Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Desember 2015

Sabina

Dunia ini indah jika kita dicintai orang yang kita cintai.

Sabina terhuyung masuk kedalam kamarnya. Ia buka dan tutup pintu kamarnya dengan lesu. Ia letakan begitu saja kedua sepatu yang ia pakai. Tanpa menghiraukan apapun lagi disekelilingnya, ia hempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia merasa tengah terbang. Tubuhnya ringan terbawa angin. Hatinya kosong dan wajahnya sendu. Tatapan matanya hampa, menatap sudut kamar. Jiwanya tengah melayang-layang tak tau kemana. Pikiranya seperti tubuhnya, ringan, bak kapas yang terbang bersama angin kemanapun angin membawanya. Ia menerawang. Pikirannya kembali pada peristiwa siang tadi tepat sebelum akhirnya ia putuskan pulang. Pikirannya dan hatinya, kompak bersatu, menyeru dirinya di dalam ruangnya sendiri "Mengapa ia tega pergi begitu saja meninggalkanku. Sedangkan aku sudah melakukan semua yang ia mau agar kita tetap bersama. Aku meyakinkannya berulang kali, bahkan mengulang cerita tentang kebersamaan dan cerita indah kita bersama. Apa lagi yang harus aku lakukan. Akankah cinta hilang setelah sekian kali aku berusaha?. Apakah sulit bagiku dicintai orang yang benar-benar aku cintai dan perjuangkan". Perseteruan pikiran dan hatinya tak kunjung usai. Ia masih pencari pegangan untuk mengembalikan kesadaran jiwanya. Hingga akhirnya, matanya terlelap dalam balutan jiwa yang kosong. 

Apakah aku bisa dicintai seperti layaknya aku mencintainya.................. Sayup sayup suara dalam kepalanya bergema sebelum akhirnya ia terlelap tidur. Ia terlalu lelah.

 
-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 06 April 2012

Bisa Dirasa Tak Bisa Dilihat (sebuah cerita)

Aku baru saja ingin keluar dari minimarket, tempat dimana aku selalu bisa mendapatkan semua barang-barang kebutuhan sehari-hariku. Minimarket ini seperti teman terakrab yang aku punya setidaknya sejak satu tahun belakangan ini. Aku juga sangat dekat dengan pemilik sekaligus penjaga minimarket ini yang adalah seorang Malaysia. Apalagi kami adalah saudara muslim, pertemuan kami di masjid setelah shalat Jumat dan pada pengajian rutin setiap Sabtu malam di masjid Al-Iman membuat kami semakin dekat. 

Sembari mendorong pintu minimarket, aku berteriak sekali lagi kearah temanku itu "Makasih ya teman!". Sambil sibuk melayani beberapa pembeli, dia menyahut teriakanku "you're welcome" serunya dibalik meja teller dibarengi senyum khasnya yang ramah. 

'Wussshhhh' dinginnya angin pergantian musim dingin menerpa wajahku seketika aku keluar dari minimarket. Suhu diluar seperti sekarang ini mungkin berkisar 5 derajat celcius. Aku langsung menutup kepalaku dengan kantong pembungkus kepala dibalik leher jaketku. Suhu dingin seperti ini membuatku harus sering-sering melumasi bibirku dengan minyak zaitun agar tidak menjadi terlalu kering dan pecah-pecah. Pernah sewaktu aku lupa membawa minyak zaitun, bibirku benar-benar menjadi korban dinginnya udara negara sub-tropis. Bibirku pecah-pecah, bahkan nampak merah karena berdarah. Sangat menyakitkan dan menyiksa. Itu membuatku tidak doyan makan selama 3 hari. Setelah itu, aku berjanji, tidak akan pernah lupa membawa botol kecil minyak zaitun sebelum musim dingin berlalu.

Minggu, 01 Januari 2012

Kampusku Suatu Saat Nanti (part.7-habis)

*****
Aku berjalan mendekati pintu utama. Aku berdiri didepan sebuah kotak besar yang berisi berbagai macam informasi. Disana ada berbagai macam ikon bergambar, yang bisa memberikan informasi kepada siapa saja yang menekan ikon tersebut. Ada ikon bergambar dan bertuliskan “map”, “room”, “schedule”, “activities”, dan lain sebagainya. Ternyata layar besar ini, semacam pusat informasi semua kegiatan kemahasiswaaan di fakultasku. Semua bisa mengaksesnya informasi didalamnya hanya dekan cukup menekan tombol ikon yang diinginkan atau disana juga tertulis “click us at www.scfpik.undip.ac.id”. Tinggal klik saja sesuai dengan alamat website yang tersedia. Benar-benar sudah sangat maju sekarang, berbeda ketika jamanku aktif di organisasi mahasiswa.  Gambar-gambar di layar sentuh ini pun berganti-ganti dengan sendirinya, seperti yang aku temui di lantai satu dekanat tadi.

Aku coba tekan ikon “map” di layar tersebut. Gambar sebuah peta muncul di layar tersebut. Banyak sekali ruangan dan nomor ruangan dilayar monitor. Dibawah gambar peta, aku lihat terdapat informasi yang menunjukan nama setiap nomor ruangan itu. Ruang A.101: Sekretariat BEM FPIK. Ruang A. 102: HMJ Ilmu Kelautan; Ruang A. 103: HMJ KMP Perikanan; dan seterusnya. Ternyata semua organisasi mahasiswa berada didalam gedung ini. Semuanya mempunyai kantor digedung ini, berbeda sekali ketika aku masih mahasiswa di fakultas ini. Banyak nama-nama organisasi mahasiswa yang tidak aku kenal disana. Organisasi mahasiswa di fakultasku telah banyak berubah.

Kampusku Suatu Saat Nanti (part.6)

*****
Aku segera beranjak dan bergegas keluar dari gedung dekanat. Sebelum keluar aku ucapkan terimakasih kepada resepsionis sembari tersenyum. Saat aku keluar mendekati pintu utama, sepintas aku melihat foto-foto mahasiswa yang terpasang di sebuah majalah dinding elektronik, tepat sebelum pintu utama. Saat menunggu tadi, aku belum sempat memperhatikan foto-foto ini. Foto dan tulisan yang tertampil disana bergerak dan berganti secara otomatis.

Karena penasaran aku berhenti sejenak. AKu lihat foto seorang mahasiswa FPIK yang sedang menerima piala dan hadiah. Dia menjadi juara dalam sebuah kompetisi. Foto berganti setelah kurang lebih 1 menit. Sekarang aku lihat, foto beberapa kelompok mahasiswa sedang menyelam di bawah laut, sembari mengacungkan jempol tangan kanannya ke kamera. Foto selanjutnya adalah mahasiswa-mahasiswa FPIK yang sedang mengadakan acara semacam bakti sosial disebuah kawasan pesisir. Ternyata ini semacam foto-foto kegiatan dan prestasi mahasiswa FPIK. Kemahasiswaan di fakultasku ini sepertinya telah mengalami kemajuan cukup pesat, dan sudah sangat diapresiasi oleh pihak fakultas. Mading elektronik ini buktinya. Cukup menarik, gumamku dalam hati.

Kampusku Suatu Saat Nanti (part.5)

Aku sudah diberi tahu oleh beberapa temanku dari fakultas yang sama maupun yang berbeda bahwa 2 tahun sejak aku lulus, kampusku gencar-gencarnya memanggil alumni-alumni yang telah selesai study di luar negeri untuk pulang ke Indonesia dan mengabdi kepada kampus. Kebetulan ada seorang teman yang dia sudah pulang ke Indonesia dan sekarang ini mengabdikan dirinya dikampus setelah dia diminta oleh pihak kampus. Berita itu aku tanggapi dengan sangat positif. Itu artinya kampusku yang dulu terkesan mengabaikan lulusan-lulusan terbaik dan bahkan seperti kurang memfalisitasi alumni untuk melanjutkan study ke luar negeri, perlahan muali peduli dengan bibit-bibit terbaik mereka. Kesan positif pun mulai muncul.

Saat ini pun, aku dengar, tidak hanya meminta alumni yang telah selesai kuliah di luar negeri untuk pulang dan mengembangkan kampus, tapi juga alumni potensial yang baru lulus dibantu oleh kampus untuk segera melanjutkan study ke luar negeri dan kemudian harus mengabdikan diri memajukan kampus setelah selesai masa studi. Kampusku ini sekarang sedang mengalami masa perkembangan yang sangat pesat, jadi banyak dibutuhkan tenaga-tenaga ahli danfresh untuk membantu proses kemajuan itu. Aku senang mengetahui kondisi ini.

Kampusku Suatu Saat Nanti (part.4)

*****
Sebelum menuju pintu masuk, tidak lupa aku masukan terlebih dulu kamera kedalam tas punggung, dan memastikan bajuku sudah tertata rapi. Pintu masuk gedung bergeser otomatis seketika aku menginjakan kaki didepan pintu itu. Aku masuk kedalam gedung, dan tepat diseberang pintu meja resepsionis sudah menyambutku. Disana telah siap seorang perempuan yang menyambutku dengan senyum manisnya. Aku sedikit tertegun ketika aku perhatikan, ternyata wanita ini memakai jilbab. “Selamat siang mas, ada yang bisa saya bantu?”, sapanya dengan ramah. “Iya mbak, saya Panca, saya sudah ada janji dengan Bapak Dekan jam 13.30 dikantor beliau”, jawabku dengan wajah yang tidak kalah ramahnya. “Baik, sebentar ya mas, silakan mas Panca berkenan menunggu sebentar disebelah sana sementara saya memastikan bapak dikantor beliau”, sambil tangan kanannya menunjuk deretan kursi disebelah pintu masuk. “baik, terimakasih mbak”, jawabku.

Aku kemudian duduk. Sembari duduk, aku melihat resepsionis itu menekan tombol telfon dan mulai berbicara. Nampaknya sudah ada teknologi video call dikampus ini, batinku. Sambil menunggu dipanggil oleh resepsionis, mataku tidak henti memandangi sekeliling ruangan. Ada kalimat ucapan selamat datang “SELAMAT DATANG DI FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN” tertempel didinding diatas ruangan recepsionis. Tulisan warna biru muda yang tersusun rapi itu cukup berkesan dimataku. Ada banyak foto-foto ikan, lautan, pesisir, dan aktifitas-aktifitas kemahasiswaan di lantai satu ini yang tertempel rapi di dinding. Ruangan-ruangan didalam gedung itu tertutup oleh kaca buram, dan ada papan putih bertulis nama masing-masing ruangan disetiap pintunya.

Kampusku Suatu Saat Nanti (part.3)

Ada baliho besar yang tertampang didepan bangunan Student Centre, bergambar dua orang lelaki sedang saling mengepalkan tangan. Disana tertulis Presiden dan Wakil Presiden BEM KM UNDIP. Subhanallah, keren. Aku menjadi teringat aktifitasku dulu ketika sedang menuntut ilmu dikampus ini. Aku pun sempat menghabiskan waktuku disebuah bangunan pusat aktifitas kegiatan mahasiswa. Tapi dulu, gedungnya tidak sebesar dan serapi ini.

Aku lihat mahasiswa-mahasiswa berkelompok sedang berdiskusi dengan serius sambil memandangi pemimpin diskusi yang terlihat sedang menulis sesuatu di white board. Sekelompok mahasiswa lainnya sedang berlatih drama sambil membawa kertas ditangan mereka. Beberapa dari mahasiswa yang lain sedang sibuk membuat semacam alat peraga dan mewarnai sebuah papan. Tampak dari kejauhan seorang mahasiswa yang sedang memberi contoh gerakan tari kepada mahasiswa yang lain. Ada juga beberapa yang sedang sibuk mengetik sesuatu di notebook mereka. Tidak jauh dari bangunan itu, ada mushola yang nampak indah dari kejauhan. Di seberang bangunan yang lain, terdapat kantin besar yang dipenuhi dengan gambar berbacam jenis makanan diatasnya. Kantin itu dipenuhi mahasiswa yang sedang bersantap siang dengan teman-temannya. Sambil makan dan minum, mereka masih saja memegang kertas dan sepertinya sedang mendiskuskan isi kertas itu. Pemandangan yang luar biasa, nuansa dan amosfer yang sangat berbeda ketika aku terakhir kali berada dikampus ini. Tidak lupa aku abadikan pemandangan itu kedalam kameraku, berharap aku bisa memajang foto-foto itu kedalam album pribadiku. Entah tidak terhitung lagi berapa foto yang sudah aku jadikan album dan aku simpan hingga sekarang. Aku memang suka mengoleksi foto, bahkan foto seorang nenek tua yang aku ambil di Afrika dua tahun lalu masih aku simpan sampai sekarang.

Aku melihat jam tanganku, kurang 10 menit lagi. Aku harus segera bergegas. 

Kampusku Suatu Saat Nanti (part.2)

Sekarang banyak mahasiswa yang berjalan kaki kekampus. Berbeda sekali saat aku masih kuliah dikampus ini. Bahkan untuk jalan kaki, keluar gedung kuliah saja rasanya malas. Tapi sekarang, nuansa kampus ini benar-benar sejuk dan alami. Indah dan menenangkan untuk dinikmati dengan berjalan kaki.

Aku berpapasan dengan mahasiswa yang nampak asyik mendengarkan sesuatu dari earphone ditelinganya. Sambil berjalan, dia sesekali membuka-buka buku catatan yang dia bawa. Unik! Jarang sekali aku lihat mahasiswa yang punya kemampuan belajar sambil berjalan. Apalagi ditambah dengan earphone itu. Pasti butuh konsentrasi tinggi. Merasa mendapatkan obyek yang menarik, aku arahkan kameraku kesosok mahasiswa itu, takut dianggap menggangu aku jepret secepat mungkin.

Beberapa mahasiswa yang berlalu lalang ini, aku dengar sedang bercakap-cakap dalam bahasa inggris. Ada juga beberapa mahasiswa asing yang aku lihat turut berjalan bersama mahasiswa lokal. Jika dilihat dari perawakannya, mereka sepertinya berasal dari Eropa, China, Jepang, dan Afrika. Kampusku sekarang semakin mendunia, pikirku.

Aku mendengar beberapa perbincangan mahasiswa-mahasiswa yang sedang berjalan didepanku. Mereka sedang membicarakan tentang laporan dan tugas dosen sepertinya. Aku hanya sayup-sayup mendengar kata-kata dari mulut mereka. Terdengar kata “laporan, deadline, referensi, esay, dan perpustakaan”. Satu lagi yang membuatku terkesima dengan mahasiswa-mahasiswa yang ‘menemani’ perjalananku ini adalah mayoritas mereka, setelah aku perhatikan, menenteng buku. Baik itu textbook, buku catatan, novel, maupaun sekedar komik yang sampulnya bisa aku lihat. Bergumam dalam hati, berbeda sekali ya saat aku masih kuliah disini, dulu kala.

Kampusku Suatu Saat Nanti (part.1)

Ada perasaan gugup sekaligus senang ketika taksi yang aku naiki turun didepan  sebuah gedung tinggi beratap runcing. Aku pandangi bangunan megah itu dengan penuh ketakjuban. Arsitek gedung ini pasti sangat brilliant dan jenius, gumamku dalam hati. Aku termangu didalam taksi hingga akhirnya terjaga ketika sopir taksi menegurku “Sudah sampai Mas”. Cukup kaget aku karenanya.

Aku lirik argo-meter didepanku sesaat, lalu kukeluarkan dompet dari saku belakang celana jeansku dan aku serahkan uang 50 ribu, “Ambil saja kembaliannya pak”. Tangan sopir taksi yang akan mengambil uang kembalian disaku celananya sedikit tertahan, sambil tersenyum dia ucapkan terimakasih.

Aku buka pintu mobil dengan perlahan. Akhirnya, aku menginjakan kaki untuk kali pertama sejak 7 tahun lalu di kampusku ini. Kampus yang telah memberikan banyak arti dalam hidupku. Kampus penuh kenangan.

Aku keluarkan kamera SLR Canon 600D dari tas punggungku, dan mulai memandangi sekeliling. Keadannya sudah sangat jauh berbeda semenjak aku terakhir kali di kampus ini. Aku pandangi bangunan didepanku. Bangunan megah, tinggi, dan ramai dipadati mahasiswa itu masih sangat aku ingat. Masjid Kampus Universitas Diponegoro. Sekarang, ada kantin, pepohonan yang rindang, dan tenda-tenda kecil, serta sitting ground.

Selasa, 23 Agustus 2011

Cewek itu Ternyata Seniorku

Aku mengendarai sepeda motorku dengan cepat. Aku takut terlambat. Hari pertama kuliahku di kampus biru ini jangan sampai menjadi kenangan buruk hanya gara-gara satu kata "terlambat". Aku tidak ingin sang dosen tidak mengijinkan aku masuk kelas. Apa kata dunia nantinya? Aku pacu motorku dengan tergesa-gesa, pedal gas di tangan kananku aku putar dengan cepat, aku meliuk melewati kendaraaan yang lain sambil berdoa didalam hati aku akan selamat dan tidak terlambat. Ini memang salahku, kenapa aku bangun kesiangan. Bodohnya aku, kenapa semalam aku malah begadang nonton film. Aku mengutuk diriku sendiri.

Segera aku berlari menuju gedung kampusku. Tempat parkir dan pintu utama gedung kampusku memang tidak terlalu jauh, tapi karena rasa takut yang amat sangat, aku putuskan untuk terus berlari. Karena berlari dan sedikit panik, aku lupa dimana ruang kuliahku. Ah, bodohnya aku, gerutuku didalam hati. Aku berhenti sejenak didalam gedung lantai satu, sambil terengah-engah mengambil nafas aku melihat sekeliling. Jujur saja, ini baru kedua kalinya aku masuk ke dalam kampusku ini. Maklum masih mahasiswa baru, jadi belum terlalu paham letak geografis ruangan didalam gedung ini. Aku semakin jengkel saja, terutama dengan kondisi seperti ini. Aku melihat sekitar, banyak mahasiswa dan pegawai yang lalu lalang. Tidak ada satupun yang aku kenal. Aku mencari-cari orang yang nampak bisa membantuku untuk menemukan ruang kelasku. Aku tidak melihat seorang pun pegawai diruangannya. Aku menyega keringatku, menghela nafas, dan sesaat kemudian aku lihat seorang wanita berjilbab menyeberang masuk kedalam koridor lantai satu. Mungkin dia tau ruangan yang aku cari. Aku putuskan untuk menhampirinya dari samping. 

"Emm, mbak, maaf numpang nanya, ruang kelas biologi biasanya dimana ya mbak?", aku bertanya kepada wanita itu dengan masih menahan nafas ngos-ngosanku. 
"Ehh, iya, maaf, gmana mas, ada yang bisa dibantu?" dia agak kaget karena aku bertanya tiba-tiba. Dia kemudian memutar tubuhnya ke ara sumber pertanyaan itu: aku. Ternyata pertanyaanku tadi tidak cukup jelas bagi wanita itu. Sesaat setelah aku menatap mukanya, wooow, dia sangat cantik batinku. 

Aku terpana untuk sesaat melihat kecantikan wajahnya, wajah putih bersih yang dibalut dengan jilbab biru laut itu benar-benar adalah kecantikan yang alami. Tanpa make-up sedikitpun. Aku justru terpana tanpa bisa mengulangi pertanyaanku kembali. Rasa panik dan kebingunganku serta merta hilang digantikan dengan pesona wajah wanita berjilbab ini.

"Maaf mas, ada yang bisa saya bantu?".
"Eh, maaf mbak, saya mahasiswa baru disini, saya mencari ruang kuliah Biologi dimana ya mbak?"Dengan sedikit terbata aku mencoba melancarkan pertanyaanku. Dia benar-benar menawan, masih didalam hatiku. Kecantikannya adalah natural, alamiah. Badannya yang tinggi semampai semakin menunjukan bahwa dia wanita yang elegan. 


Dia mengamatiku sebentar yang terlihat masih kusut ini, kemudian "Mahasiswa baru ya?"
Aku mengangguk saja, menahan nafas kemudian tersenyum...
"ruang kelas biologi, biasanya ada dilantai 3 dek (dia memanggilku dek, setelah sebelumnya dia panggil aku 'mas'). Adek naik aja kelantai 3, nanti disana ada 4 ruang kelas, cari saja diantara 4 ruang kelas itu. Oke". Hah, aku cukup kaget dia secepat itu berubah dengan memanggilku "adek", berarti dia senior ku di kampus ini dong. Wah, kebetulan sekali batinku. 

"Ok, baik, emm, terimakasih ya Mbak. Saya langsung naik keatas, takut terlambat". Dengan gerak tubuh yang agak kikuk.
"Iya, silakan dek". Dia langsung berputar dan melanjutkan langkah kakinya, membelok kesebuah koridor di sebelah kanan. 

Segera aku hendak segera berlari naik tangga ke lantai 3, tapi sesegera itu aku lambatkan langkahku sambil menatap ke arah wanita itu pergi. Aku masih bisa melihatnya dari belakang. Dia menggunakan jilbab biru laut, pakaian lengan panjang putih dengan renda diujungnya dan rok panjang berwarna biru yang menyentuh ujung atas sepatunya. Dia tetap tampak menawan meski dari belakang batinku. 

Aku segera teringat dengan kuliahku, segera aku berlari. 

Senin, 30 Mei 2011

Cerita di Ujung Dermaga

Matahari mulai menyentuh ujung garis di ufuk barat. Menyentuh ujung cakrawala. Semburat merahnya bersinar indah menerangi temaram sore itu. Air laut bergemericik mengombak perlahan diwarnai dengan indahnya semburat cahaya merah diatas. Bagaikan lukisan indah sang maestro langit yang tertumpah di lautan lepas. Pantai sudah sepi dengan aktivitas manusia, para nelayan sudah pulang untuk mempersiapkan pelayaran esok harinya. Hanya tersisa deretan kapal-kapal ukuran sedang yang sedang ditambat di pinggiran dermaga. Pantai nan indah di sore hari. Dermaga yang sepi, hanya bisikan gemericik air laut membentur pelan pinggiran pasir pantai. Siapa sangka, ada dua suara hati yang kencangnya melebihi suara gemericik air laut sore itu, jika suara hati mereka bisa terdengar.

Seorang pemuda berdiri di pinggir dermaga, menatap kosong ke arah pantai yang airnya berwarna kemerahan karena mentari sore. Ia sedang tidak menatap apa-apa sebenarnya, ia hanya sedang terfokus pada suara wanita yang berdiri dua meter dibelakang dari tempatnya ia berdiri. Wanita berkerudung biru muda, parasnya putih, cantik, proporsional dengan balutan baju putih dan rok berwarna krem bermotif. Sambil sesekali ia membetulkan kerudungnya, gadis itu menguatkan diri untuk menyapa sang pemuda yang berdiri membelakanginya. Ia menguatkan pegangan di kedua tangannya, suaranya masih tertahan untuk mengucap kalimat kepada si pemuda.

"Ehhh.......ehmm..." awalnya hanya suara lirih penuh keraguan yang bisa muncul dari mulut gadis berwajah cantik itu. Sang Pemuda tetap diam, tak bergeming, berpura-pura tidak mendengar suara apapun.

"Ehmm....kenapa kamu pergi tidak berpamitan dengan kami (ahh, kenapa ingin bilang aku susah sekali), kamu pergi begitu saja....bahkan pesan pun tidak ada. Kami (hufft, lagi-lagi susah menyebut aku) sangat mengkhawatirkanmu. Kami sangat membutuhkan bantuan kamu, semuanya membutuhkanmu. Kamu pergi begitu saja, membuat kami (aku maksudnya) bertanya, apakah ada kesalahan atau permasalahan besar yang terjadi. Kamu tau, apa yang sudah terjadi selama kamu pergi?, semuanya berubah sejak kamu pergi, semuanya memburuk........aku pun tidak tahu harus bagaimana". Gadis itu menyudahi kalimatnya dengan helaan nafas pendek, mencoba agar helaan nafasnya tidak terdengar oleh sang pemuda. Pemuda di pinggir dermaga itu masih saja diam.

Rambut pemuda itu sesekali bergoyang-goyang ditiup angin pantai. Masih diam menatap ujung lautan. Ia mendengar semua yang gadis itu ucapkan kepadanya, namun ia mencoba untuk tetap diam sembari terus menatap kosong lautan lepas diujung mata. Ingin menjawab namun tidak bisa, ingin selalu diam, namun gemuruh didalam hatinya semakin lama tidak kuasa ia kendalikan. Ada semacam kegelisahan yang entah apa artinya, sang pemuda tidak bisa mentercemahkan.

"Kami (ahh, aku maksudnya) selalu mendoakanmu semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya. ehhhhhffftttt.....Aku (akhirnya aku) bersyukur melihatmu kembali kesini", sambil menahan nafas pelan, membetulkan kerudung biru mudanya, gadis cantik itu melanjutkan kembali. "Jika, eeee....kami mempunyai salah, tolong maafkan. Kamu tahu...." agak tertahan cukup lama, sambil menguatkan hati sembari memegang kedua tangannya sendiri, ia berusaha melanjutkan "aku mengharapkanmu kembali". Wajah gadis itu seketika menunduk, menatap alas semen dermaga yang sudah koyak. Menahan wajah yang mulai memerah.

Ada perasaan gemuruh tak terperi didalam diri pemuda itu. Saat ini, ia sedang berdiri membelakangi wanita yang selama beberapa tahun yang lalu, telah mengisi relung hatinya yang terdalam. Mencoba menyembunyikannya agar tidak ada seorangpun yang tahu perasaannya tidak terkecuali si gadis itu. Meski tidak dapat dibohongi perhatiannya kepada gadis itu melebihi siapapun, dan mungkin itu pula yang dirasakan oleh gadis berkerudung itu. Ia telah lama mencoba mengubur rasa itu, menguburnya dalam-dalam dari relung hatinya. Makin lama ia tersadar bahwa mengharapkan gadis itu, ibarat merindukan rembulan jatuh di siang hari. Selama itu, sang gadis hanya diam, tidak pernah memberikan kata atau penjelasan apapun kepadanya meski ia telah mencoba menunjukan hatinya melalui perhatiannya. Bahkan pemuda itu sering mengharap sang gadis akan menjadi teman sejatinya. Mengharap dalam diam adalah cara bunuh diri yang paling menyakitkan di seluruh dunia. Hatinya terus teriris oleh diam yang mengisi penantiannya. Iya, selama itu, sang gadis hanya diam. Bayang-bayang sang gadis masih menghantui isi hatinya meski ia berusaha menghapusnya. Sekarang, gadis itu datang, tepat dibelakangnya.

"Emmm....."
dengungan suara tertahan keluar dari mulut sang pemuda. Membuat sanga gadis mendongakan kepala melihat kearah sang pemuda. Dengan penuh keberanian, kebulatan tekad, ia memberanikan diri. Si pemuda membalikan badannya, dan tanpa menatap sang gadis ia berucap "maafkan aku".

Wajah gadis itu nampak agak kemerahan. Sang pemuda masih menunduk, menahan gejolak didalam hatinya. Kemudian perlahan ia mulai menatap ke arah sanga gadis yang berdiri beberapa meter didepannya. Menatap kerudung sang gadis yang sesekali membetulkan letak kerudung birunya. Waktu ibarat berhenti saat itu, angin berhenti bertiup, suara gemericik air laut senyap, dan bagaikan sebuah film, semuanya berhenti dalam mode pause. Bahkan, sang pemuda dapat dengan jelas mendengar dentuman suara jantungnya yang semakin cepat.

"Aku tidak pernah tahu apa yang kamu pikirkan sampai sekarang, kamu tidak pernah memberitahukannya kepadaku. Aku tidak pernah tahu."

Ia mencoba menguatkan setiap kata yang ia ucapkan, agar tidak terdengar bahwa sebenarnya ia sangat malu dan grogi mengatakan hal ini. Rasa didalam hatinya masih saja bergemuruh, ia sekuat tenaga untuk mengendalikannya. Sesekali ia melihat wajah gadis itu. Masih cantik seperti dulu, kerudungnya masih saja sangat serasi dengannya, damai seperti biasanya, seperti dulu saat ia sering berjumpa dan berdiskusi bersama. Namun, setelah waktu berjalan, kemudian ia pikir, semuanya itu hanya sebatas sejarah biasa didalam kisah perjalanan hidupnya. Menanti dalam diam, bagaikan tetesan air garam diatas luka. Semakin perih rasanya. Siapa yang bisa menahan luka seperti itu?tak kuat rasanya pemuda itu menahannya, hingga ia putuskan untuk pergi. Lepas dari luka perih itu.

Sang gadis berusaha membetulkan letak berdirinya, menunduk, kemudian melihat kosong ke ujung pantai. Sengaja ia tidak melihat ke arah sang pemuda secara langsung. Ia berkata sambil melihat ke arah pantai disebelah kiri. Tidak kuasa ia memandang langsung wajah sang pemuda.

"Maafkan aku. Mau kah kamu melupakan masa lalu?"

Detak jantung sang pemuda semakin kencang. Ternyata hatinya yang terdalam tidak bisa ia sembunyikan dan bohongi. Ia bertanya-tanya, apa makna kalimat si gadis itu baru saja?. Ia semakin tidak bisa mencerna apa arti kata-kata si gadis itu. Ia menunduk sebentar, menanti penjelasan dari sang gadis. Ia tidak akan pernah menerka sendiri arti kata sang gadis, tidak akan sampai ia menjelaskannya sendiri.

Cerita di ujung dermaga

By Panca DP



Cerpen: Mata itu adalah Kekuatanku.

Entah sudah berapa kali aku pulang ke kampung halamanku, sebuah desa kecil yang cukup jauh dari pusat pemerintahan. Tak terhitung sejak aku memutuskan untuk merantau menuntut ilmu di ibu kota provinsi. Jalan yang aku lalui masih tetap sama, belum ada perubahan sejak aku pertama kali melewati jalan ini. Aku lebih suka duduk di dekat jendela kaca, menolehkan kepala sembari memandang berbagai realita kehidupan di sepanjang jalan. Ya, aku suka melihat deretan pohon berjajar rapi, hijau, dan menyejukan. Bukit hijau nan jauh disana bak lukisan asli Sang Pencipta yang menghiasi bumi ini. Sesekali, deretan warung dari kayu berjajar di pinggir jalan yang aku lalui. Masih sama seperti dulu, hijau, coklat, dan putih.....tergambar di pikiranku. Tergambar akan kisah rantauku di ujung kota itu. Melihat dibalik kaca bus, membawaku seolah-olah sedang berada didalam bioskop, memandang layar lebar dengan gambarnya yang silih berganti. Potongan cerita kehidupan yang berkelebat muncul dari dalam otakku.

Bus berhenti di tempat aku seperti biasanya berhenti. Aku bergegas turun kemudian berjalan menuju minimarket di ujung belokan jalan besar ini. Disekelilingku pun masih sama, toko-toko, bangunan, pedagang makanan di pinggir jalan, becak-becak di pinggir jalan, angkot, semuanya tidak ada perubahan. Matahari sudah diujung barat. "Pak, aku sudah sampek, di depan Alfamart, MTS" aku menelepon Bapakku, meminta beliau untuk menjemputku di tempat biasa. Beliau masih dirumah, bersiap untuk berangkat saat menerima telfon dariku. Aku memang lebih sering meminta orang tuaku untuk menjemputku dibandingkan naik angkot ke desa tempat tinggalku. Karena seringnya, aku sampai di kabupatenku sore atau malam hari, angkutan umum menuju desaku biasanya sudah agak sulit ditemui saat hari menjelang maghrib.

Dengan dibonceng motor Bapakku, aku sekali lagi melihat potongan-potongan memori masa lalu silih berganti berputar seperti film dibisokop. Masih sama, sejak aku kecil. Tidak ada yang berubah. Begitulah kota kecilku ini, masih sama, dan mungkin akan selalu begitu. "Ono perbaikan jalan, jembatan deket desa lagi diperbaiki, macet, dowo banget. Jadi agak lama". Suara Bapakku dari depan membuka perbincangan. Cuma “ooh” didalam hatiku. "Lho kok jalanne ditutup to ki Pak?ada apa?"aku bertanya seketika Bapakku tidak melewati jalan seperti biasanya. "Ono lomba balapan motor tadi siang" beliau menjawab. Hanya "ooh" lagi didalam hatiku, karena tidak lagi heran mendengar jawaban Bapakku, sudah sangat sering jalan di sekitar alun-alun kota dibuat lomba balap motor. Seketika terbersit dikepalaku masuk kemana uang penyelenggaraan lomba itu ya. Kok, masih sama saja kondisi Kabupatennku ini ya, malah banyak jalan yang sudah mulai terlihat tidak baik lagi. Jalan menuju desa ku pun masih tetap sama. Ternyata benar kata Bapakku, deretan kendaraan mengantri panjang menunggu giliran lewat diatas jembatan yang masih diperbaiki. Ini adalah pemandangan yang berbeda. Aku masih sangat hafal, jalan membelok kerumah tempat tinggalku. Jalan masuk yang cukup panjang, lagi-lagi pemandangannya masih sama. Kami berbelok masuk kedalam jalan desa. Deretan rumah yang tidak terlalu rapat, jembatan, sawah, gedung bekas sekolah SD ku dulu (SD tempat aku bersekolah dulu sudah tidak ada lagi, sudah digabung dengan SD dipinggir jalan besar, hanya tersisa gedung tua tak terurus), jalan penuh batu yang belum diaspal, rimbunan pohon, jalan tanah, dan akhirnya rumah bercat putih yang menghadap ke selatan. Masih sama, ini lah rumah keluargaku, rumah sejuta kenangan.

Aku habiskan masa kecilku di rumah ini, halaman luas didepan dan samping rumahku menjadi saksi masa kecil ku yang nakal dulu. Bermain tanah, berlari-larian dibawah hujan, bermain bola dan perang-perangan dengan teman semasa kecil, dan juga tempat aku sering dimarahi oleh Bapakku dan Mamakku. Aku memang termasuk anak yang nakal, sering membuat jengkel orangtua dan kakak-kakakku. Aku juga anak yang tidak begitu rajin, malas, dan jarang membantu pekerjaan orang tua. Orang tuaku sering sekali marah-marah untuk yang satu ini, aku enggan untuk diajak kesawah, enggan menyapu halaman, enggan mencuci piring, dan enggan untuk sekedar mencuci bajuku sendiri, apalagi membantu memasak di dapur. Jangan harap dulu aku mau melakukannya. Aku hanya suka bermain dan menonton televisi. Hanya sesekali, aku membantu pekerjaan orang tua dan kakakku, itu pun jika sedang mau saja. Karena itulah dulu aku sering sekali dimarahi dengan membandingkan aku dengan teman semasa kecilku dulu yang lebih rajin. "Tu, liat si temenmu itu lho, tiap hari ke sawah, mbantu orang tua" aku ingat betul kalimat ini. Membantu pekerjaan orang tua di sawah sepertinya sudah menjadi parameter di lingkungan desaku untuk menilai apakah anak rajin atau tidak. Mayoritas penduduk desaku memang petani sawah, hidup sederhana, layaknya petani pada umumnya. Meskipun dari sisi rajin tidaknya membantu orang tua aku kalah dibandingkan teman-temanku, aku masih punya satu kelebihan dibandingkan mereka. Aku selalu rangking 1 di SD, meski hanya 9 orang muridnya, hehe. Lulus dengan NEM terbaik di SD ku dan berhasil diterima di SMP terfavorit di kabupatenku, ya aku satu-satunya anak dari dusunku yang sekolah di kota. Temanku yang lain melanjutkan di SMP negeri yang ada didesa kami.

Wajah yang amat kurindukan, wajah yang penuh dengan kedamaian, meski belakangan beberapa tahun ini aku lihat wajahnya tidak sesehat dulu, dia lah Ibuku, Mamakku, wanita yang telah melahirkan dan merawatku denga penuh kasih dan sayang. Ia menyambutku di depan pintu, kukecup tangannya dan kedua pipinya. Senyum mengembang dari bibirnya, kerut wajah itu semakin jelas, tangannya makin kurus, uban dirambutnya semakin banyak. Mamakku yang hanya bersekolah sampai kelas 2 SD itu lalu masuk kedalam rumah menemaniku, sembari menawarkan segelas air minum. "Berangkat jam berapa tadi dari Semarang?" pertanyaan standar yang sering Mamakku tanyakan setiap kali aku pulang. Sembari meletakan tas aku jawab "jam 2 tadi siang". Aku sangat salut dan bangga kepada Mamakku, meskipun bersekolah hanya sampai kelas 2 SD karena tidak diperbolehkan oleh Ibunya, beliau mempunyai semangat kerja yang sangat luar biasa. Beliau tipe wanita yang tidak bisa diam, apapun pasti akan dikerjakannya. Aku sering bercerita tentang kuliah dan kegiatanku, dan sesering itu pula, Mamakku sering bertanya banyak hal yang justru menggambarkan bahwa beliau tidak mengerti dengan penjelasanku. Namun demikian, motivasi dan dukungan kepada anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah sungguh sangat luar biasa. Beliau selalu bilang “Biar mamak aja yang gak sekolah, kalian semua harus sekolah kalau bisa sampai setinggi-tingginya”.

Rumahku masih sama seperti saat pertama kali aku bisa mengingat isinya. Sama seperti saat aku kecil dulu, hanya beberapa benda yang posisinya berbeda. Tidak ada benda baru didalamnya, kecuali mungkin hanya kulkas, televisi, dan DVD player itu. Gedhek (papan dari bambu) yang membatasi kamar satu dengan yang lainnya masih terpasang sama seperti saat aku kecil dulu. Gedheknya masih kelihatan kokoh. Lantai dari semen dan ubin yang masih sama seperti dulu. Posisi tempat duduk diruang depan sedikit berubah. Kursi bambu yang dulunya masih bagus dan kokoh mulai terlihat keropos dan agak lapuk. Satu-satunya lemari besar diruang depan terlihat sangat berdebu dan banyak bagian dalamnya yang terlepas. Lemari itu tidak lagi seindah dan sebersih dulu. Perasaanku, ruang depan ini jadi lebih berdebu. Ahh, mungkin sudah tidak banyak aktifitas diruang depan ini sekarang dibandingkan saat aku kecil dulu. Aku bermain apa saja diruangan ini, sekarang hanya kedua orang tua dan adikku yang menempati rumah ini. Mungkin mereka tidak lagi sering berada di ruang depan. Kami memang lebih banyak mengobrol diruang makan sekaligus melihat televisi. Rumahku tipikal rumah didesa, sederhana dan apa adanya. Aku habiskan waktu semalam ini bersama kedua orangtuaku, setidaknya sampai besok siang hingga aku siap kembali ke ibu kota provinsi. Aku semakin merasa, harapan besar mereka ada dipundaku. Kasih sayang mereka, perhatian mereka terlukis jelas diantara kedua mata mereka. Orang tuaku, merekalah alasan ku untuk terus maju. Aku ingin terus membahagiakan mereka, beriku kesempatan ya ALLAH.

"Pak, Mak, aku mau balik ke Semararng siang ini" sembari mulai mengemasi barang bawaanku. "Oh, yo, wes mangan durung?" Mamakku bertanya hal ini setiap kali aku akan pergi. Mamakku sangat perhatian sekali saat aku dirumah, dibandingkan sebelum aku kuliah di ibu kota. "Sampun" sembari mataku melihat mamakku masuk kedalam kamar. Beliau pasti akan mengambil uang saku, batinku. Aku agak sungkan memang setiap kali meminta uang langsung kepada orang tuaku. Entah kenapa, aku terus merasa tidak enak dan merasa terus saja merepotkan mereka. Sejujurnya, ingin sekali aku berhenti dari meminta uang kepada mereka. Meskipun, mereka pasti memberikan uang yang aku minta, tapi tetap saja aku sungkan. Didalam hatiku, aku masih menganggap aku belum berguna bagi mereka. Aku belum bisa membantu meringankan kerja mereka. Aku menerima uang dari tangan Mamakku, sambil didalam hati terenyuh betapa sudah banyak uang yang mereka habiskan untuk membiayai sekolahku. Aku masih ingat Mamakku sering mengatakan "Ya bersyukur, gak banyak yang bisa seperti kamu, makane urip ki sing ngati-ati , Bapak karo Mamak cuma bisa ngasih ilmu". Aku berjanji, aku akan membuat mereka selalu bahagia dan bangga kepadaku.

Motor Bapakku satu-satunya dirumah dibawa adikku pergi kuliah. Mau gak mau aku harus berjalan kaki satu kilometer sampai jalan ujung desa untuk naik angkutan umum menuju kota kabupaten. Aku menyalami kedua tangan Bapak dan Mamakku, mohon doa restu agar semua urusanku diberikan kemudahan. Melihat ada sepeda onthel Bapakku yang sering dipakek ke sawah terparkir diluar rumah, aku sontak berucap "makek iki kayake lebih cepet Pak", sambil menunjuk sepeda itu dan mengarahkan pandanganku ke arah Bapakku. " Yo, makek sepeda wae biar cepet dan gak jalan dewean" begitu kata Bapakku. Mamakku sambil tersenyum "Iyo, nganggo pit (sepeda) wae, kuat lah pit kuwi dipakek". Aku lipat celana jeansku sampai ke lutut. Bapakku sudah siap aku bonceng dibelakang. Sambil menggendong tas punggung, aku mulai mengayuh sepeda onthel menuju jalan setapak berlapis semen. Sambil kadang geli dan tertawa aku kayuh semakin cepat. Perasaanku campur aduk, senang, bahagia, dan capek sekaligus. Aku masih ingat dulu waktu kecil, Bapakku sering mengajak aku berkunjung ke rumah saudara menggunakan sepeda onthel seperti ini. Aku pasti akan diletakan di ranjang anak-anak diantara kemudi sepeda. Kenangan masa kecil bersama orang tua yang sangat indah. "Dulu kan Bapak sering banget bonceng aku pakek keranjang anak-anak didepan to pak?", aku bertanya kepada Bapakku yang masih duduk dibelakang. "Iya, dulu kemana-mana naik sepeda....sampai pernah jatuh waktu dari tempat saudara. Pas, jalan belok, kemudinya gak bisa belok karena ada ranjang didepan, ya akhirnya tibo gedhublakan" Kata Bapakku sambil ketawa membuatkuku pun tertawa sambil menahan nafas ngos-ngosan. “Dulu setiap hari kemana-mana naik sepeda, yoo alon-alon, suwi-suwi yo bisa beli motor” Bapakku melanjutkan. Seketika itu, aku kembali teringat kisah perjuangan kedua orangtuaku, bekerja keras setiap hari membanting tulang di sawah. Tapi, bagian yang terjatuh waktu kecil dulu aku tidak ingat sama sekali. Didalam hati, hah, hah, hah, nafasku memburu, terasa berat. Apalagi harus melewati jalan berbatu dan dua tanjakan. Disisi lain hatiku, aku merasa sangat senang bisa membonceng Bapakku seperti ini. Dulu saat aku kecil, aku dibonceng Bapakku dengan sepedanya, sekarang giliran aku memboncengkan beliau. Rimbunan bambu dan sawah menyapa perjalanan kami, hingga akhirnya sampailah di jalan besar tempat angkutan umum akan membawaku sampai ke kota. Semasa kecil dulu, Bapakku sering sekali memarahiku, namun sekarang ini aku semakin sadar bahwa sesungguhnya beliau sangat menyayangiku. Inside my heart, my whisper said "i love you mam and dad, I promise to always make you all proud”.

By: Panca DP


Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu