunia telah berubah dan tahun telah bertambah banyak: 2025?, 2030?. Entahlah. Ayah menulis ini di sela-sela jam kerja Ayah. Entah mengapa Ayah ingin menuliskan sesuatu untukmu, tepat setelah Ayah melihat gurat-gurat didalam perut Bundamu. 

Ayah ingin menceritakan suasana waktu itu. Agar suatu ketika, perasaan Ayah saat itu dapat Ayah rasakan lagi dikemudian hari, karena Ayah tidak ingin waktu menggerus momen itu. 

Ada perasaan aneh ketika melihat sebuah benda kecil ada didalam perut manusia. Perasaan itu menjulur begitu saja merasuk dalam dada dan tiba-tiba membuat emosi dan mood sangat cerah. Antara bahagia, excited, dan terharu. Ibu bidan menggerak-gerakan alat ditangannya menelusuri perut Bunda dan seketika itu munculah gambar hitam putih dilayar monitor. Ibu bidan mulai menjelaskan ini dan itu. Beliau menunjukan dimana letak kepalamu, menjelaskan perkembangan bagian-bagian tubuhmu; seperti lengan, jari-jari, kaki, hidung, dan mulut. Ya, Ayah sudah bisa melihat dengan dengan lebih jelas dirimu didalam perut Bunda. Subhanallah, luar biasa. Itu yang Ayah rasakan waktu itu. Bagaimana menakjubkannya penciptaan Tuhan. Seorang bakal calon manusia berkembang dan tumbuh didalam perut Ibunya. Ajaib. Ayah begitu senang melihat perkembangamu. Terlihat jelas bagaimana bentuk kepalamu, hidungmu, bahkan jari-jarimu. Waktu itu Ibu Bidan berkata "Ini bayinya sedang sujud". Dalam hatiku, apakah karena Bundamu habis sholat, lalu kamu juga ikut sholat didalam perut Bundamu?. Itu pertanyaan konyolku yang cuma aku tanyakan pada diriku sendiri. Beliau lalu menunjukan detak jantungmu. Ya, ada ketukan-ketukan kecil berirama disana. Semoga kamu selalu sehat dan semuanya diberikan kelancaran dan keselamatan. 

Itu dulu ya Nak, tidak banyak. Hanya ingin merekam perasaan mengharukan dan membahagian di hari itu. Semoga kamu selalu sehat disana, hingga saatnya Ayah dapat bertemu denganmu.  
 
-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 03 Juni 2016

Untukmu Nak (1)

Halo Nak. Apa kabarmu?. Semoga pesan ini dapat menemuimu dalam keadaan baik dan bahagia. Jangan pernah lupa untuk bahagia dan menikmati hidupmu Nak, namun selalu lah ingat tentang kewajibanmu sebagai manusia dan hamba Allah. Ini adalah tulisan pertama Ayah untukmu, yang pertama Ayah tulis saat kamu belum melihat dunia. Ayah sudah tidak sabar ingin memelukmu, menggendongmu, dan mengajakmu berkeliling menikmati indahnya dunia. Tulisan ini Ayah tulis dengan harapan suatu ketika kamu akan membacanya, entah saat kamu berada disamping Ayah atau bahkan saat tidak ada Ayah disisimu. Ada banyak hal yang ingin Ayah ceritakan, menemanimu saat menghabiskan malam sebelum tidur. Meski Ayah tidak selalu berada selalu disamping kamu, namun tidak ada yang lain yang Ayah pikirkan tentang bagaimana memberikan hidup terbaik untukmu. 

Nak, Ayah ingin bilang ke kamu bahwa banyak orang disekitarmu yang menyayangi kamu. Kedua orang tuamu tentu saja, dan keluarga kamu yang lainnya. Kamu punya banyak keluarga yang sayang dan perhatian kepadamu. Kamu punya kakek-nenek yang begitu baik, sepupu yang akan selalu senang mengajak kamu bermain, dan kamu juga punya banyak Bude, Pakde yang akan senang hati memperhatikanmu. Kamu akan bahagia menjalani hidup bersama sama mereka. Kamu tidak akan kesepian. Ayah akan mengajakmu berkunjung ke rumah saudara-saudaramu, kamu akan mendapatkan teman bermain dan mengenal budaya keluarga kita. Kamu bisa bermain dengan kakek-nenek di kampung halaman Ayah, atau juga kampung halaman Bundamu. Kampung halaman orangtuamu sangat indah Nak, dan semua kenangan masa kecil kami berada disana. Kamu jangan pernah melupakan asal usulmu Nak, dari sanalah kamu bisa tau siapa dirimu. Saat kami tidak ada, tolong kamu sempatkan waktu untuk mengunjungi kampung halaman orangtuamu. Ikatanmu dengan asal usul orangtuamu tidak boleh terputus. Keluarga Ayah dan keluarga Bunda adalah keluargamu, bagian tidak terpisahkan dari dirimu.

Senin, 16 Mei 2016

Untukmu

Halo Sayang, 


Aku ingin menjadi orang yang amnesia, sekali ini saja. Aku hanya mau mengingat keceriaan diantara kita saja. Membuka semua memori kebersamaan kita selalu membawaku terbang bersama awan merah jambu. Termasuk saat itu, ketika aku dan kamu kembali mengunjungi kenangan kenangan heroisme masa muda kita dulu; di kampus biru ini.

Di kampus ini lah pertama kita bertemu, dan karena kampus ini lah kita tetap bersatu :)
Saat itu, saat aku dan kamu tak sedekat ini. Aku dimana, dan kamu pun dimana. Aku tau dirimu, kamu mungkin juga tau diriku, namun aku tak benar-benar pernah mengenalmu. Kamu hanya seperti angin, terdengar namun tak aku lihat. Hingga sebuah kesempatan mempertemukanku denganmu. Diriku yang lain, dan dirimu yang berbeda. Sempat terbersit dalam kepalaku betapa anggun nya dirimu dalam balutan jilbab hitammu saat sedang berkerumun dalam keramaian. Dan tak pernah aku nyana, waktu menjawab kerinduanku dalam dirimu dengan cara yang tak pernah kuduga. 

Selasa, 26 April 2016

Cerita Ksatria

Kerjakanlah apa yang ada didepan mata dengan setia,
Berjanjilah sebagai layaknya seorang ksatria, 
Bicara, tindakan, dan hatinya tak pernah dusta. 

Jadilah manusia yang dapat dipercaya. 
Kepercayaan itu mahal harganya. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 11 April 2016

Balada Samudra

Sayang, 
Lihat lah samudra luas di depan sana
Membentang tanpa batas
Di ujung sana cakrawala menjelma
Tanpa penanda arah, hanya hamparan air membentang 

Sayang, 
Samudra tak selalu tenang
Ada yang bergelombang, tinggi bergemuruh
Ada yang tenang, damai menyejukkan
Samudra luas, menenggelamkan mata terkadang
Pun membebaskan jiwa

Tak selalu samudra mendamaikan
Tak selamanya samudra menyejukkan
Namun yang pasti, ia tak pernah kering meski mentari menyengati bumi

Sayang,
Samudra tak pernah khianat kepada bumi 
Ia memeluk bumi dengan setia
Meski panas, meski hujan, samudra tetap lah samudra
Luasnya luas tak terhingga, dalamnnya dalam tak terukur


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rumah

Saya pernah ditanya oleh seorang trainer senior, berangkat kerja jam berapa?, tiba dirumah setelah kerja jam berapa?. Berapa waktu yang bapak habiskan dari berangkat hingga tiba dirumah?.Jawaban saya lebih dari 10 jam. Ya kira kira 10 jam, 5 hari dalam seminggu, waktu saya sebagai manusia dihabiskan untuk keperluan pekerjaan. Lalu si Bapak trainer tersebut mengatakan, jadi rumah pertama Pak Panca adalah kantor bukan?. Seketika saya menggeleng. Tidak, bukan, tegas saya. Meski ada disekitar saya bos-bos perusahaan, saya tegas mengulang bahwa rumah pertama saya bukan perusahaan. Secara akumulasi jam dan waktu memang banyak saya habiskan di kantor atau pekerjaan, namun itu bukan lah ukuran itu menjadi rumah pertama. Karena bagi saya, sejak dulu dan sampai nanti,  rumah adalah tempat pulang, tempat menyandarkan hati, dan tempat jiwa dan hati serta pikiran bersemayam.

Rumah adalah segalanya. Rumah pertama saya adalah sebenar-benarnya rumah, rumah tempat keluarga berada , orang - orang tercinta. Saat hati lelah seharian beraktivitas, rumahlah tempat kita beristirahat, mengembalikan semangat dan kedamaian hati. Saat kita merasa bahagia, rumahlah tempat pertama kita merayakan kebahagiaan itu bersama orang terkasih. Rumah adalah perasaan itu sendiri, kehidupan itu sendiri, dan segala-galanya ada didalamnya. Tidak ada ikatan yang lebih kuat dibandingkan ikatan keluarga yang ada didalam rumah kita yang sesungguhnya. Ikatan hubungan pekerjaan di dalam sebuah perusahaan tidak mungkin akan sekuat itu. Jika kita sakit, atau bahkan mohon maaf tertimpa musibah hingga mohon maaf meninggal, keluarga kita yang akan benar-benar merasakan kesakitan dan kepergian kita. Sedangkan perusahaan?. Ya, mereka akan turut berduka sehari atau dua hari, setelah itu mereka akan mencari pengganti kita, lalu roda perusahaan berjalan seperti biasa, semua kembali berjalan normal

Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu