Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Mengajar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2014

Saya Ikut Indonesia Mengajar Bukan Karena Anies Baswedan

Suhu politik di Republik ini makin memanas seiring dengan telah disahkannya dua pasang capres-cawapres dalam pemilu presiden 9 Juli 2014 nanti. Makin banyak tokoh-tokoh nasional yang mulai merapat ke salah satu pasangan calon. Tidak terkecuali pendiri Gerakan Indonesia Mengajar: Anies Baswedan yang notabene sebelumnya adalah peserta konvensi calon presiden dari Partai Demokrat. Keikutsertaan beliau di konvensi, memang sempat menimbulkan polemik dan diskusi yang panjang di kalangan internal IM waktu itu, khususnya bagi kami, Pengajar Muda, yang sedang bertugas. Kami khawatir jika nantinya kami disebut sebagai agen atau bahkan tim suksesnya Anies. Sedangkan IM adalah murni gerakan sosial-pendidikan, bukan alat politik. Namun, tokoh tetap tokoh, figur tetap figur, yang sinarnya berimbas pada semua tempat dimana ia berada. 

Selesai bertugas sebagai Pengajar Muda dan masuk dunia kerja profesional, riwayat saya di Indonesia Mengajar mau tidak mau akan selalu terhubung dengan sang pendiri gerakan. Tidak ada kata lain yang digunakan oleh teman baru saya saat mengenalkan saya kepada teman lain atau keluarganya selain "Panca dulu Pengajar Muda Indonesia Mengajar lho" dan setelah itu pasti "Itu yang ketuanya si Pak Anies Baswedan". Ya, selalu. Bahkan dibeberapa kejadian saat bertemu orang di lingkungan kerja, mereka akan berkata "Ohh, anak buahnya Pak Anies ya". Tidak jarang pula, ada orang yang langsung membicarakan keikutsertaannya di konvensi, atau berkata "Ohh...berarti dukung si *nama salah satu capres*". Well, kata yang terakhir ini sering membuat saya tidak nyaman. 

Selasa, 19 Maret 2013

Mereka (Juga) Ingin Didengar


Sebagai seseorang yang baru saja terjun dalam dunia ajar mengajar, aku sering dibuat gemes, geli, dan heran dengan tingkah polah anak-anak muridku. Micro-teaching saat Direct Assesment atau pun ketika sudah di training intensif Indonesia Mengajar, belum membuatku percaya sepenuhnya jika kondisi kelas dan tingkah polah siswa di lokasi tugas akan seperti itu. Masak iya murid-murid akan seheboh itu ketika diajar?, pikirku. Meskipun tidak semua kondisi saat micro-teaching dulu terjadi, tapi aku sudah menemui peristiwa dimana aku cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah polah anak-anak. 

Pasti ada saja siswa di satu kelas yang bertingkah seperti saat latihan micro-teaching dulu (ya, meskipun tak separah murid di micro-teaching juga si, hehe). Mereka nyleneh, aneh, dan suka melakukan hal-hal yang berbeda. Tidak hanya dari sifat dan sikap mereka, tapi juga dari cara berpakaian. Mereka boleh dibilang murid yang 'out of the box', pendobrak kelaziman. Sejarah masa sekolahku pun membuktikan hal yang sama, bahwa di suatu sekolah pasti ada siswa yang tampil, tidak hanya fisik tapi juga sifat, beda.

Nah, dari pengamatanku, siswa-siswa seperti ini umumnya lebih suka berteman dan berkumpul dengan teman lainnya yang juga mempunyai kemiripan sifat dengan dirinya. Di kelas mereka lebih senang duduk bersebelahan. Saat istirahat mereka lebih suka bermain-main bersama. Ketika pulang, mereka berjalan dalam satu kelompok yang sama. Atau sepulang sekolah, mereka akan berpergian atau bermain bersama. Misalnya ke kebun, mengail, cari kelapa, dan main bola, semuanya dilakukan bersama. Ya, seperti geng gitu lah.

Rabu, 13 Maret 2013

Alhamdulillah, PLN Menyala


Sabtu (09/03/2013), seperti biasa suara bedug masjid desa terdengar bertalu-talu. Tanda masuk waktu maghrib telah tiba. Waktu maghrib disini biasanya jatuh sekitar pukul 18.45 WIT. Matahari terlihat sudah jauh di ujung barat. Rimbun hutan kelapa di barat desa seolah menyerap terang cahayanya. Pucuk-pucuk daun kelapa bersiluet terkena sinar mentari sore. Langit masih cerah. Awan-awan putih berarak tak teratur. Meskipun sinar mentari semakin redup, namun suasana sekitar masih terlihat jelas. Redup, tapi belum gelap. Suasana maghrib bak foto berefek tahun 1960-an. 

Aku kenakan sarung dan bergegas menuju sumber suara bedug. Tak terdengar suara adzan olehku "genset masjid pasti belum dihidupkan" gumamku dalam hati. Aku lihat Ade Lani, salah satu muridku di kelas 2, sudah menanti di pinggir jalan. Berpakain muslim lengkap dengan songko (peci), ia memang salah satu muridku yang paling rajin sembahyang di masjid. 

Masuk kehalaman masjid, suara muadzin baru bisa aku dengar. Adzan sudah memasuki bait-bait akhir. Biasanya, setelah adzan maghrib, iqomah segera dikumandangkan. Benar juga, selesai adzan, muadzin langsung memberi aba-aba bahwa sholat akan segera didirikan. Aku berdiri rapi dibelakang imam. Sholatpun dimulai. 

Senin, 14 Januari 2013

Bahagianya Jadi Engku

Nah yang ini adalah muridku di kelas 6. Meski anak paling 'senior' disekolah, mereka tetap anak yang sangat baik dan menyenangkan saat aku ajar. Bahkan, mereka lah salah satu kelas yang selalu menolak untuk pulang bersama kelas lain karena masih ketagihan dengan pelajaran. What a happy teach them!. Jargon mereka adalah "Semangat, Belajar, Sukses". Dan semoga kelak, mereka akan menggapai impian mereka seperti apa yang telah mereka tulis di dinding-dinding kelas hari itu

"Jika kamu memberi anak-anak 1 cinta yang tulus, mereka akan membalasnya dengan cinta 100 kali lipat lebih besar. Seperti yang sudah aku rasai dari anak-anakku, murid-muridku disini. Ah, ingin aku sampaikan pada mereka bahwa mereka akan selalu jadi sebab utama mengapa sekolah dan mengajar selalu aku rindukan. Dan mengapa aku selalu tak sabar menanti datangnya mentari pagi esok hari. Kebahagaiaan apa lagi yang akan aku temui besok ya?.  "

Baca tulisan lengkapnya di https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/panca-purnomo-2/bahagianya-jadi-engku


-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 04 Januari 2013

Memori 2012 dan Harapan Buat Mereka

Memori satu tahun yang lalu, 31 Desember 2011. Malam itu, di ujung akhir tahun 2011, aku sedang tidak berada di kampung halaman atau pun di kota perantauan; Semarang. Waktu itu aku masih harus berjibaku dengan penelitian di sebuah lembaga riset milik pemerintah di Jawa Barat. Pada dasarnya, aku bukan orang yang suka merayakan tahun baru dengan kegiatan apapun. Tahun baru, bagiku, seperti pergantian hari biasa. Tidak lebih. Aku menolak ajakan ibu kosku pergi ke kota untuk melihat pesta kembang api, pun dengan ajakan teman-temanku. Penelitian yang tidak kunjung usai juga membuatku ingin sejenak menyepi di kamar kos sendirian. Tidak ada yang istimewa malam itu, selain aku dengar letusan-letusan kembang api membahana di luar sana. Keinginan untuk sekedar melihatnya pun aku tak ada. Bagaimana dengan resolusi dan evaluasi akhir tahun?. Aku pun tak jua suka memikirkan atau membuatnya. 

Tahun pun berganti. 1 Januari 2012, jarang ada yang aku pikirkan di awal tahun baru, selain seringnya aku berpikir bahwa umurku akan segera bertambah, dan aku akan semakin tua :-D. Penambahan usia seseorang memang tak ada yang mampu mencegahnya. Demikian pun dengan apa yang akan terjadi di depan sana. Kita tak kuasa menghindarinya. Kalau bakal terjadi, ya pasti terjadi. Kita juga tidak akan pernah tahu kejadian apakah itu yang sedang menanti kita didepan. Karena tidak tahu hari depan akan seperti apa dan bagaimana itulah, justru, kita harus mengupayakan hari depan kita agar mewujud bahagia, seperti yang kita harapkan. Caranya? Kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat dan terbaik hari ini (sekarang) untuk kebahagiaan esok hari. Masa depanmu adalah apa yang kamu lakukan sekarang. Aku percaya itu.

Jumat, 07 Desember 2012

Kelas 1 Suka Bintang (part 2)


Akhirya, sekitar minggu ke 2 aku mengajar di SD Waya, aku coba terapkan cara ini; memberi hadiah kepada murid yang melakukan kebaikan. Aku teringat kertas reward saat micro-teaching dulu. Sebelum masuk kelas, aku ingin membuat reward-nya terlebih dulu. Aku buka-buka lemari di ruang guru, dan aku temukan tumpukan kertas print HVS di lemari buku paket siswa. Belum ada instalasi listrik, dan printer di sekolahku, jadi aku harus memanfaatkan bahan yang ada di sekolah. Aku ingat, ada warisan krayon dari PM sebelumnya di kardus dekat lemari buku. Aku ambil kertas HVS tadi, aku lipat, dan sobek menjadi beberapa segi empat kecil-kecil. Aku ambil krayon, dan entah bagaimana langsung terpikir bintang. Aku gambar dan warnai bintang itu, sebaik yang aku bisa. 

Aku masuk ke dalam kelas dengan percaya diri. Aku akan membuat kalian tunduk pada keinginanku, hehehe. Aku tersenyum, menyapa semua muridku kelas 1 yang imut-imut itu. Setelah selesai berdoa, aku tunjukan kepada mereka bintang-bintang ditangaku. 

“Apa ini anak-anak?”. 
“Bintaaang”, jawab mereka kompak. 
“Siapa yang mau bintang ini?”. 
“Sayaaaaa” teriak mereka sambil semuanya mengangkat tangan. 
“Nah, karena tadi Pinda sudah memimpi kita semua berdoa, maka ia akan Bapak beri satu bintang ini”. Pinda, muridku, yang tadi memimpin berdoa tersenyum malu-malu ketika ia menerima bintang dariku. “Tepuk tangan untuk Pinda”.  Semua anak tersenyum dan menoleh ke Pinda. Aha, Mereka sepertinya sudah jatuh hati pada bintang-bintangku ini. 

Kelas 1 Suka Bintang (part 1)


Sudah hampir satu bulan aku bertugas sebagai seorang guru SD. Ada banyak cerita menarik baik ketika bermain dengan anak-anak di luar sekolah maupun ketika mengajar di kelas. Salah satunya adalah cerita mengelola kelas yang aku alami ini.

Sejak pertama aku sampai di sekolah dan berkenalan dengan teman-teman guru serta kepala sekolah, belum pernah diadakan rapat untuk membahas kelas berapa yang harus aku ajar. Kepala sekolah bahkan belum pernah sama sekali masuk sekolah. Beliau hanya pernah menemuiku kurang lebih 3 kali dan hanya menyampaikan alasan bahwa (lagi-lagi) beliau tidak bisa ke sekolah. Aku hanya masih bisa mengiyakan saja.

Tanggung jawab moralku sebagai pengganti PM3 membuatku ‘pasrah’ mengajar kelas 1. Di Desa Waya belum ada PAUD atau TK, jadi bisa dipastikan anak kelas 1 disini sama saja dengan anak TK atau PAUD. Ya, aku sama saja mengajar anak TK. Anak-anak kelas 1 bahkan 2 disini banyak yang belum bisa calistung (baca, tulisa, dan hitung). Itulah salah satu tantangannya. Meskipun tanggung jawab moralku adalah mengajar kelas 1 yang ditinggal PM sebelumnya, aku juga sering mengajar semua kelas ketika guru kelasnya tidak datang (dan itu lumayan sering, ;-D).

Minggu, 25 November 2012

Wujud Nyata Cinta

Anak-anak SD N Waya berjajar di dermaga desa saat mengantarkan kepulangan Pengajar Muda 3

Pagi itu (Kamis, 08 November 2012) Pak Udin, teman guru, menyampaikan kepadaku bahwa akan diadakan acara pisah sambut PM3 dan PM5 di sekolah. Aku baru saja tahu akan diadakan acara seperti itu, sangat mendadak pikirku. Tak lama berselang, beliau meminta seluruh siswa untuk memanggil perwakilan orangtua mereka ke sekolah untuk menghadiri acara itu. Seluruh siswa berkumpul setiap pagi untuk melakukan apel pagi, yang kucatat seharusnya pukul 07.30 WIT. Cukup dengan membunyikan lonceng didepan ruang guru, seluruh murid akan berkumpul sesuai kelas masing-masing. Disitulah Pak Udin mengumumkan undangan itu kepada seluruh siswa.

Jadilah seluruh siswa pulang untuk menyebarkan berita itu kepada orangtua mereka. Awalnya aku cukup terkesima dengan cara ini. Tanpa perlu undangan tertulis, dipagi dan hari itu juga, dengan mudahnya orangtua wali murid dikumpulkan disekolah. And it works!. Meski sangat terlambat, karena diundangan lisan yang disebarkan, orangtua murid diminta hadir pukul 08.30 WIT, namun acara baru dimulai pukul 10.00 WIT (setelah itu aku baru tahu jika kemoloran waktu yang begitu panjang itu sangatlah biasa).

Sibuklah aku, teman-teman guru, dan siswa kelas atas menyiapkan ruangan beserta meja dan kursinya. Meja dan kursi ditata berjajar didepan kelas, dan kursi berderet untuk tamu undangan.  

Sedikit Tentang Ritual-ku


Ini adalah hari kedua aku berada di desa ini. Tubuhku belum sepenuhnya menyesuaikan dengan waktu Indonesia timur. Aku baru bisa tidur pukul 00.00 dan bangun pukul 06.00 pagi waktu setempat. Saat ku tengok keluar rumah, rasa-rasanya mentari sudah terang sepagi itu. Ada perbedaan sedikit antara banyaknya cahaya matahari disini dibandingkan dengan bagian Indonesia barat pada jam yang sama.

Ku sambar handuk dan peralatan mandi, kemudian bergegas menuju tempat mandi. Sebuah kotak kayu berukuran sekitar 1,5x2 meter. Dindingnya terbuat dari kayu yang tersusun melintang bersambung-sambung. Tampak lubang-lubang di beberapa sisi karena tidak rapatnya sambungan. Dindingnya, jika aku berdiri, akan memperlihatkan setengah badanku. Saat siang, atapnya adalah langit biru dan putihnya awan, sedangkan waktu malam indahnya langit gelap dengan hiasan ribuan bintang. Alasnya adalah susunan rapi batu-batu karang.

‘Kamar mandi’ ini berhimpitan dengan dinding rumah. Jika berjongkok, akan terlihat kaki-kaki rumah dan batu-batu karang berserakan diantara lumpur bakau. Rumah yang aku tempati sekarang ini adalah jenis rumah panggung. Air laut akan menggenangi bagian bawah rumah dan sebagian dasar kamar mandi saat laut sedang pasang. Ada sebuah tali yang menggantung diatas, ditalikan melintang di papan kayu. Tali ini berguna untuk menggantungkan pakaiain atau handuk. Didalamnya, ada dua ember terisi air dan sebuah gayung. Tidak ada kloset apalagi wastafel atau pun cermin didalamnya. Kamar mandi ini hanya kugunakan untuk membersihkan badan dan buang air kecil (ada cerita sendiri tentang buang air besar). Pintu setengah badan juga terbuat dari papan kayu dan pintu tersebut ‘dikunci’ menggunakan tali tambang yang diikat pada ujung paku.

Wirausahawan Cilik



“Rotiiii Goreeeeeeennnggg!!”, “Rotiiii Goreeeeeeennnggg!!”, “Kueeeeeeeeee!!”, “Cillooooookkkkkkk!!”, “Ikaaaaaaaannnnnn!!”, “Kacang tumbuuuuuuu!!”. Suara teriakan anak-anak seperti ini yang akan terdengar di desa ketika pagi hari sebelum jam masuk sekolah maupun saat matahari mulai menjorok di ufuk barat. Fakta unik yang aku dapati ini, membuatku berpikir rasa-rasanya anak-anak di desa ini mempunyai bakat menjadi pedagang, sales, maupun wirausahawan handal suatu ketika kelak.

Belum genap satu bulan aku disini, sehingga mungkin masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa aku sudah mengenal semuanya. Namun, aku sudah mengenal beberapa fakta unik dalam masa study-ku di sekolah kehidupanku yang masih sangat sebentar ini. Satu fakta unik dan menarik di Desa Waya adalah tentang banyaknya marketer (sales) cilik, yakni anak-anak yang menjual makanan di sekolah maupun menawarkannya berkeliling desa dengan berjalan kaki.

Mereka yang menjajakan makanan ini umumnya adalah anak-anak usia sekolah. Mereka sering juga ditemani oleh anak-anak kecil lain yang belum cukup umur untuk masuk SD (di Desa Waya belum ada TK). Aku menemukan beberapa murid-muridku kelas 1-5 berjualan rutin menjajakan makanan keliling desa. Anak-anak hebat ini membawa jajanan mereka menggunakan box plastik kecil. Mereka menenteng atau sesekali memanggulnya sambil meneriakkan nama makanan yang mereka bawa. Mereka telusuri satu demi satu jalanan desa untuk menawarkan makanan mereka kepada warga agar laku terbeli.

Jumat, 02 November 2012

Doa dan Dukungan Mereka


" Mengapa kesepian jika kita melihat matahari dan bulan yang sama. Ini cuma masalah jarak, sedangkan hati kita dekat" (Abah Iwan)

"Pengalaman adalah Guru terbaik. Guru, mengajari sebelum melakukan. Sedangkan pengalaman, melakukan baru mengajari" (Jusuf Kalla). 

"Sampaikan salam saya kepada seluruh anak negeri. Katakan pada mereka, bahwa saya mencintai mereka" (Boediono)

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 21 Oktober 2012

“Andira Ingin Kuliah”


“Anak-anak, jika kalian dewasa nanti, kalian ingin menjadi seperti apa?” tanyaku. Tangan-tangan mungil itu teracung diudara. Semua, tak terkecuali, ingin sekali bersuara. Seorang anak yang duduk didepanku persis berkali-kali melonjak-lonjak sambil tiada henti berucap “Pak, Pak, Pak, saya Pak, saya, saya”. Dia berhasil membuatku menjatuhkan pilihan. “Iya, silakan”. Bibirnya tersungging malu-malu.  “Saya ingin kuliah Pak!”. Entah bagaimana, sejuk suasana hati ini seketika mendengar jawabannya. Itulah ketika awal perkenalanku dengannya. 

Andira, bocah lelaki cilik ketiga dari kanan, tersenyum saat sesi foto perpisahan.

Minggu, 14 Oktober 2012

Obat Awet MUDA (3)


Aku menyudahi permainan dan bertanya kepada mereka “Kalian mau bermain apa?”. Salah seorang siswa perempuan mengacungkan jari dan mengatakan “Ayam dan musang Pak”. Aku bertanya kembali seluruh anak-anak. “Kalian mau?”. “Iyaaaaaa”, jawab mereka semakin ramai. Lapangan semakin padat oleh anak-anak yang ingin bermain bersama. Kami membuat lingkaran yang lebih besar dari sebelumnya. Aku menunjuk seorang menjadi ayam dan seorang lagi menjadi musang. Inti permainan ini adalah ayam dikejar musang sampai tertangkap, sedangkan yang lain menjadi kandang dengan jalan bergandeng tangan dalam satu lingkaran. Permainan ini juga cukup menguras energi. Anak juga cepat bosan. Tak berapa lama lingkaran pun rusak tak terkendali. Hingga akhirnya beberapa siswa mengatakan bosan dan capek.

Aku sudahi permainan.

Aku putar otak lagi, kira-kira apa ya permainan yang bisa aku berikan. Aku teringat permainan yang diajarkan saat materi Pramuka waktu training. Tapi aku lupa lirik dan nada lagunya. Aku pun menghampiri Andi dan Kuat, bertanya bagaimana lirik dan nada lagunya. Setelah diingat-ingat akhirnya ketemu juga. Aku pun mengajak anak-anak membuat lingkaran lagi ditengah lapangan. Andi mengomandoi mereka bagaimana menyanyi dan melakukan gerakannya. Kami menghadap ke kanan semua lalu bernanyi sambil berjalan melingkar bersama-sama. Lagunya seperti ini:

Obat Awet MUDA (2)


Aku berdiri memulainya, kemudian disusul Kuat, Andi, Nina, dan Fara. Obrolan kami mengalir begitu saja. Beliau sangat senang berbincang banyak hal, diantaranya adalah tentang sekolah, dana BOS, fasilitas sekolah, kinerja UPTD gugus Cikao, dan pengalaman beliau menjadi guru. Beliau tak lupa memberi banyak sekali wejangan dan semangat kepada kami, “Mumpung masih muda, mencari pengalaman itu perlu karena pengalaman itu guru yang paling berharga”  terang kepala sekolah.

Beliau sangat terbuka dan senang menerima kami serta memberikan kami kebebasan untuk menentukan bagaimana kami membagi kelas dan mata pelajaran untuk tugas praktek mengajar ini. Asalkan dikoordinasikan terlebih dulu dengan guru kelas yang bersangkutan. “Anggap saja ini dirumah sendiri ya ak, neng. Jangan sungkan. Kalau butuh apa-apa, bisa langsung ketemu ibu-ibu guru atau saya” lanjut kepala sekolah menutup perbincangan kami.
Kebetulan seminggu kedepan adalah masa selesai ujian tengah semester, jadi sebenarnya tidak ada kegiatan belajar mengajar. Namun karena hadirnya kami disekolah, kami tetap diberi kesempatan untuk mengajar sesuai kebutuhan kami. Beliau menyerahkan sepenuhnya kepada kami. Alhamdullillah, aku sangat gembira dengan penerimaan yang sangat baik ini. Karena hari ini sampai Senin depan masih ada ujian tengah semester, kami pun belum bisa mengajar sehingga kami diperkenankan untuk berkenalan dan mengenal anak-anak terlebih dulu. Setelah selesai berbincang-bincang, kepala sekolah mempersilakan kami untuk berkenalan dengan anak-anak dan melihat-lihat sekolah.

Obat Awet MUDA (1)


Seperti biasa, aku terbangun pukul 04.45. Langsung mengambil air wudhu, kemudian sholat subuh berjamaah dengan beberapa teman. Selesai sholat dan berdoa, masih pukul 05.10, ah masih banyak waktu sampai pukul 06.00 pagi pikirku. Aku pun tidur lagi. Hiruk pikuk barak pria mulai terasa pukul 05.45. Aku akhirnya terbangun kembali dan segera bergegas menuju kamar mandi. Beberapa teman ada yang sudah nampak rapi. Aku sesegera mungkin menyelesaikan urusan di kamar mandi, dan berganti pakaian. Kami harus berangkat pagi-pagi karena pukul 07.00 kami mesti sudah tiba di SD tempat kami berlatih mengajar. Setelah sarapan dan berkoordinasi sebentar dengan tim PPM, aku meminta tolong seorang abang katering untuk mencarikan angkot agar perjalanan kami lebih mudah dan cepat. Akhirnya, kami berangkat beramai-ramai pukul 06.30 dengan angkot sewaan.

Kurang lebih 15 menit kemudian kami sampai di sebuah gang yang akan membawa kami ke SD tujuan. Beberapa siswa sekolah berseliweran memasuki gang tersebut. Kami melewati jalan setapak bertekel sepanjang 50 meter. Diujung jalan nampak sebuah komplek sekolah dengan papan nama sekolah bertulis SD N 5 Cikaobandung. Terlihat banyak anak berpakain putih hitam berlarian dilapangan sekolah. Menurutku, gedung sekolah ini berukuran sedang, biasa saja dan tidak nampak mewah. Standar sekolah di desa. Gedung SD ku jaman dulu juga mirip-mirip seperti ini, kenangku. Gedung sekolah berbentuk L, dimana gedung horisontal yang menghadap ke lapangan dan pintu utama adalah ruang kelas, sedangkan gedung vertikal menghadap ke barat adalah ruang guru. Tidak banyak pepohonan didalam sekolah ini. Halamannya dipisahkan oleh pagar terbuat dari kayu. Di luar pagar ada sebuah warung kelontong tempat menjual jajanan anak-anak.

Tuhan Tahu Apa yang Kita Butuhkan (3)


Kelompok penempatan terbentuk. Halmahera Selatan, menjadi daerah penempatanku bersama 7 orang lainnya. Timku: 8 orang dengan semua hal yang berbeda-beda, unik. Didalam tim ini, aku semakin dalam memaknai semua sikap yang harus aku perbaiki. Aku semakin mengerti bagaimana menerima perbedaan, menerima pendapat orang lain, menghargai pendapat orang lain, ikhlas dan sabar saat dipimpin dan memimpin, dan berpikir positif terhadap orang lain. Aku hanya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan untuk jadi yang terbaik. Bukan yang mendominasi, tapi yang berkontribusi. Bukan selalu jadi pemimpin didepan, tapi bisa menjadi pemimpin ditengah dan belakang. Aku belajar banyak hal dari timku.

Merangkai kerekatan dengan yang lain dalam tim ini awalnya tidak mudah. Aku memang cenderung menghindar dari pribadi yang sering membantah pendapatku. Aku merasa kurang nyaman jika harus berdiskusi dengan karakter orang yang juga sepertinya, mendominasi dan banyak pendapatnya. Aku terus belajar meski cukup sulit. Aku lebih suka berkompromi dengan orang seperti itu. Aku rasai sukar memang untuk beberapa saat karena timku terdiri dari orang yang majemuk. Aku masih merasa tidak nyaman ketika didominasi orang lain. Tapi justru disitu letakku belajar mengendalikan emosi hati dan antusiasme diri. Meski tidak mudah, namun aku tetap belajar.

Semakin hari, aku bisa mengendalikan diri. Aku tahu banyak celah dalam diri untuk diperbaiki, dan tahu bagaimana memperbaikinya, dan sekarang aku sedang dalam tahap memperbaiki itu. Aku rasa aku mengalami banyak progress dalam hal ini, demikian pula beberapa temanku berkata.

Saat merenungi perjalan hidupku ini, rasanya Tuhan memang mengirimkanku di Indonesia Mengajar untuk memperbaiki banyak celah dalam hatiku ini. Titik-titik hitam dalam hatiku perlu dihapus. Tuhan tahu apa yang hamba Nya butuhan.

Tuhan Tahu Apa yang Kita Butuhkan (2)

Itulah aku, orang yang tidak terlalu peduli dengan orang lain bahkan kepada mereka yang memperhatikanku.

Aku sadar akan kelemahan dan keburukanku itu semua. Aku ingin mengubahnya, tapi tetap saja sulit. Hingga akhirnya aku ditakdirkan diterima di Indonesia Mengajar sebagai Pengajar Muda angkatan 5. Selama training, aku berdoa kepada Tuhan agar aku bisa menjadi manusia yang rendah hati, menghargai orang lain, empati, dan mempunyai hubungan personal yang baik dengan orang lain. Terlebih selama penempatan, aku sangat berharap akan berubah menjadi orang seperti itu, dan menghapus sikap burukku yang dulu. Menghapus titik-titik hitam dalam hatiku. Menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Tuhan sepertinya tahu apa yang aku butuhkan. Aku butuh menjadi orang yang rendah hati, tidak keras kepala, dapat menghargai orang lain, dan empati terhadap sesama. Menjadi orang yang bisa memimpin dan dipimpin. Ikhlas, sabar, dan positif. Tuhan memang benar-benar mendengar harapanku. Selama training, aku belajar banyak tentang bagaimana menghargai orang lain, mendengarkan pendapat orang lain, menghilangkan ego pribadi, memimpin dan dipimpin. Aku belajar dan semakin memahami banyak sikap yang memang aku butuhkan. Aku perlu untuk berubah. Aku perlu untuk semakin baik. Tuhan tahu itu.
Awalnya memang sulit. 

Aku bersama 51 orang yang ditempatnya dulu adalah bintang. Suara mereka didengar dan keberadaan mereka dinantikan. Ketika 52 orang bertemu dengan sorot bintangnya masing-masing, pasti benturan ego pribadi akan terjadi. Aku sering mengalami tekanan batin akibat hal itu terutama diawal pelatihan. Kami tidak pernah lepas dari diskusi alot baik itu di kelompok besar maupun kecil. Tidak ada hal yang tidak didebatkan. Banyak argumen.

Tuhan Tahu Apa yang Kita Butuhkan (1)

Tuhan akan selalu memberi sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Aku lihat kedalam diriku. Ku selami kembali hatiku sedalam-dalamnya, sebisa yang aku mampu. Aku jelajahi celah-celahnya, memperjelas pandanganku terhadap diriku sendiri. Aku lihat banyak celah disana. Celah kekuatanku, celah kelemahanku, celah apa yang aku suka dan tidak, dan celah kosong tempat aku memasukan pelajaran kehidupan demi menggapai pribadi yang lebih baik. Aku tahu, hatiku masih punya banyak bintik-bintik hitam. Terkadang aku sadar dimana letakknya dan ku mampu kendalikan itu, namun sering pula aku tak sadar dan tak kuasa menahannya membesar. Ah, dasar manusia, bukan malaikat yang selalu tunduk atas perintah Nya. Tapi justru letak istimewa manusia disitu, ada celah dosa dan celah pahala dihatinya.

Terbentuknya pribadi manusia adalah interaksi antara berbagai faktor baik diluar maupun didalam dirinya. Aku tak mampu mendifinisikan faktor apa saja yang telah membentukku hingga aku seperti ini. Yang aku tahu pasti, aku telah melalui berbagai pengalaman yang mengubah sekaligus membentuk cara pandang, sikap, dan karakterku.

Sekarang, aku tidak lagi berada di lingkungan yang sama seperti dulu. Berbeda. Pribadi yang angkuh, sombong, dan keras kepala. Dulu, hatiku sempat mempunyainya, menjadi titik-titik hitam. Sebagai orang yang dibutuhkan, sebagai orang yang suaranya didengar, sebagai orang yang berperan dan berposisi. Lingkungan membentuk watakku. Hingga akhirnya, akhir masaku belajar dikampus, perlahan aku sadar jika titik-titik hitam itu ada dan aku mengerti harus belajar menghilangkannya, jika tidak, hatiku akan tertutup sepenuhnya oleh kegelapan. 

Lagi-Lagi Tentang Guru


Jika berdiskusi tentang masalah pendidikan, rasa-rasanya tidak akan pernah ada habisnya. Terlalu banyak masalah pendidikan yang masih membelit negara ini. Salah satu masalah yang sering kali muncul dalam diskusi isu pendidikan biasanya adalah guru. Guru akan selalu jadi pusat perhatian. Tidak dapat dipungkiri memang, guru adalah ujung tombak sekaligus pelaku langsung dari sistem pendidikan di manapun negaranya.

Jepang dapat semaju seperti sekarang karena dulu ketika Jepang hancur di bom oleh sekutu, hal pertama yang diperhatikan adalah gurunya. Mereka sadar betul bahwa masa depan bangsanya terletak pada guru. Setelah itu, jepang rajin mengirimkan putra-putri terbaiknya keluar negeri untuk belajar tentang teknologi dan ilmu pengetahuan kemudian meminta mereka kembali ke negaranya. Agen-agen tersebut pun menyebarkan ilmu dan keahlian yang telah mereka peroleh di tanah kelahiran mereka. Terbukti setelahnya, teknologi dan industri jepang melaju pesat bersaing dengan bangsa Eropa dan Amerika. Lagi-lagi, disini ada peran guru yang sangat besar dalam transformasi kemajuan sebuah bangsa.

Pendiri negara ini juga sadar benar akan arti pentingnya pendidikan dan guru didalamnya. Saat awal masa kemerdekaan, program pembasmian buta huruf genjar dilakukan. Bahkan, sempat terekam presiden Soekarno waktu itu turun tangan menjadi seorang guru yang mengajarkan membaca rakyatnya. Lagi-lagi, dalam memajukan negara bangsa, sumbangsih guru sangat vital kontribusinya.


Minggu, 07 Oktober 2012

Bahagia Itu Adalah ......

Kelompok Penempatan PM5, Halmahera Selatan 

Training Indonesia Mengajar  akan memasuki minggu ke 5. Selama itu pula, tahukah kau kawan bahwa aku telah menemukan arti baru sebuah kata yang mungkin bagi kebanyakan orang, itu sangat abstrak artinya. Kata itu adalah “bahagia”. Bahagia bukan lah suatu bentuk perasaan hati yang sulit untuk di cerna. Justru bagiku sekarang, itu sangat lah mudah dan aku rasakan hampir setiap hari. Ketika kita merasai hidup terbatas dan monoton, maka sesuatu yang sederhana yang dulunya tidak pernah kita anggap sebagai sebuah keistemewaan, itu bisa jadi akan menjelma sebagai sebuah kebahagiaan. Bahagia tidak harus seperti arti kebanyakan orang, banyak uang, mobil mewah, rumah pribadi, dan jabatan tinggi. Ahh, itu bahagia yang terlalu rumit karena sekarang aku tahu, bahagia itu adalah sederhana dan dekat. Bahagia lebih terasa dan lebih mudah ditemukan ditengah keterbatasan meski itu terkesan sangat sepele.

Bahagia itu adalah saat sabtu malam aku mendapatkan kembali handphone-ku. Aku pun dapat menggunakannya kembali untuk menelfon orangtua dan keluargaku. Dulu, ketika hidupku tidak pernah lepas sedetikpun dari ketergantungan handphone, aku sempat berpikir, bisakah aku hidup tanpa handphone barang sehari saja?. Aku ragu bahwa aku bisa. Namun ternyata, sekarang, aku bisa hidup tanpa ketergantungan handphone meskipun hanya 6 hari saja. Handphone adalah barang yang biasa bagi kebanyakan orang, tapi ketika aku baru bisa menggunakannya seminggu sekali saja, maka itu menjelma jadi barang istimewa. Karena aku bisa mengetahui kabar orang-orang tercintaku karenanya. Handphone setelah sabtu malam sampai senin pagi adalah bahagia. Ya, bahagia adalah sesederhana seperti cerita tentang handphone.

Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu