Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Romansa-Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romansa-Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2016

Siapakah yang Paling Beruntung itu?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang masih memiliki kedua kaki, kedua tangan, dan seluruh anggota tubuh yang lengkap sehingga membuatnya tak tertatih tatih hanya sekedar untuk berjalan?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang masih dapat tidur di bawah atap rumah sementara ada manusia lain yang tidur didalam gerobak?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang masih memiliki seperiuk beras sementara ada manusia lainnya yang bahkan tak tau mau memasak apa esok pagi?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Apakah ia yang selalu dapat makan malam bersama keluarganya, anak istrinya dirumah?Sementara ada diantara manusia yang harus merelakan malam malamnya habis di jalanan?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Iakah yang masih dapat memeluk manusia yang dicintainya, sementara ada ditengah manusia yang saling mencintai tak dapat bertatap muka untuk sekian lama?

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Iakah yang disambut dengan senyuman dan ciuman hangat tepat saat membuka pintu?

Siapakah sebenenarnya manusia yang paling beruntung itu?
Iakah yang masih dapat menuliskan kata-kata ini, sementara yang lainnya tak sanggup lagi sekedar menulis? 

Siapakah manusia yang paling beruntung itu?
Iakah manusia yang masih dapat membaca tulisan ini?.

Saya kira, manusia yang paling beruntung itu adalah ia yang tau untuk apa ia dilahirkan di dunia. Ya, beruntung lah ia yang mengetahui jawaban dibalik penciptaannya. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 11 September 2016

Pertanda?

Pernah aku baca rangkaian kata lebih indah dari ini,
Singgah dalam mimpi mimpi
Tidak merasakah ada yang ganjil?

Kata katamu ku rindui
Bayang bayangmu mengantui
Setiap malam
Tidak merasakah ada yang aneh?

Pertanda apakah ini

-Catatan Perjalanan Hidup-

Sabtu, 10 September 2016

Tangan yang Mengepal Debu

Syair dikepala,
Kata kata puisi tertulislah
Melagu sendu dalam kalbu

Kembali pada lorong lorong waktu
Seperti tangan yang mengepal debu
Ada hijau, merah, kuning, hingga jingga dibalik mata
Ada pula merah muda

Di tempat duduk yang sama
Masih pada semburat senja di ujung cakrawala
Meluncurkan semua keresahan dan kegetiran
Tertulis pada ujung pena di atas kertas yang masih putih
Seperti tangan yang mengepal debu
Terbang kemanapun angin membawanya

Duduk menengadah langit ditengah dermaga
Kata kata, lebih bermakna dari setiap goresan tinta
Tentang masa dan waktu yang terbang melebihi jamannya
Melayang, kemanapun angin kan membawanya
Seperti tangan yang mengepal debu

Sekuat apapun mengepalnya,
Sela jari jari kan jadi jalannya untuk terbang
Seperti debu yang diterbangkannya
Seperti pikiran yang melayang terbawa waktu
Seperti sayap burung yang mengepak di tengah lautan sana
Seperti matahari yang melahirkan senja di batas samudra
Seperti kemesraan yang masih tersisa ditengah tiupan angin

Hiruplah udara pantai
Membebaskan
Melepaskan
Menghidupkan

Seperti tangan yang mengepal debu ...........

-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 16 Mei 2016

Cerita Ulang

Ingin ku genggam tanganmu, membelai lembut jemarimu, dan ku katakan "Kita tak pernah berhenti belajar". Singkirkan semua penghalang, yang ada hanya aku dan kamu serta masa depan kita. Pegang erat lenganku, mari kita berlari lagi mengejar matahari. 

Terjadi lagi sebuah kisah lama yang terulang kembali. Past teach you a lesson.  I am sorry for everything I did wrong. I do beg apology.
 
"Jika diberikan ku satu peluang
Apa yang aku impikan
Pulihkan segala kesilapan"


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 11 Mei 2016

Cerita Biasa

Sudah kubuka lembaran kertas ini, entah mengapa butuh waktu beberapa lama bagi jariku menulis kata kata didalamnya. Aku ingin membuai diri dalam kata kata seperti sajak dalam buku, atau puisi puisi romantis pujangga, sehingga tak malu aku bertemu denganmu. Karena aku ingin menghadiahkan sebuah untaian kata kata indah untukmu. Anganku tentang kata - kata indah itu nampaknya akan jadi angan saja, karena butuh waktu lama bagiku menulis kata kata indah, dan ternyata kata kata itu tak seindah puisi atau sajak yang sering kau baca. Aku tak mampu, atau mungkin aku tak punya bakat menulis kata kata indah. Kata-kata ku adalah kata biasa, dari seorang yang biasa dan tanpa bakat istimewa. Sesederhana itu, memang. 

Ya ini lah lembaran yang sederhana, menceritakan tentang sebuah cerita biasa tentang anak manusia kebanyakan seperti yang lainnya. Tentang kelahiran, tentang penghidupan, tentang cinta, tentang gejolak-gejolak, dan tentang senja di ujung sana. Ohya dan juga tentang harapan dan kekhawatiran. Dalam setiap hari di setiap fajar, terselip untaian kata-kata dalam doa-doa. Jika manusia hanya diberi satu kekuatan, kekuatan terbesar dalam diri manusia adalah harapan. Dan harapan itu adalah doa. Doa mewakili harapan. Harapan tentang kehidupan yang biasa di dalam sebuah cerita biasa, untuk anak manusia yang punya harapan biasa biasa saja. Menjalani hidup dengan ceria, dan menerima setiap lembaran lembaran tulisan ini dengan lapang dada dengan tanpa henti memunajat harapan tentang hidup yang berpelangi. 

Ku harap kamu tak kecewa, semua dalam cerita ini adalah cerita biasa. Bukan penuh dengan bunga-bunga apalagi puja-puja. Semua sangat sederhana, tapi dibalik ke-biasa-an itu, ada namamu dalam setiap jengkal langkah kakinya.

-Catatan Perjalanan Hidup-

Kamis, 19 November 2015

Bagaimana Mungkin

"Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa, dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin." - Sapardi Djoko Damono-.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Selasa, 22 September 2015

Malam & Perjalanan

Ini adalah perjalanan. Perjalanan dari rumah menuju rumah. Tempat kembali. Setiap hari, sama. Sudut-sudut jalan ini aku hafal betul jadinya. Deretan pepohonan yang mulai nampak gersang karena cuaca. Rantai mobil yang mengular bak sungai amazon. Jembatan penyeberangan yang selalu ramai oleh orang berlalu lalang. Aparat negara berbaju seragam di pinggir jalan, memegang peluit, yang selalu sigap menertibkan jalan. Jalan yang sama, kenangan yang sama, dan nuansa yang sama, yang selalu aku lalui setiap hari. Dari dan ke rumah. Rumah persinggahan. 

Ada satu bagian kecil dari perjalanan ini yang menarik aku perhatikan. Duduk, terpekur, berselimut kain lusuh, kaki terlipat, dan kepala menunduk. Sebuah gelas putih kusam tepat berada di bawah kakinya, sembari beberapa kali tangannya menengadah kepada beberapa orang yang melewatinya. Tanpa mendengakkan kepala, hanya menunduk. Ia adalah sosok perempuan renta yang selalu aku lihat dalam perjalanan ini. Badannya terlihat kurus dan kuyu. Beberapa helai rambut putihnya menjuntai dari sela-sela kain penutup kepalanya. Wajahnya tak jelas pasti, karena ia hanya menunduk setiap saat. Kulit tangannya keriput, dan terlihat rapuh, renta. Ia duduk ditempat yang sama, punggung bersandar dan kaki terlipat. 

Rabu, 14 Januari 2015

Aku Ingin Membaca Cerita Setiap Malam, Denganmu!

Tak ada yang lain yang aku nantikan setiap malam selain membaca sebuah cerita sebelum tidur. Aku menantikannya. Sama persis seperti ketika aku masih kecil dulu. Saat Ibuku mengajakku berbaring dikamar, lalu ia mengambilkan sebuah buku cerita untukku. Kami membuka buku itu bersama-sama, lalu aku memilih sebuah cerita, kemudian aku meminta Ibuku membacakannya. Setiap malam. Meski cerita itu aku dengar berulang-ulang, aku tidak pernah bosan mendengarnya. Itu adalah setiap malam yang aku impikan dimasa kecilku. 

Sayangnya aku tak pernah mempunyai masa kecil seperti itu, tidak seperti cerita anak-anak kaya di dalam novel atau televisi. Aku masih memimpikan masa dimana aku bisa membaca buku setiap malam bersama Ibuku. Memikirkannya, membuatku ingin membacakan buku setiap malam untuk seorang anak suatu ketika nanti. Ya, membaca sebuah buku bersama orang yang kau kasihi. 

Dan kini, aku dapat membaca buku-buku cerita setiap malam bersamamu. Aku menemukan impian masa kecilku perlahan terwujud ketika lembar demi lembar cerita itu kita baca bersama.  

Sudah bermacam buku aku baca, dan tak ada satupun yang membuatku bosan. Meskipun terkadang tidak jarang buku yang inti isinya sama seperti buku lain yang pernah ada. Aku hanya ingin membaca cerita cerita itu setiap malam, tidak peduli cerita baru atau berulang. Apalagi membaca bersamamu, membuat setiap isi cerita istimewa dan membawa mimpi indah dalam setiap tidurku. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Kamis, 18 September 2014

Love Campus


Aku pernah punya kenangan disini, 
Aku pernah punya banyak teman disini, 
Aku memulai semuanya dari sini, 

Aku tak akan pernah lupa, 
Almamater tercinta
Penuh cerita dan cinta

Tanpamu aku hanya kan jadi debu. 

Tak akan pernah bosan aku kembali
Melihatnya semakin kokoh berdiri
Kini, semakin aku bangga padamu

Ku genggam erat benderamu
Ku dekap dalam hati panji-panji mu
Membara dalam hati dan jiwa
Selamanya!

-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 20 Agustus 2014

Journey!

The hardest part of a journey is starting. The easiest part of a journey is giving up. 

Starting makes you stronger and firm, giving up makes you weak and fragile. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Selasa, 10 Juni 2014

My Wish

Semua kini berbeda. Kata-kata indah dulu lenyap, sirna, hilang. 
Satu kata yang abadi: mengapa.
Mengapa kita tak jua dewasa.
Mengapa bahagia tak kunjung tiba. 
Antara kamu dan aku. 
Mengapa. 

Aku tidak berbohong.
Aku tidak berdusta. 
Aku tidak membual.
Aku bukan lelaki amoral. Bukan.  
Aku hanya lelaki yang punya cinta besar buatmu.

Apa yang aku punya, semua, tak terhitung-tak terkira.
Mengapa kamu tak lagi mau (mencoba) percaya (lagi).
Aku bisa apa
Jika kamu memilih abai saja.
Aku bisa apa?!
Amarah dan derai air mata
Terisak-isak sendiri 

Selasa, 12 November 2013

Senjaku Disini



Senja. Ada lagi yang baru yang aku sukai: menatap senja. Matahari beranjak tenggelam menyisakan semburat cahaya emas. Langit bercahaya. Bias warna emasnya menerpa air laut. Cahaya menyembul di sela-sela awan. Langit dan laut bersatu di ujung cakrawala. 

Aku rajin duduk di tepi laut, tepatnya di tanggul pemecah ombak. Tempat favorit baru bagiku. Menatap jauh ke ufuk barat, menikmati detik demi detik jatuhnya mentari sore. Warna laut seolah menguning bak kilauan emas diterpa cahaya. Gemericik ombak dan angin terdengar laiknya orkestra alam. Gerakan permukaan air seperti balerina, menari seirama musik merdu lautan. 

Aku menerawang jauh tentang masa lalu, mimpi, dan dunia lain di luar sana yang sedang aku tinggalkan. Melalui cahaya-cahaya di langit senja itu, pikiranku menerobos waktu. Mengingat kembali mimpi-mimpi masa lalu. Aku rindu masa itu. Aku mau menghirup udara di balik senja itu. Lagi.  

Itu, matahari yang sama. Namun senja dan suasananya beda. Disini, aku nikmati betul indahnya senja. Tanpa terasa perlahan semburat cahanya makin kecil tenggelam dibalik awan, dan pulau-pulau di seberang. Menghilang di telan batas cakrawala bahtera. Tak terasa, cahanya hilang. Hari mulai gelap. Saatnya pulang. Iya, PULANG. 

Campur aduk rasanya ketika senja usai dan aku harus pulang. Antara sedih dan senang. Sedih karena senjaku hari ini telah usai, senang karena aku bisa Pulang. Ohya, aku lupa, bukannya, senja esok hari juga ada?. Aku masih bisa menikmati senja lagi. Tidak harus disini. Selama senja masih ada, aku akan terus mencarinya untuk aku reguk indahnya. 

Aku tersadar dalam perjalanan pulang melalui senja itu, sudah pernah kunikmati satu lagi karya seni Sang Maha Suci. Ketika aku disini, yang dulu tidak aku sadari.  

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 05 Agustus 2012

Rembulan Malam Ini

Rembulan malam ini bersinar terang dan sempurna. Tak henti aku terpesona akan pesonanya. Ingin aku berhenti sebentar, memandangimu hingga puas, bahkan kalau bisa aku ingin menggapaimu dan kubawa untuk menemani malamku seterusnya. Subhanallah, betapa ciptaan Tuhan ini tiada habis keiandahan dan pesonanya. Bersama dengan langit yang bertaburkan bintang gemintang malam ini, bulan begitu sempurna. Mereka membuat langit terasa seperti mahakarya teragung yang pernah ada. Bulan, bintang, dan langit malam melukis harmoni keindahan. Tiada jemu aku menikmati keindahan mereka. Aku seperti tersedot kedalam dimensi lain alam ini. 

Aku hentikan sebentar langkahku dan mulai duduk bersandar dibawah eloknya cahayanya. Aku pandangai ciptaan Tuhan yang tergantung dilangit sana. Tiada henti kuucap kekaguman betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Tiada karya buatan manusia satupun yang dapat menandingi sempurnanya mahakarya alam ini. Semburat cahaya bulan menerawang jauh dalam gelapnya malam. Suasana malam makin romantis karenanya.

Dalam hati aku mulai berdoa, semoga aku masih bisa menikmati sinar bulan yang sempurna seperti malam ini. Entah di belahan bumi manapun. Mungkin saat itu aku tengah berada di tengah pulau terpencil dan hanya ditemani suara hewan-hewan malam. Tak jadi masalah. Semoga rembulan seperti malam ini masih akan selalu menemani malamku.

Senin, 07 Mei 2012

Karena Aku Mengaguminya

Malam ini kulihat rembulan bulat bersinar terang, tinggi jauh diatas sana. Sangat indah dan mengagumkan. Perasaan setiap kali melihat bulan selalu sama, aku mengaguminya. Mengagumi keindahan dan kecantikannya, meski hanya bisa melihatnya saja. Melihatnya dari kejauhan. Tidak akan pernah mampu bisa aku menyentuhnya. Namun, itu sudah cukup bagiku. Kesejukan dan nuansa kedamain yang disebabkan karena melihatnya sudah mampu membuatku bahagia. Aku mengagumi dari kejauhan dan berharap ia tak akan pernah tahu. Seperti itulah kekagumanku padanya. Damai dan bahagia setiap kali melihatnya, namun tak akan kuasa mampu dekat dengannya. 


Aku lah salah satu manusia yang selalu senang dan bahagia setiap kali melihat wajah itu. Tahukah kamu, manusia yang selalu tersenyum setiap kali wajah itu terlihat juga tersenyum. Aku lah manusia yang mendoakannya setiap waktu semoga Tuhan selalu membersamainya. Semoga dia akan selalu begitu, seperti yang aku kagumi, seperti yang aku tahu, selamanya. Aku lah manusia yang terkesima dengan kecantikan dan ayu nya paras itu. Aku lah manusia yang mengagumi luhur dan baiknya budi pekerti itu. Wajahnya yang ayu terbungkus jilbab coklat nan serasi. Nada suaranya yang merdu, bergetar hati setiap kali mendengar suaranya. Subhanallah, itulah kata yang selalu bisa aku ucapkan setiap kali mendengar, melihat, dan membayangkannya. Belum pernah aku merasai kekaguman sampai seperti ini. Ia bak rembulan malam ini. 

Aku selalu mengaguminya, dari apapun, dari manapun, dan sampai kapanpun. Itu tidak akan pernah berubah. Aku tidak pernah bisa menghilangkan kegaguman ini. Meskipun dia tidak akan pernah tahu namaku, siapa aku, dan darimana aku. Ah, mengagumi memang jauh lebih indah seperti itu, membiarkan orang yang dikagumi tidak pernah tahu tentang pengagumnya. Aku tidak berharap ia mengenalku. Kekagumanku tidak berpamrih, kekagumanku ikhlas tanpa menuntut, tanpa menginginkan balasan apapun. 

Jumat, 06 April 2012

Bisa Dirasa Tak Bisa Dilihat (sebuah cerita)

Aku baru saja ingin keluar dari minimarket, tempat dimana aku selalu bisa mendapatkan semua barang-barang kebutuhan sehari-hariku. Minimarket ini seperti teman terakrab yang aku punya setidaknya sejak satu tahun belakangan ini. Aku juga sangat dekat dengan pemilik sekaligus penjaga minimarket ini yang adalah seorang Malaysia. Apalagi kami adalah saudara muslim, pertemuan kami di masjid setelah shalat Jumat dan pada pengajian rutin setiap Sabtu malam di masjid Al-Iman membuat kami semakin dekat. 

Sembari mendorong pintu minimarket, aku berteriak sekali lagi kearah temanku itu "Makasih ya teman!". Sambil sibuk melayani beberapa pembeli, dia menyahut teriakanku "you're welcome" serunya dibalik meja teller dibarengi senyum khasnya yang ramah. 

'Wussshhhh' dinginnya angin pergantian musim dingin menerpa wajahku seketika aku keluar dari minimarket. Suhu diluar seperti sekarang ini mungkin berkisar 5 derajat celcius. Aku langsung menutup kepalaku dengan kantong pembungkus kepala dibalik leher jaketku. Suhu dingin seperti ini membuatku harus sering-sering melumasi bibirku dengan minyak zaitun agar tidak menjadi terlalu kering dan pecah-pecah. Pernah sewaktu aku lupa membawa minyak zaitun, bibirku benar-benar menjadi korban dinginnya udara negara sub-tropis. Bibirku pecah-pecah, bahkan nampak merah karena berdarah. Sangat menyakitkan dan menyiksa. Itu membuatku tidak doyan makan selama 3 hari. Setelah itu, aku berjanji, tidak akan pernah lupa membawa botol kecil minyak zaitun sebelum musim dingin berlalu.

Rabu, 14 Maret 2012

Wahai Bidadari, Ijinkanlah Aku

Aku masih saja belum bisa melupakan wajah dan senyummu meskipun waktu telah lama meninggalkan masa itu, meski beribu jejak langkah telah aku tempuh, dan meski wajahmu tidak lagi aku jumpa.

Wahai bidadari surga, apalah ini artinya.

Aku memang sadar diri, dunia kita bagaikan langit dan bumi, namun aku masih tidak mampu memahami mengapa suara hatiku tidak mampu luput dari membisikan namamu, dan kenanganku dulu..

Wahai, Bukalah hatimu untuk ku meski sedikit. Beriku secuil ruang didalam hatimu bagiku. Aku ingin kau bisa memberikanku waktu dan kesempatan agar aku bisa membuktikan bahwa, kali ini, cintaku tidaklah main-main. Aku serius. 

Aku sudah bosan dengan semua permainan cinta yang pernah aku lalui. Aku ingin menggenggam satu hati, satu cinta, yang akan aku bawa kemanapun aku pergi. Aku ingin memegangnya dan tidak akan pernah aku lepas. 

Memang kau pernah mengatakan jangan pernah terburu-buru mengatakan cinta apalagi menjanjikan sesuatu yang itu diluar batas kemampuan sebelum sebuah hubungan dikatakan halal. Aku ingat betul kau pernah mengatakan itu kepadaku, tapi hingga detik ini, aku semakin merasakan bahwa aku tidak bisa lagi membohongi kata hatiku sendiri. 

Sabtu, 03 Maret 2012

Berlayar

Berlayar kini aku sekarang
Ditemani gelombang yang menggetarkan raga
Sayup angin berhembus masuk kedalam rongga-rongga hati


Mendayung terus aku mendayung
Mencari dermaga yang mahu di singgahi


Dengan kerapuhan kapal
Dengan layar yang lusuh
Aku terus mencari dermaga hati yang sudi untukku bersandar


Dermaga yang mahu menerima 
Semua keadaan yang ada di kapal ini
Dermaga yang bisa membangun keadaan ini
Dermaga yang bisa menghiasi dengan butiran-butiran kasih sayang
Tulus dari dalam relung-relung inti hati


by: tanpa nama

Minggu, 26 Februari 2012

Maafkan Aku, Cintaku untukmu Selamanya

Jika hati tidak lagi cukup menyampaikan isi nurani, jika mulut tidak mampu lagi menyampaikan kata hati. Semoga, tulisan ini menjadi saksi ketulusan dan kedalaman rasa didalam hatiku. Rangkain kata yang kucoba susun serapi mungkin sebagai cara untuk mengekspresikan betapa sulitnya aku menggambarkan besar, tinggi, dan luasnya rasa cintaku ini. Meskipun aku tahu, mungkin kau tidak akan pernah tahu, namun aku akan selalu mencoba. Aku ingin perasaanku ini terabadikan untuk selamanya, hanya untukmu.

Ini adalah perasaanku sedalamnya untuk seorang wanita juara satu seluruh dunia: Ibuku. 

Sejak aku kecil, kau memang tidak pernah duduk disebelah kasur tempat tidurku, mengusap kepalaku, dan mengatakan "selamat tidur". Kecupan di kening pun tidak pernah kau berikan untukku. Bahkan, mungkin, itu semua tidak pernah terpikirkan oleh dirimu. Aku juga tidak pernah mendengarkan cerita dongeng beraneka rupa sebagai pengantar tidurku. Kau juga tidak pernah duduk disebelah kursi belajarku dan menjelaskan bagaimana menyelesaikan PR-PR ku.

Tahukah kau Ibu, dulu, saat hari pengambilan raport tiba, aku sangat berharap kau datang ke sekolah dengan pakain terbaik dan mengambilkan raport itu untukku. Namun tak sekalipun engkau datang kesekolah untuk mengambilkan raport itu untukku. Aku cuma ingin seperti teman-temanku yang raportnya diambilkan oleh ibu mereka. Cuma itu. 

Sabtu, 04 Februari 2012

When it (love) comes, you'll open to it


Kata-kata didalam tulisan bisa menjadi sarana ampuh untuk mengekspresikan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Terkadang, ketidakberanian dalam mengatakan membuat semua itu berlalu begitu saja. Apalagi jika hanya dengan mengandalkan kata hati atau telepati, sulit rasanya. Kamu butuh suatu cara efektif agar isi otak dan hatimu dapat tersampaikan, tanpa mengurangi sedikitpun maksud dan esensinya karena ketidakberanianmu sendiri. 

Seseorang belum bisa meraih cinta bukan karena ia tidak berusaha untuk mencari dan kemudian menggenggamnya, tapi terkadang karena ia tidak atau belum bisa menginjinkan cinta yang datang masuk kedalam hatinya. Ada banyak alasan mengapa seseorang belum merespon hadirnya cinta dalam hidupnya, salah satunya  adalah karena ia belum siap dengan sebuah cinta baru. Ia terkadang menjadi sangat cuek untuk meresponnya karena takut jika pada akhirnya, cinta itu kembali hanya akan berakhir seperti sebelumnya. Atau pun misalnya disebabkan karena keraguannya akan cinta yang tak berbalas. Keduanya, sama sakitnya. 

Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu