Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2020

Learning Curve

Ini adalah salah satu fase terberat dalam karir saya. Saya pernah ingat, saya pernah merasakan perasaan ini dalam karir saya dulu. Kini entah bagaimana, saya merasakannya lagi. Sulit untuk dijelaskan, tapi rasanya seperti mayat hidup. Semakin kamu merefleksikan karir, semakin tak karuan rasanya.

I don't feel belong. Saya tak merasakan tempat untuk berkarya dan memiliki seutuhnya pekerjaan saya, sehingga saya bisa menikmatinya.

Sekitar 4 tahun lalu, saya sempat merasakannya, saat dimana langkah kakimu ke tempat kerja itu terasa berat. Banyak hal yang memang saya masih lakukan waktu itu, saya berdaya, tapi tak benar-benar hidup. Saya tidak merasakan keterikatan dan dedikasi yang sesungguhnya ke lingkungan dan tempat kerja saya. Ya, saya tetap produktif, menghasilkan banyak hal, namun I dont feel belong there, the people, the leader, and the company.

Kini, saya justru merasa tak melakukan apa-apa. Tak berdaya dan tak berkarya semestinya. Ingin saya meningkatkan keahlian, pengalaman, dan pengetahuan namun justru selalu ada rasa was-was kalau kalau pekerjaan saya tak sama seperti yang atasan harapkan. Saya tidak merasakan adanya phychologist safety, akhirnya saya memilih untuk melakukan hal yang standard saja. Karena saya tak melihat ada autonomy untuk mengambil keputusan dan berkreasi. At the end, I dont feel safe and I dont feel belong & engage di lingkungan kerja saya.

Rabu, 14 Agustus 2019

Questiong about Greater Cause

Mulai perlahan masuk pada satu titik hidup dimana pertanyaan tentang "What are you looking for?", "Why do you keep doing this?" mulai terus terusan bermunculan. Bagaimana cara saya dalam bekerja dan semua hal yang saya lakukan di tempat kerja, sejatinya untuk apa?. Untuk siapa?. Siapa yang paling diuntungkan dengan semua hal yang saya lakukan ini?. I feel depressed sometimes. Khususnya saat apa yang saya lakukan dipertanyakan orang lain, di-tekan orang lain dan seolah apa yang saya lakukan tak pernah ada cukupnya.

Why am I still feel this way?. What are you really searcing for?. Is it really for your own sake of your profession?. Or it is jus simply because you want to gain respect from others?.

Saya mulai mengambang, mulai tak tau harus melakukan apa saat tekanan datang bertubi-tubi, tapi seolah tak berdaya melakukan apapun. Ketika itulah saya bertanya-tanya, mengapa saya melakukan ini semua?. APakah ini sejalan dengan apa yang saya percayai?.

Take a long break, and deep breath. Menyelami pikiran dan hati saya, lalu disanalah saya mulai berpikir tentang apa sejatinya makna keberadaan saya di dunia, dengan pekerjaan saya dan apa yang akan saya lakukan setelahnya. Apakah saya sudah memberi cukup dampak berarti? Atau jangan-jangan saya hanyalah robot penggila status kerja yang datang pagi pulang sore?.

What is your greater cause and believe?.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 29 Juli 2019

Berterimakasih lah pada Tuhan karena ini...

Jika Tuhan tidak menutup dosa-dosa kita dihadapan para manusia, mungkin sudah tak ada orang lain yang mau bergaul dengan kita. Orang lain akan jijik dan menjauhi kita. Bahkan tak ada orang lagi yang akan hormat dan menghargai kita.

Beruntung, hanya Tuhan yang maha tau dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat, dan tidak membiarkannya diketahui orang lain. Ini juga mungkin adalah bentuk karunia dan nikmat yang Tuhan berikan kepada setiap insan. IA menutupi keburukan seseorang dihadapan orang lain.

Kita patut bersyukur akan hal ini. Bahwa kita masih ditutupi dari keburukan-keburukan dan dosa-dosa kita dari orang lain. Bayangkan jika dosa dan keburukan yang pernah kita lakukan berwujud dan selalu mengikuti kemanapun kita pergi. Misal, satu kali melakukan dosa tumbuh 1 koreng dikulit kita. Semakin banyak dosa, semakin banyak koreng menutupi sekujur tubuh kita. Orang akan jijik, begitu juga kita sendiri. Orang lain bakalan menjauh dan tak ada satupun yang akan menghargai kita.

So, keep humble, tidak tidak akan pernah tau kapan Tuhan akan memberi tahu orang lain akan keburukan-keburukan kita. Sampai saat itu tiba, jauhilah dosa dan perbanyak kebaikan. Berbuat baiklah terhadap sesama dan jadilah manusia yang taat dan takut kepadaNYA.


Semangat pagi!....

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 22 November 2015

Mamak

"Mamak seneng kalau kamu mau kuliah. Mamak ini orang bodo, SD aja gak lulus. Biar aja mamak bodo, asal gak nurun ke anak-anak Mamak. Mamak seneng kalau anak-anak mamak bisa sekolah tinggi, biar yang kerja keras banting tulang orang tua. Cuma kepinteran yang bisa Mamak kasih ke anak-anak Mamak. Biar kalau kerja gak susah kayak Bapak dan Mamak. Alhamdulillah kalau kamu bilang mau kuliah. Biar gimana caranya Mamak akan biayai. Mamak rencananya mau jual sawah mamak di kampungnya simbah untuk biaya daftar kuliah kamu". 

Kalimat itu masing terngiang-ngiang diingatanku, bahkan hingga detik ini. Sampai kapanpun tidak akan pernah aku lupa. Ujian Nasional kelulusan SMK sudah dekat waktu itu. Aku yang sebelumnya tak berpikir untuk malanjutkan sekolah lagi, tapi entah mendapat inspirasi dari mana, secara tiba-tiba ingin sekali bisa melanjutkan sekolah lagi, ke perguruan tinggi. Barang mahal dan jarang bagi kebanyakan pemuda di desaku. Malam itu, saat  usiaku belum begitu remaja, aku mengutarakan keinginanku untuk masuk perguruan tinggi.  Apapun perguruan tingginya. Dan malam itu, di tengah meja makan kayu tempat kami biasa bersantap malam, Mamak mengucapkan kalimat demi kalimat yang tak akan pernah aku lupakan itu. Kata demi kata terngiang, berputar selalu dikepalaku, mengingatnya aku selalu tercambuk, terlecut oleh rasa syukur dan haru. 

Mamak, tak terhitung banyak kebaikan yang kau alirkan untukku. Semuanya terakumulasi menjadi satu kebaikan terbaik yang tak pernah dapat dibandingkan dengan kebaikan lain di dunia ini. Marahmu, omelanmu, jengkelmu, cemasmu, takutmu, waktumu, kerja kerasmu, keringatmu, dan semua senyumanmu itu tak lain dan tak bukan hanya mengharap semua kebaikan dan kebahagiaan hanya bermuara padaku. Untuk waktu itu, waktu nanti, dan waktu selamanya. Aku sebatas anak yang punya ego dan cita-cita setinggi langit, namun terkadang lupa, bahwa pohon tinggi pun semua bibitnya disemai dan dirawat dari tanah, dari bumi. Semua tanah dan bumi tempat apapun pohonnya adalah Ibu. Mamak, perempuan terbaik, penyemai dan perawat bibit-bibit pohon ego dan cita-cita anak manusia. Ia hanya bisa menopangnya dan memupuknya dengan segala jenis muara kebaikan untuk pertumbuhan si pohon manusia. Mengingatmu, hanya selalu membuatku tak kuasa membendung tangis haruku.

Selasa, 22 September 2015

Malam & Perjalanan

Ini adalah perjalanan. Perjalanan dari rumah menuju rumah. Tempat kembali. Setiap hari, sama. Sudut-sudut jalan ini aku hafal betul jadinya. Deretan pepohonan yang mulai nampak gersang karena cuaca. Rantai mobil yang mengular bak sungai amazon. Jembatan penyeberangan yang selalu ramai oleh orang berlalu lalang. Aparat negara berbaju seragam di pinggir jalan, memegang peluit, yang selalu sigap menertibkan jalan. Jalan yang sama, kenangan yang sama, dan nuansa yang sama, yang selalu aku lalui setiap hari. Dari dan ke rumah. Rumah persinggahan. 

Ada satu bagian kecil dari perjalanan ini yang menarik aku perhatikan. Duduk, terpekur, berselimut kain lusuh, kaki terlipat, dan kepala menunduk. Sebuah gelas putih kusam tepat berada di bawah kakinya, sembari beberapa kali tangannya menengadah kepada beberapa orang yang melewatinya. Tanpa mendengakkan kepala, hanya menunduk. Ia adalah sosok perempuan renta yang selalu aku lihat dalam perjalanan ini. Badannya terlihat kurus dan kuyu. Beberapa helai rambut putihnya menjuntai dari sela-sela kain penutup kepalanya. Wajahnya tak jelas pasti, karena ia hanya menunduk setiap saat. Kulit tangannya keriput, dan terlihat rapuh, renta. Ia duduk ditempat yang sama, punggung bersandar dan kaki terlipat. 

Jumat, 20 Februari 2015

Air Mata

Ia ada agar manusia paham bahwa rasa itu ada.
Ia dicipta untuk menunjukkan bahwa manusia itu punya hati. 
Ia bukan alat untuk menunjukkan kelemahan.
Tapi, sebaliknya, ia bukti kekuatan dan ketegaran. 

Ia juga bukan wujud dari ketidakberdayaan. 
Ia penunjuk kelembutan hati dan kepekaan jiwa. 
Ia tak bisa dipaksa untuk ada.
Yang pasti, ia akan ada setiap kali manusia punya kedalaman rasa.
Ada untuk manusia teristimewa dalam hidupnya.  

Ia terhubung dengan pikiran dan hati. 
Bukan sekedar butiran-butiran tanpa arti. 
Atau sekedar sensasi dari perjalanan. 
Ia akan memberimu arti dalam, bahwa hati dan pikirannya terpaut kuat akan dirimu. 

Hanya orang istimewa yang akan merasakan keberadaannya
Karena ia menunjukkan, sekali lagi, betapa dalamnya rasa yang ia punya. 

Air mata ini, untuk(MU). 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 04 Januari 2015

2014

Baiklah, mungkin ini akan sulit, tapi untuk pelajaran dan demi sebuah dokumentasi kehidupan, aku layak menulis tentang kehidupanku di tahun 2014. Di awal tahun 2015 ini, aku ingin sekali lagi mengingat momen-momen kehidupan yang telah terjadi tahun lalu, yang mana hingga detik ini aku anggap sebagai sebuah pelajaran kehidupan yang sangat berharga dan tak ingin aku rasakan lagi di masa depan. 

Ya, satu kata untuk tahun 2014: suram. Aku tidak berlebihan atau ingin melebih-lebihkan bagaimana jalannya kehidupanku di tahun 2014. Bagi orang lain yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya, atau apa yang sesungguhnya terjadi pada kehidupanku, mungkin mengira hidupku normal-normal saja alias baik-baik saja. Aku sendiri memang yang mengetahui dan merasakannya sendiri. Karena itu, di awal tahun ini, tahun yang baru ini, aku berdoa semoga aku bisa mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik. Amin. 

Kamu tak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada kehidupanmu. Tidak akan pernah. Semua sepakat akan hal ini. Begitu pula aku, tak akan pernah mengira, Tuhan memberi ujian melalui cara yang tak pernah disangka pula. Ya, mungkin itu adalah cara Tuhan memberi hadiah kepadaku tentang kehidupan yang sebenarnya, bahwa hidup itu tidak melulu seperti apa yang kita impikan. IA memberi kekuatan melalui cobaan, IA memberi keimanan melalui ujian, IA memberi kesadaran melalui kesalahan. IA menegurmu melalui cara yang menyakitkan, agar kau terbangun dari kesalahan jangka panjangmu. Atau mungkin kamu mengira bahwa hidup itu lancar-lancar saja, yahh pasti kau salah. Kau perlu dijatuhkan agar kau lebih mensyukuri momen ketika kau berada diatas. 

Rabu, 01 Oktober 2014

Integritas

Aku bertanya padamu tentang apa itu 'integritas'. Aku cari artinya di kamus, berharap dengan utuh memahami maknanya. 

Kata ini ternyata pada mulanya tidak ada dalam kosa kata bahasa negara ini. Ia diimpor dari negara nan jauh disana. 'Integrity'. Ya, yang artinya menurut kamus Oxford menghubungkan arti integritas dengan kepribadian seseorang yaitu jujur dan utuh.

Jadi apakah karena kata ini adalah kata impor, maka perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini sulit atau jarang aku temui?. Bagaimana bentuk integritas itu sejatinya?. 


-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 06 Agustus 2014

Dear Panca

Dear Panca, 

Bagaimana kabarmu sekarang?. Lama sekali aku tidak mendengar kabar darimu. Katanya, kamu ada kesibukan baru ya sekarang. Kok gak pernah cerita lagi?. Terlalu sibuk ya?. Apapun yang kamu lakukan, aku doakan kamu selalu sehat. Eh, tapi aku dengar dari kawan, katanya kamu sekarang kurusan ya?. Bener?. Wah, kamu harus jaga pola makan dan kesehatan lho. Jangan lupa olahraga juga, biar bugar. Bukannya dari dulu kamu suka olahraga?. Dulu kan kita sering main futsal, renang, jogging, basket dan kamu orang yang paling bersemangat kalau diajak olahraga itu kan?!. Pokoknya pesan aku, jaga kesehatan, apapun yang kamu lakukan, sesibuk apapun, jangan sampai telat makan. Kalau libur kerja, olahraga lah. Kalau ada waktu luang gak usah mikir aneh-aneh yang bikin pusing, lakukan sesuatu yang positif. Ok?.

Tuh kan, belum apa-apa pembukaannya udah banyak banget gitu. Apalagi isinya ini. Haha. Ok Ok aku janji aku nulis gak akan banyak-banyak biar kamu gak pusing bacanya. Tapi serius lho, aku pengen banget kamu cerita kesibukan kamu sekarang. Kenapa si gak mau lagi cerita kayak dulu?. Kalau ada pikiran, bagi-bagi lah ke aku, meskipun gak semua bisa aku tanggapi atau aku bantu, tapi setidaknya dengan bercerita kamu bisa mengurangi sedikit pikiran kamu. 

Kayak dulu itu lho, kamu suka banget cerita apapun yang kamu alami. Kamu orang paling optimis yang pernah aku temui dan optimisme kamu itu bisa menular ke aku yang hanya dengerin cerita kamu. Aku harap kamu masih seperti itu, seperti dulu, saat aku masih bisa menjadi teman berbagi ceritamu. 

Senin, 23 Juni 2014

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar?
Semoga kamu selalu sehat dan tidak mudah sakit lagi. Aku selalu mendoakan kamu setiap waktu, tidak hanya di dan setelah ritual rutin harianku. Aku percaya kamu pasti sibuk sekali, sama seperti kamu yang pernah aku kenal selama ini. Kamu pasti lupa waktu, pekerjaanmu menenggelamkanmu dalam kesibukan luar biasa. Hingga, kamu tak sempat memikirkan kehidupan pribadimu, yaa atau mungkin saja aku. Aku ingin tau kabar kamu, ceritakan sedikit kesibukan kamu sekarang ya?.

Hai, apa kabar?
Apakah tujuan hidup kamu sudah semakin dekat?. Aku percaya, tujuan hidup kamu yang begitu jelas itu, dapat mengangkat hidupmu lebih bahagia. Kamu punya sesuatu untuk dituju dan diraih. Tujuan hidup kamu akan menuntun kamu menuju kebahagian hakiki. Sebentar lagi. Kamu sedang mengarah kesana. Mungkinkah kamu lebih bahagia sekarang?.

Hai, apa kabar?
Belum lama, aku menelusuri jejak-jejak yang pernah aku tinggalkan dulu. Ahh..iya, bukan hanya aku, ada kamu juga disana. Dulu. Aku duduk ditempat yang sama, aku makan makanan yang sama, dan aku berbicara kata-kata yang sama. Sekedar ingin mengembalikan sesuatu yang berarti yang pernah aku punya dalam hidup aku. Hahahahaha, aku ingin tertawa melihat kelakuanku sendiri. Mungkin terlihat bodoh dimata orang-orang, bahwa aku duduk, makan, dan tertawa. SENDIRIAN. Lucu. Tapi itu begitulah caraku bertemu lagi denganmu.

Selasa, 27 Mei 2014

Recovery (4): Doa


3 bulan ini, rutin saya memanjatkan doa yang sama terus menerus. Saya makin tertekan dan kadang merasa tersiksa serta bertanya-tanya mengapa tak kunjung juga doa saya mewujud. Rasanya patah arang untuk terus menerus meminta kepada ALLAH hal yang sama, namun tak kunjung tiba. Hingga saya berpikir mungkin saya belum cukup pantas meminta, karena dosa dan kelalaian saya di masa silam. Saya harus menjadi baik dulu baru kemudian saya memanjatkan doa atas hajat-hajat saya.

Saya mengibaratkan seperti cerita seorang anak yang meminta sesuatu kepada orang tuanya. Jika si anak pernah melakukan kesalahan, bikin murka orang tua, dan meskipun si anak sudah meminta maaf namun masih terkadang membuat kesalahan, maka sulit orang tua mengabulkan permintaannya. Kecuali orang tua sudah melihat anaknya telah kembali jadi anak baik-baik. Mana ada permintaan anak nakal yang dituruti orangtuanya.

Sampai kemudian saya tidak lagi meminta apa-apa lagi. Sehabis sholat dan berdoa, saya hanya pasrah. Apapun dari Mu Ya ALLAH, saya terima. Itu pikir saya kemudian.  Saya berasumsi, mungkin karena Allah belum memandang saya layak untuk dijawab doa-doanya.

Nyatanya pikiran dan asumsi saya salah. Allah sepertinya menjawab asumsi saya itu dengan menggerakkan saya untuk datang ke kajian akhir pekan setiap Jumat malam di Masjid Sunda Kelapa. Saya datang dengan harapan saya dapat men-charge kembali keilmuan dan keimanan saya. Melemahnya iman dapat disebabkan karena kebodohan. Orang yang bodoh atau kurang ilmu agamanya, atau tidak pernah datang ke majelis ilmu, imannya akan lebih mudah turun. Karena itu, datang ke majelis ilmu secara rutin mampu mempertahankan bahkan meningkatkan level keimanan kita. Itu terbukti benar.

Jumat, 16 Mei 2014

Recovery (3): Menuntut Ilmu

Sebuah artikel mengingatkan saya kembali tentang iman. Iman adalah perkara hati. Sebagaimana hati, iman mudah terbolak balik. Dan kata Rasulullah, Iman manusia bisa naik dan bisa turun. Menurunnya iman ternyata, salah satu penyebabnya adalah kebodohan. Bodoh yang dimaksud adalah ketidaktahuan tentang ilmu syar'i. 

Saya ambil dari cerita saya sendiri. Iman akan lebih mudah menurun jika tidak diberi asupan ilmu agama. Makin jarang tidak memberi asupan ilmu, iman akan jatuh bebas tanpa penghalang. Ilmu agama yang kita masukan sebagai charge ruhani, tidak melulu melalui pengajian. Bisa saja lewat buku bacaan, video, maupun audio. Menjaga iman dengan mempertahankan asupan ruhiyah ini ternyata krusial artinya. Karena, seperti yang saya katakan diawal tadi, menurunnya iman penyebab pertamanya adalah rendahnya kita menuntut atau menambah ilmu agama kita. 

Perumpamaan sederhananya ibarat bateri handphone lah. Jika bateri drop, kita perlu men-chargenya. Agar bateri kembali terisi, maka perlu dicharge terus menerus. Begitu pula iman. Kita perlu mencharge nya agar iman terus naik dan pada puncak tertinggi, akan tetap stabil.

Senin, 21 April 2014

Recovery (1) : Bersyukur

Welcome Monday!. Senin??!!, yeahhhh!!.  I love Monday *selfperception*. Tidak terasa, Senin kembali menyapa. Setelah libur 3 hari yang menginspirasi, kini saya kembali harus menatap dunia nyata. Seperti biasa, saya bergegas menuju stasiun kereta, berjalan kaki dan melintasi jalanan penuh kendaraan beroda. Tiba di stasiun pukul 06.25. Tidak lama kereta pun tiba, saya berdesakan, sedikit memaksa untuk masuk dalam rangakian gerbong kereta. Kereta sudah penuh, tidak ada cara lebih sopan lainnya untuk masuk. Mendorong dan mendesak lebih sopan dibanding harus menerjang atau memaksa dengan teriakan. Tergencet ditengah kerumunan manusia dan terpepet daun pintu gerbong sudah biasa. Ketika kereta condong karena harus berbelok, tekanannya jadi luar biasa. Seperti tertindih berton-ton baja. 

Obrolan dengan kedua kakak perempuan saya, Minggu (20 April 2014) kembali terngiang. Bagaimana perjuangan dan penderitaaan mereka semenjak kecil membuat saya berpikir: "Apa yang saya lakukan ini tidaklah ada apa-apanya". Apalagi jika terbayang kerasnya Bapak saya bekerja, mencangkul dan mengolah sawah di desa, ahhh....malu rasanya saya mengutuk atau sekedar mengeluh tentang hidup saya. 

Dibawah tanah masih ada tanah. Ungkapan ini kembali mengingatkan saya betapa sejujurnya hidup saya ini jauh lebih beruntung dibandingkan beberapa orang diluar sana. Pemandangan sepanjang pinggiran rel kereta menuju tempat kerja membuktikan bahwa kalimat saya sebelumnya benar adanya: saya jauh lebih beruntung

Saya melihat deretan rumah kumuh di pinggir rel kereta. Beratapkan terpal dan berdinding triplek. Onggokan sampah-sampah dan botol-botol bekas dimana-mana. Seorang ibu-ibu sedang memompa kran air dari sumur untuk mencuci dan seorang pria paruh baya sedang membersihkan gerobaknya. Baju-baju dijemur berjajar diatas "atap" rumah-rumah itu. Melihat pemandangan seperti ini, kembali saya diingatkan betapa saya seharusnya lebih bersyukur dengan hidup saya. Meskipun belum punya rumah sendiri, saya tinggal dirumah kakak saya yang sangat layak. Semuanya ada. Sejelek-jeleknya rumah keluarga saya, masih jauh lebih layak rumah keluarga saya. Tidak ada diantara kami yang mempunyai rumah beratap terpal dan berdinding triplek. Bayangkan, apa lagi yang kurang?.

Rabu, 26 Maret 2014

Kehilangan

Hari yang kemarin adalah sejarah. Sejarah mengajarkan manusia tentang pengalaman hidup. Pengalaman membawa manusia pada kecerdasan dan pemahaman yang lebih baik. Sejarah dan pengalaman adalah akumulasi, penjumlahan sedikit demi sedikit dari berbagai rangkaian peristiwa. Tuhan tidak menghendaki sesuatu tanpa suatu proses. IA tidak menciptakan sesuatu dengan begitu saja; tiba-tiba. Ada serangkaian peristiwa yang saling terkait hingga akhirnya peristiwa puncak terjadi.Hidup manusia akan makin dewasa seiring semakin banyaknya peristiwa hidup yang ia alami. Pengalaman manusia makin besar dan dalam, seiring dengan makin bertambahnya peristiwa-peristiwa hidup. 
Saat sesuatu tertentu terjadi pada kita, tidak jarang kita masih pada tahap bertanya:  "Apa ini?", "Buat apa ini?. Kita bertanya-tanya karena memang waktu untuk datangnya jawaban belum saatnya tiba. Level pengalaman kita belum datang pada jawabannya. Tuhan tidak serta merta menunjukan sesuatu dengan tiba-tiba. Ia menciptakan dengan proses. Satu tingkat demi satu tingkat. Ia memberikan jawaban atas pertanyaan kita dengan memberikan proses pemahaman setahap demi setahap. Bagi orang yang pandai menangkap jawabannya, maka diujung suatu peristiwa ia akan berkata "Aha!, ini dia jawabannya. Aku mengerti". 

Senin, 10 Maret 2014

Tak Lagi Sama

Langit yang biru kini menghitam
Langit cerah berubah mendung

Daun hijau kini jadi coklat
Yang segar kini me-layu

Yang baru kini menjadi usang
Cerah berubah kelabu

Awalnya terang kini jadi gelap
Awalnya masih, kini habis

Kini, yang dulu, TAK LAGI SAMA

Sudah HABIS
HABIS tak Bersisa

Tinggal JASAD tanpa NYAWA

-Catatan Perjalanan Hidup-

Selasa, 04 Maret 2014

Lipatan Kertas

Ini adalah kertas cerita
Merangkai kata kata hingga menjadi kisah
Kertasnya sudah berlembar-lembar

Biar ku lipat, lipat, lipat, dan lipat
Terlipat rapi kini kertas-kertas ini

Selalu ku bawa kertas-kertas lipat ini
Di dalam saku celana

Tapi tak sehuruf pun mampu aku baca lagi

Lipatan kertas kan jadi usang


-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 03 Maret 2014

TANPA

Tercabut dari raga
          Tercabik dari suka
                         Tinggal jasad TANPA nyawa

-Catatan Perjalanan Hidup-

Enggan

Aku enggan melihat dunia, apalagi mentari
Aku ingin menutup mata
Enggan aku di kerumunan

Enggan, mataku melihat dunia (lagi)
Sendiri, sekarang, menenangkan. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Rabu, 26 Februari 2014

Tersesat

Menatap kosong tanpa tujuan
Mata memandang tanpa arah
Badan menggelayut bagai kapas
Ringan. Tanpa isi. 

Di depan jalan tak ada ujung
Atau mungkin berjalan bukan di jalanan
Dimana ini?

Tak ada pepohonan
Tak ada gemericik suara dedaunan
Tak ada angin sepoi-sepoi
Tak ada desiran suara ombak
Tak ada kicau burung, atau derik serangga hutan

Dimana ini?
Semua terasa asing
Asing se-asing asingnya

Bumi berhenti berputar
Hanya kaki yang terus melangkah
Tak tahu kemana

Samar, mulai terdengar suara

Suara hatinya yang menjerit minta tolong!

Dimana ini?
Masihkah di bumi?
Masih kah ada manusia?

Dadanya perih
Jantungnya sakit

Perlahan....
Suara itu makin jelas....

Suara malaikat maut memanggil namanya dalam kekosongan

Tersesat!

-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 24 Februari 2014

Gelap

Matahari tenggelam
Melepas terang, meninggalkan gelap
Belantara dunia meringkuk diam
Hampa merambah sekujur jiwa-jiwa

Kosong
Tak tersisa lagi
Lapang tanpa isi
Berselimut hitam tanpa warna
Sunyi dan sepi mulai jadi teman biasa

Dingin
Gelap bersaudarakan dingin
Menggigil tak mau berhenti
Melipat kaki, menyelipkan tangan
Biarkan dingin becengkrama bahagia dengan saudaranya

Bisu
Diam tanpa secuil suara

Matahari sudah menghilang
Menunggu semuanya layu, lalu mati
Tidak ada lagi yang tersisa, selain: ke-gelap-an.

-Catatan Perjalanan Hidup-

Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu