Every journey always begins with one step, Semua perjalanan bermula dari satu langkah kaki ....
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Oktober 2021

Always Remember The WHY

Sering sebagai manusia, kita tidak termotivasi dengan apa yg sudah kita lalui. Ada kalanya kita menunda-nunda dan malas untuk melanjutkan apa yang sudah kita lalui. Semangatnya tidak setinggi saat dulu kita memulai. 

Saya yakin semua orang pernah mengalami itu. Ada yang akhirnya mundur, ada juga yang mengelola motivasi dan rasa malas itu dengan baik dan akhirnya menyelesaikan apa yang ia mulai. 

Ingat dulu saat ngerjain skripsi?. Saya pernah ada di-masa, 1 semester saya sama sekali tidak menyentuh laporan saya. Akhirnya terbengkalai. Dan ada saatnya saya kembali bersemangat untuk segera menyelesaikan study saya. Saya mengerjakan skripsi saya dengan sungguh-sungguh dan alhamdulilah tidak terlalu lama untuk menyelesaikannya, dari menulis hingga sidang akhir. 

Saat ini, saya ada di fase itu lagi. Saya memasuki semester akhir S2 saya, tinggal tesis. Terkadang santai dan menunda-nunda menulis tesis muncul juga. Saya kehilangan beberapa minggu karenanya. Sudah ada teman saya yg sudah mengumpulkan data, sedangkan saya baru mulai. 

Saya jadi ingat apa yang pernah saya katakan kepada orang yg pernah bertanya bagaimana menjaga konsistensi semangat. 

Saya bilang, gak ada motivasi yang levelnya stabil. Mungkin kayak iman juga, kadang tinggi kadang rendah. 

Yg terpenting dari semangat adalah ingat alasan saat kita memulai sesuatu. Remember the WHY. Ingat kenapa kamu memilih berkarir dibidang yang sekarang kamu geluti?. Ingat kenapa kamu ambil S2?. Saat kamu mengingatnya, maka kamu akan kembali sadar alasan kenapa kamu memulainya. 

Semoga saya juga dapat mengimplementasikan itu untuk diri saya. Semoga beberapa bulan kedepan ini, saya tetap konsisten bersemangat untuk menjalani apa yang telah saya pilih dan menyelesaikan apa yang telah saya mulai. 

Salam

-Catatan Perjalanan Hidup-

Senin, 10 Mei 2021

What do you have when you are 25 ?

Apa yang kamu punya di usiamu yang ke-25?

Apa versi ideal seorang manusia di usia 25?


Well....saya gak tau darimana dan siapa yang memulai, tapi hari ini saya banyak membaca di social media khususnya LinkedIn dan Twitter orang membahas tentang usia 25. Pertanyaannya, "versi ideal seseorang di usia 25 tahun itu punya apa saja?". Ada yang bilang, saya gak tau ini siapa awalnya, di usia 25 seseorang itu seharusnya sudah punya duit minimal 100 juta, rumah & mobil. Dan pembahasan ini ramai sekali menarik diskusi, tentu ada yang pro & kontra. 

Saya gak pernah terlibat dalam obrolan di social media. Ya, saya hanya menikmati sebagai sumber berita saja dan agar tidak ketinggalan dengan kejadian-kejadian viral/trend masa kini. Saya minimal tidak kudet tentang apa yang terjadi pada para penduduk dunia maya. Karena itu, saya gak pernah ambil pusing apapun yang sedang viral untuk iku-ikutan berkomentar apalagi membagi-bagikannya. Saya selalu berpikir, hal seperti itu tidak ada faedahnya. 

Tapi yang membuat saya tergelitik ingin menulis mengenai "versi ideal 25 tahun" ini adalah karena setelah saya flash-back pada usia saya yang ke-25, saya jauh dari apa yang dibilang entah siapa itu tentang versi ideal usia 25 tahun. Ada akun seseorang yang sudah mendapat centang biru, dan saya pernah ketemu orang ini dalam suatu seminar, yang kata-katanya mendamaikan hati serta itu pula yang saya yakini. Kurang lebih ia bilang bahwa setiap manusia punya waktu dan masanya sendiri dan gak bisa dibanding-bandingkan. I am totally agree, and I strongly believe it too. 

Minggu, 22 November 2015

Mamak

"Mamak seneng kalau kamu mau kuliah. Mamak ini orang bodo, SD aja gak lulus. Biar aja mamak bodo, asal gak nurun ke anak-anak Mamak. Mamak seneng kalau anak-anak mamak bisa sekolah tinggi, biar yang kerja keras banting tulang orang tua. Cuma kepinteran yang bisa Mamak kasih ke anak-anak Mamak. Biar kalau kerja gak susah kayak Bapak dan Mamak. Alhamdulillah kalau kamu bilang mau kuliah. Biar gimana caranya Mamak akan biayai. Mamak rencananya mau jual sawah mamak di kampungnya simbah untuk biaya daftar kuliah kamu". 

Kalimat itu masing terngiang-ngiang diingatanku, bahkan hingga detik ini. Sampai kapanpun tidak akan pernah aku lupa. Ujian Nasional kelulusan SMK sudah dekat waktu itu. Aku yang sebelumnya tak berpikir untuk malanjutkan sekolah lagi, tapi entah mendapat inspirasi dari mana, secara tiba-tiba ingin sekali bisa melanjutkan sekolah lagi, ke perguruan tinggi. Barang mahal dan jarang bagi kebanyakan pemuda di desaku. Malam itu, saat  usiaku belum begitu remaja, aku mengutarakan keinginanku untuk masuk perguruan tinggi.  Apapun perguruan tingginya. Dan malam itu, di tengah meja makan kayu tempat kami biasa bersantap malam, Mamak mengucapkan kalimat demi kalimat yang tak akan pernah aku lupakan itu. Kata demi kata terngiang, berputar selalu dikepalaku, mengingatnya aku selalu tercambuk, terlecut oleh rasa syukur dan haru. 

Mamak, tak terhitung banyak kebaikan yang kau alirkan untukku. Semuanya terakumulasi menjadi satu kebaikan terbaik yang tak pernah dapat dibandingkan dengan kebaikan lain di dunia ini. Marahmu, omelanmu, jengkelmu, cemasmu, takutmu, waktumu, kerja kerasmu, keringatmu, dan semua senyumanmu itu tak lain dan tak bukan hanya mengharap semua kebaikan dan kebahagiaan hanya bermuara padaku. Untuk waktu itu, waktu nanti, dan waktu selamanya. Aku sebatas anak yang punya ego dan cita-cita setinggi langit, namun terkadang lupa, bahwa pohon tinggi pun semua bibitnya disemai dan dirawat dari tanah, dari bumi. Semua tanah dan bumi tempat apapun pohonnya adalah Ibu. Mamak, perempuan terbaik, penyemai dan perawat bibit-bibit pohon ego dan cita-cita anak manusia. Ia hanya bisa menopangnya dan memupuknya dengan segala jenis muara kebaikan untuk pertumbuhan si pohon manusia. Mengingatmu, hanya selalu membuatku tak kuasa membendung tangis haruku.

Kamis, 19 November 2015

Business Trip to Qingdao

Bekerja disebuah perusahaan asing, membawa berkah tersendiri bagiku. Selain mengasah komunikasi bahasa Inggris dan mengenal budaya kerja orang asing, aku dapat kesempatan juga terbang ke negara lain dengan gratis. Ini tidak sekedar cerita tentang perjalana ke luar negeri, melainkan juga hal-hal positif lain yang aku dapat capai di kesibukanku yang sekarang ini. 

Sudah hampir 1,5 tahun aku bekerja di perusahaan ini, Haier Indonesia, sebuah perusahaan asing yang baru saja mengakuisisi Sanyo Indonesia tahun 2012. Tidak banyak informasi yang aku dapat kumpulkan tentang Haier saat aku akan masuk ke perusahaan ini. Tidak heran jika masih sangat jarang orang di Indonesia yang mengenal nama Haier, karena memang penetrasi produk Haier di pasar Asia Tenggara tidak seagresif di kawasan lainnya. 


Aku cukup tercengang ketika perlahan-lahan aku mengetahui bahwa Haier ternyata adalah salah satu perusahaan TOP di China dan mendominasi pasar baik di negara asalnya, maupun di kawasan Amerika Utara, Eropa, Australia, Afrika, bahkan perlahan-lahan pasar Timur Tengah dan India. Aku dibuat cukup takjub saat menginjakan kaki di kantor Head Quarter-nya di Qingdao, China, dimana begitu besar dan luasnya kompleks Haier disana. Bahkan saking besarnya, aku tak punya cukup waktu untuk melihat keseluruhan kompleksnya. 

Jumat, 11 Juli 2014

Harga Diri Laki-Laki adalah Bekerja

Apa yang dapat dibanggakan dari seorang lelaki?. 

Seorang laki-laki dapat tertawa bangga ketika ia sudah mampu menghidupi dirinya sendiri. Ia sudah bekerja dan mandiri. Tidak lagi tergantung pada orangtua dan saudaranya. Harga diri laki-laki adalah ketika ia sudah bekerja. Bagi saya, mungkin nyata benarnya bahwa perbedaan menonjol antara laki-laki dan wanita adalah pada ego dan harga dirinya. Seorang lelaki akan berusaha sekuat mungkin untuk menghidupi dirinya dan keluarganya sendiri, dengan cara apapun, alih-alih sekedar mengandalkan bantuan orang atau bahkan keluarganya sendiri. Ya, meskipun sekedar numpang hidup di rumah orangtuanya (sendiri) atau mertua. Bagi laki-laki, dapat menghidupi diri sendiri dan tanggungannya adalah segalanya, melebihi kebanggaan terhadap apapun.

Tidak ada yang dipikirkan lelaki selain bagaimana caranya agar ia segera bekerja, mandiri, punya cukup kemampuan untuk menyiapkan masa depan untuk membuat keluarganya sendiri. Lelaki sejati selalu memikirkan tanggung jawabnya sebagai calon kepala keluarga. Suatu ketika ia dapat berbangga hati ketika, ia sudah mampu memberi sedikit hasil keringat pada orangtua, mampu membeli rumah sendiri, dan tentunya mampu menanggung semua biaya pernikahan sendiri. 

Karena lelaki adalah kepala dan pemimpin, secara naluriah mereka akan menuju kearah sana.Dan tak ada yang saya pikirkan selain bagaimana agar semua kebanggaan dan harga diri lelaki saya dapatkan. Bapak saya mengatakan "Seorang lelaki tidak boleh mengeluh!". Ya, tabu bagi seorang lelaki mengumbar kesusahannya karena lelaki adalah kepalanya. Jika kepala saja sudah loyo, adakah tempat lain untuk bersandar?.


-Catatan Perjalanan Hidup-

Jumat, 21 Maret 2014

Buku & Kurus

Terimakasih untuk teman-teman alumni IELSP (Indonesia English Language Study Program) yang tergabung dalam organisasi alumni IAA (IELSP Alumni Association) karena telah memfasilitasi terbitnya buku kumpulan cerita perjalanan penerima beasiswa IESLP. Buku dengan judul "Melipat Batas" itu akhirnya terbit bulan September tahun lalu. Saya kebetulan mengirimkan cerita dan akhirnya turut dicetak bersama cerita-cerita lain dari teman-teman di buku tersebut. Salut dan bangga dengan kerja keras tim IAA hingga akhirnya buku tersebut terbit. Saya tidak bisa membantu banyak dalam penyusunan dan teknis penerbitan buku itu karena masih bertugas di Halmahera Selatan. Saya hanya kadang dihubungi untuk sesekali membetulkan dan mengirim data yang dibutuhkan oleh tim penyusun. 

Meski bukan buku saya sendiri, tapi sudah cukup membuat saya bersuka cita karena ada tulisan saya disitu. Saya bercerita tentang bagaimana ramah dan teraturnya Kota Blacksburg, sebuah kota kecil tempat Virginia Tech University berada. Dan cerita itu akhirnya terkumpul bersama cerita yang lain menjadi sebuah buku "Melipat Batas". Itu adalah tulisan pertama saya di sebuah buku. Bisa saya katakan, itu adalah buku pertama saya di usia 25 tahun. 

Saya (kedua dari kanan) ditengah-tengah penulis buku Melipat Batas, @America Pacific Place, Jakarta

Foto bersama pengurus IAA (IELSP Alumni Association)

Rabu, 19 Maret 2014

Quote of Today

Ceritanya hari ini saya sedang diminta untuk membuat instrumen penilaian untuk pegawai yang sudah mengikuti pelatihan Leadership and Motivation Training. Saya membaca materi pelatihan tersebut dan entah bagaimana saya menemukan setetes semangat (ya setetes!) dari kata-kata inspirasional itu. Saya bisa mengangguk-angguk membaca quote-quote ini. Dan terbersit dalam pikiran saya: Saya butuh datang ke psikolog!.

Sayang saya tidak bisa mengikuti training ini, padahal jika mau saya bisa mengikuti. Pembicara pelatihan kepemimpinan ini adalah seorang mantan Bankers yang sudah malang melintang di dunia peningkatan kapasitas human capital Bank. Bahkan beliau sudah menulis beberapa buku. Di kalangan Bankers Indonesia, namanya cukup terkenal.  
 
Berikut saya ambil quote-quote yang menarik :

4 Mental Block:
1. ANGER (Kemarahan Terpendam)
2. FEAR (Ketakukan-Ketakutan)
3. LIVING IN THE PAST (Phobia/trauma masa lalu)
4. COMFORT ZONE (Zona Nyaman)

Kamis, 06 Maret 2014

Perjuangan


Alam raya mengembalikan kaki diatas bumi
Terbangun dari alam lain tempat bisa menyendiri
Tak ada apa-apa, dan siapa-siapa.
Ini hidup. Ini realita.

Setiap detik kini berarti
Bergegas ku berlari menyongsong pagi
Berjejal bak teri
Tidak manusiawi!
Ini hidup. Ini realita. 


Untuk hidup, dan untuk DIRIKU SENDIRI. 

-Catatan Perjalanan Hidup-

Kamis, 27 Februari 2014

Bayangan

Kemanapun kaki ini melangkah, bayangan itu selalu ada
Menyelisip di celah celah terkecil

Kemanapun mata ini memandang, bayangan itu selalu muncul
Menyeruak di setiap sudut terkecil pandangan

Kemanapun pikiran ini terbang, bayangan itu selalu mengikuti
Menyergap kedua sayap kenangan 

Bayangan
Selamanya.......
Kamu menghantui.........
Di kehidupan nyata, 
Bahkan di alam mimpi,

Atau kah
Lepas saja nyawa ini
Agar bayangan itu tidak lagi ada!

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 25 November 2012

Wujud Nyata Cinta

Anak-anak SD N Waya berjajar di dermaga desa saat mengantarkan kepulangan Pengajar Muda 3

Pagi itu (Kamis, 08 November 2012) Pak Udin, teman guru, menyampaikan kepadaku bahwa akan diadakan acara pisah sambut PM3 dan PM5 di sekolah. Aku baru saja tahu akan diadakan acara seperti itu, sangat mendadak pikirku. Tak lama berselang, beliau meminta seluruh siswa untuk memanggil perwakilan orangtua mereka ke sekolah untuk menghadiri acara itu. Seluruh siswa berkumpul setiap pagi untuk melakukan apel pagi, yang kucatat seharusnya pukul 07.30 WIT. Cukup dengan membunyikan lonceng didepan ruang guru, seluruh murid akan berkumpul sesuai kelas masing-masing. Disitulah Pak Udin mengumumkan undangan itu kepada seluruh siswa.

Jadilah seluruh siswa pulang untuk menyebarkan berita itu kepada orangtua mereka. Awalnya aku cukup terkesima dengan cara ini. Tanpa perlu undangan tertulis, dipagi dan hari itu juga, dengan mudahnya orangtua wali murid dikumpulkan disekolah. And it works!. Meski sangat terlambat, karena diundangan lisan yang disebarkan, orangtua murid diminta hadir pukul 08.30 WIT, namun acara baru dimulai pukul 10.00 WIT (setelah itu aku baru tahu jika kemoloran waktu yang begitu panjang itu sangatlah biasa).

Sibuklah aku, teman-teman guru, dan siswa kelas atas menyiapkan ruangan beserta meja dan kursinya. Meja dan kursi ditata berjajar didepan kelas, dan kursi berderet untuk tamu undangan.  

Wirausahawan Cilik



“Rotiiii Goreeeeeeennnggg!!”, “Rotiiii Goreeeeeeennnggg!!”, “Kueeeeeeeeee!!”, “Cillooooookkkkkkk!!”, “Ikaaaaaaaannnnnn!!”, “Kacang tumbuuuuuuu!!”. Suara teriakan anak-anak seperti ini yang akan terdengar di desa ketika pagi hari sebelum jam masuk sekolah maupun saat matahari mulai menjorok di ufuk barat. Fakta unik yang aku dapati ini, membuatku berpikir rasa-rasanya anak-anak di desa ini mempunyai bakat menjadi pedagang, sales, maupun wirausahawan handal suatu ketika kelak.

Belum genap satu bulan aku disini, sehingga mungkin masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa aku sudah mengenal semuanya. Namun, aku sudah mengenal beberapa fakta unik dalam masa study-ku di sekolah kehidupanku yang masih sangat sebentar ini. Satu fakta unik dan menarik di Desa Waya adalah tentang banyaknya marketer (sales) cilik, yakni anak-anak yang menjual makanan di sekolah maupun menawarkannya berkeliling desa dengan berjalan kaki.

Mereka yang menjajakan makanan ini umumnya adalah anak-anak usia sekolah. Mereka sering juga ditemani oleh anak-anak kecil lain yang belum cukup umur untuk masuk SD (di Desa Waya belum ada TK). Aku menemukan beberapa murid-muridku kelas 1-5 berjualan rutin menjajakan makanan keliling desa. Anak-anak hebat ini membawa jajanan mereka menggunakan box plastik kecil. Mereka menenteng atau sesekali memanggulnya sambil meneriakkan nama makanan yang mereka bawa. Mereka telusuri satu demi satu jalanan desa untuk menawarkan makanan mereka kepada warga agar laku terbeli.

Jumat, 02 November 2012

Doa dan Dukungan Mereka


" Mengapa kesepian jika kita melihat matahari dan bulan yang sama. Ini cuma masalah jarak, sedangkan hati kita dekat" (Abah Iwan)

"Pengalaman adalah Guru terbaik. Guru, mengajari sebelum melakukan. Sedangkan pengalaman, melakukan baru mengajari" (Jusuf Kalla). 

"Sampaikan salam saya kepada seluruh anak negeri. Katakan pada mereka, bahwa saya mencintai mereka" (Boediono)

-Catatan Perjalanan Hidup-

Minggu, 07 Oktober 2012

Berakit-Rakit Ke Hulu Berenang-Renang Kemudian


Semakin banyak hal yang kamu kerjakan maka itu menandakan bahwa waktu yang kamu punya tidaklah sia-sia. Waktumu semakin bermanfaat, bukan sebaliknya. Itu pula berarti jika kamu sedang berproses untuk menjadi orang berkapasitas lebih dibandingkan kebanyakan manusia lainnya. Kamu sedang berproses menjadi orang besar. Makanya, jangan takut dengan tugas yang menumpuk, jangan khawatir dengan banyaknya aktivitas, beranilah menjadi orang sibuk karena orang besar adalah orang yang terbiasa dengan kesibukan. Kesibukan dan banyaknya aktivitas itu akan membuatmu semakin tertempa, tumbuh, dan berkembang.  Manfaatnya mungkin belum akan dirasakan sekarang, tapi suatu saat nanti proses itu akan mengantarkanmu pada titik tertinggi. Berakit-rakit Kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Fase setelah kuliah adalah masa yang sangat berbeda dibandingkan ketika kita masih kuliah. Setelah kita memasuki dunia kerja, kita akan dituntut untuk bekerja berdasarkan standar-standar tertentu yang harus dipenuhi. Dulu saat kuliah, mungkin kita masih bisa berkompromi dengan tuntutan standar-standar itu, tapi ketika berada didunia kerja atau masyarakat sosial yang nyata kita tidak bisa lagi berkompromi. Jika kita berkompromi sedikit saja dan menurunkan tuntutan standar dengan berbagai alasan, maka orang tidak akan lagi percaya kepada kita. Padahal faktor penting dalam masyarakat dan karir adalah trust (kepercayaan). Jika sudah tidak ada lagi kepercayaan, maka dapat dipastikan karir baik didunia kerja maupun masyarakat telah habis.

Minggu, 09 September 2012

Wejangan Sebelum Training IM

Tidak terasa ya, besok adalah hari dimana aku akan bertemu dengan ke-52 calon Pengajar Muda angkatan V di Gerakan Indonesia Mengajar. Rasanya sudah tidak sabar lagi aku bersua dengan mereka. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan mereka, tapi aku merasa sudah mengenal dan dekat dengan mereka (cieeee, sok banget ya?). Mungkin karena kita sering bercanda dengan komentar-komentar konyol kita di grup, jadilah sudah terjalin ikatan diantara kita. Itulah mengapa, saat bertemu dengan beberapa calon pengajar muda (Jumat/07-09-12), kita mudah saja langsung akrab. Memang, grup seperti itu sangat membantu dalam mempererat tali emosi dan chemistry diantara anggotanya. 

Aku tidak sabar menunggu datangnya esok hari. 

Setelah esok hari tiba, kami akan secara resmi mengikuti training menjadi Pengajar Muda secara intensif dalam beberapa pekan kedepan. Kami akan digojlok dengan berbagai macam materi, entah itu fisik maupun mental, entah itu tentang wawasan keilmuan maupun hal-hal teknis. Bayangan apa saja yang akan aku lalui nanti masih juga samar, belum jelas. Mungkin aku akan berada ditengah hutan nantinya, bertahan hidup tanpa makanan. Mungkin juga nanti aku akan dilatih secara militer ala tentara. Atau mungkin nanti aku akan berkelompok dengan teman-teman dan melakukan permainan yang menyenangklan. Yang pasti, apapun itu aku akan menikmatinya. 

Alhamdullilah, bagaikan menemukan oase di padang pasir yang mampu menghapus dahaga, pagi ini aku mendapatkan banyak curahan oase ilmu dan pencerahan terkait dengan training Indonesia Mengajar oleh sesepuhnya Indonesia Mengajar. Beliau adalah Mbak Retno Widyastuti Community Engagement Officer IM. Ini adalah pesan beliau kepadaku saat pagi tadi kita mengobrol via Facebook:

Sabtu, 21 Juli 2012

Sambutan Wakil Wisudawan/Wisudawati Universitas Diponegoro pada Wisuda ke-127

Mimpi atau bolehlah disebut angan-angan jika selalu dibayangkan dan ditulis, insyaALLAH suatu saat terwujud. Begitu kata para trainer saat mengisi forum-forum motivasi. Dan Anda tahu?itu memang benar adanya, karena aku perlahan-lahan membuktikannya. Dulu aku sempat bermimpi saat wisuda, aku akan mewakili teman-teman memberi sambutan dan membuat orangtuaku bangga. Mimpi itu terwujud pada hari Selasa, 17 Juli 2012. Aku merasa sangat bahagia, bangga, sekaligus terhormat diberikan kepercayaan untuk mewakili teman-teman wisudawan/ti memberikan sambutan pada acara wisuda Universitas Diponegoro yang ke 127. Meskipun awalnya aku sempat menolak dengan halus, tapi bagaimanapun itu adalah kepercayaan dan kehormatan jadinya aku tidak akan mengecewakan siapapun. Karenanya pula, orangtuaku sesampainya dirumah tidak hentinya membicarakan tentang wisudaku. Kebahagiaan tiada tara dapat membuat orangtua menangis bangga melihat putranya bukan?. Wisuda sarjana Hari Selasa 17 Juli 2012 adalah salah satu momen hidup paling membahagiakan dan membanggakan yang pernah aku punya  sepanjang hidup. Hadirnya adek-adek kelas yang memberi ucapan selamat menjadi salah satu penyebab utama mengapa hari itu menjadi hari penuh canda tawa. 

Dulu aku selalu berpikir dan selalu aku tulis pula, bahwa suatu saat jika aku wisuda aku akan merasa sangat puas terhadap apapun yang telah aku lakukan dikampus. Dan Anda tahu?aku betul-betul merasa sangat puas pada hari dimana aku diwisuda. Subhanallah. Apa yang kita pikirkan suatu saat akan menjadi kenyataan. Semoga apa yang aku impikan selama ini akan terwujud nyata perlahan-lahan, karena aku semakin yakin bahwa mimpi yang benar-benar diinginkan dan diupayakan akan terwujud suatu saat, entah kapan. Karena Tuhan pasti mendengar dan mengabulkannya. 

Terimakasih untuk doa dan dukungannya dari teman-teman dan adek-adek kelas
Berikut aku posting naskah sambutan yang aku buat sebagai wakil wisudawan/ti Universitas Diponegoro pada wisuda ke-127. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya.

Sabtu, 09 Juni 2012

Buka Mata: Ini Realita di Negara Kita


Saya masih ingat betul kata-kata seseorang yang mengatakan "Jangan pernah mengaku orang Indonesia jika hanya pernah melihat isi Pulau Jawa saja". Saya sebelumnya tidak pernah membayangkan bakalan dikasih kesempatan untuk melihat daerah-daerah terdepan di gugusan kepulauan negara Indonesia. Saya dapat melihat realita kehidupan sosial masyarakatnya dan berinteraksi dengan mereka. Ternyata memang benar, ketimpangan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa terjadi. Ketimpangan itu hampir terjadi disetiap sisi kehidupan: pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, teknologi, dan lain sebagainya. Sangat miris. Ironis. Menyesakkan. Negara yang begitu luas dengan taburan pulau-pulau nan cantik didalamnya ini ternyata jika boleh diibaratkan seperti manusia yang (maaf) cacat fisiknya. Kepalanya besar seperti terkena tumor, sedangkan badan, kaki, dan tangannya kecil sehingga manusia ini kesulitan berjalan apalagi berlari. Terlalu berat beban kepalanya. Kepala itu ibarat Jawa, sedangkan bagian tubuh yang lain adalah luar Jawa. 

Bagi Anda yang sejak kecil dilahirkan dan dibesarkan di Pulau Jawa, pastinya Anda hidup dalam lingkungan yang mempunyai segalanya. Artinya akses menuju ke sumber-sumber kesejahteraan, teknologi, pendidikan, dan sisi kehidupan lain adalah mudah. Hidup di Pulau Jawa, pasti Anda sudah terbiasa dengan listrik dan teknologi. Saat gelap, nyalakan lampu listrik. Saat ingin mandi, nyalakan pompa air. Saat haus, tinggal ambil air dari kulkas. Saat ingin menelfon, Anda tinggal pencet nomor dan menelfon. Saat ingin belanja di pasar, Anda tinggal menaiki sepeda motor Anda atau naik angkot, 10 menit sampai. Warung juga sangat dekat, tinggal jalan kaki. Akses kesemua kebutuhan hidup sebagian besar daerah di Pulau Jawa sangatlah mudah. Semuanya serba mudah, serba ada, serba tersedia. Beruntung sekali Anda dan saya dilahirkan di Pulau Jawa. 

Tapi, apakah Anda atau kawan-kawan pernah membayangkan, bahwa ternyata masih ada di era modern seperti sekarang, masyarakat yang belum tersentuh atau sedikit tersentuh teknologi dan modernitas?.  Pernahkah Anda tahu?. Anda ingin menyalakan lampu, belum tentu ada listrik. Tidak ada listrik atau ketersediaan listrik sangat minim. Listrik saja susah, apalagi sinyal HP, televisi, dan internet?yaa jelas makin susah. Bayangkan jika Anda harus mencari sinyal profider keatas bukit hanya untuk menelfon. Hampir semuanya serba terbatas. Pendidikan, layanan masyarakat, perbankan, semuanya juga sangat minim. 

Jumat, 01 Juni 2012

4,9 Tahun Bukanlah Waktu Yang Sebentar

Setelah namaku dipanggil, aku masuk kedalam ruangan. Dinginnya udara ber-AC semakin terasa menusuk kulit, keringatkupun semakin mengering. Aku duduk dan mendengarkan dosen pembimbingku sekaligus panitia sidang menyampaikan kalimat penutupannya. Aku menunduk dan cuma bisa memegang tanganku sembari terus berdoa dalam hati agar semuanya seperti yang diharapkan. Ruangan terasa hening sesaat. Suara dosenku mulai terdengar "Ya, setelah tim penguji bermusyawarah, kemudian sepakat bahwa selamat kepada saudara Panca, Anda sudah dinyatakan lulus". Alhamdulilah, aku bersyukur sekali dalam hati, tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Akhirnya, aku sarjana juga, sarjana pertama yang dihasilkan dari hasil jerih payah orangtuaku sendiri. Aku naikan kepalaku dan memandang wajah dosen pembimbingku dengan senyuman teramah dan penuh kebahagiaan. Beliaupun melanjutkan "Anda baru lulus 51%, yang sisanya 49% adalah ketika Anda sudah melengkapi refisi dari para penguji. Setelah semuanya lengkap, baru Anda lulus 100%". Gelar sarjana sudah ada digenggaman tangan, refisi dari dosen penguji cuma masalah kecil saja. Tinggal tunggu waktu sampai semua tanda tangan dosen penguji aku dapatkan. InsyaALLAH.

"Silakan, kepada Professor Budi untuk memberikan wejangan kepada saudara Panca", demikian kata dosen pembimbing sekaligus panitia sidang sembari membersilakan Prof. Budi berbicara. Prof. Slamet Budi Prayitno adalah dosen pembimbing keduaku, dosen senior di fakultasku dengan pengalaman dan kapasitas keilmuaan yang tidak diragukan lagi. Beliau pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor III, Pembantu Dekan III, dan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah. Dengan tata bahasa yang sangat halus dan baik, beliau memberikan wejangan atau pesan kepadaku. Kalimat pastinya aku tidak terlalu hafal, yang pasti aku masih ingat sekali intinya. Ini akan selalu aku ingat selamanya karena kalimat ini telah berhasil membuatku merinding dan berkaca-kaca. "Selamat kepada Panca, prestasi akademik Anda sangat memuaskan, dan hasil sidang ini juga sangat memuaskan. Anda telah berjuang dengan keras untuk meraih gelar sarjana dan sidang ini adalah tahapan paling akhir Anda selama berkuliah di kampus ini. Tentunya, orang pertama yang Anda hubungi setelah keluar dari ruangan ini adalah Ibu Anda. Karena beliaulah yang selalu mendoakan Anda setiap waktu demi kesuksesan Anda. Orangtua Anda bekerja keras agar Anda lulus menjadi sarjana. Kami, para dosen, juga berdoa agar Anda menemukan kesuksesan Anda setelah keluar dari kampus ini. Kami juga selalu siap membantu Anda setelah ini. Selama kuliah pasti Anda telah bertemu dengan banyak dosen dan pengalaman. Ada dosen yang baik dan ada mungkin yang kurang baik. Ada pengalaman yang baik dan ada juga yang kurang baik. Tapi, apapun itu, anggaplah semuanya baik dan jangan pernah lupakan almamater Anda. Selamat". 

Rabu, 23 Mei 2012

Whats Make You Beautiful (Apa yang Membuatmu Cantik)

Cantik. Bagi kebanyakan laki-laki, jika ditanya tentang bagaimana kriteria seorang wanita bisa disebut cantik pasti akan beragam jawabannya. Aku pikir, akan banyak yang menjawab wanita cantik itu adalah mereka yang bertinggi sekian cm, berat sekian kilogram, berhidung mancung, berkulit putih, dan modis. Kriteria cantik seperti itu, aku rasa, adalah kriteria seorang wanita cantik menurut laki-laki jaman sekarang. Bener kan?. Yupz, sekarang ini, wanita disebut cantik atau kurang cantik, mayoritas berdasarkan fisiknya. Apa yang terlihat di luar itu yang sering jadi penilaian; cantik atau kurang cantik. Pemahaman atau persepsi ini semakin masuk kedalam alam pikiran manusia dan dianggap suatu kewajaran seiring dengan membudayanya program televisi yang membuat seolah-olah wanita cantik itu adalah mereka yang tinggi, proporsional, putih, hidung mancung, rambut panjang, dan berani menampilkan kemolekan tubuhnya atau kalau kata banyak orang: seksi. Lihat saja acara; Miss Indonesia. Acara ini memperdalam persepsi masyarakat pada umumnya bahwa fisik atau apa yang nampak diluar jadi patokan utama seorang wanita disebut cantik. Seorang wanita yang (maaf) pendek dan berkulit coklat serta berjilbab, pasti akan segera dieleminasi bahkan saat proses seleksi administrasi Miss Indonesia. Silakan dicoba sendiri, jika Anda ingin membuktikannya. Dunia infotainment yang jadi konsumsi publik setiap hari juga turut membantu memperdalam persepsi masyarakat tentang 'cantik'. Anda bisa lihat bagaimanakah sosok seorang wanita yang bisa masuk dalam dunia infotainment atau dunia hiburan layar kaca. Wanita-wanita ini kemudian disebut sebagai wanita cantik dengan 'kesempurnaan' bentuk tubuhnya (fisiknya). Lagi-lagi, dunia di luar sana mengajarkan kepada manusia bahwa cantik adalah apa yang Anda lihat. 

Apalagi sekarang ini fenomena artis idola semakin jadi budaya kaula muda. Mereka mengidolakan atau nge-fans dengan artis-artis yang menomorsatukan penampilan. Pada ujungnya, persepsi tentang kriteria wanita cantik disetandarkan atau didasarkan  pada bentuk fisik artis-artis idola mereka. Lihat saja penampilan wanita muda jaman sekarang. Meniru penampilan artis-artis pemuja penampilan, bukan?. Bahkan banyak anggapan jika Anda tidak berpenampilan seperti artis jaman sekarang atau trend jaman sekarang Anda layak disebut jelek, tidak cantik, dan ndeso. Anggapan yang sama sekali salah. Persepsi ini membuat banyak wanita terjebak dalam suatu pandangan hidup bahwa jika ingin cantik, maka penampilan luar adalah nomor satu. Betapa herannya aku melihat gadis atau wanita jaman sekarang yang justru rela berpakain terbuka atau seksi, demi mendapatkan label wanita cantik. Atau bahkan, rela melakukan operasi plastik agar mendapatkan label wanita cantik. Dunia sekarang ini memang lebih cenderung menjadikan materi atau apa yang bisa dilihat sebagai patokan utama kehidupan. 

Rabu, 16 Mei 2012

Balasan Email Inspiratif

Aku merasa sangat terharu ketika membaca email yang aku terima dari manajemen Indonesia mengajar. Meski aku yakin ini balasan email otomatis, karena tidak mungkin pak Anies Baswedan menulis ribuan balasan email kepada calon pengajar muda, namun tetap saja kalimat yang tertulis disana sungguh menyentuh semangat. Dan meskipun itu cuma kalimat dalam email biasa, namun saat aku membacanya, ada inspirasi dan semangat baru untuk mengabdikan diri dengan kontribusi terbaik bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara. Pak Anies, aku mengagumi Anda. 

Kalimat yang beliau tulis melalui balasan email otomatis ini, tidak sekedar memberi inspirasi namun juga semangat pengabdian dan kontribusi kepada bangsa dan negara. Baca saja kalimat dibawah ini, kamu pasti terharu. Memang benar Pak Anies, daripada menyalakan kegelapan lebih baik nyalakan lilin. Dari pada kita, kaum muda dan mahasiswa, menyalahkan pemerintah dan mengkritik mereka, lebih baik kita melakukan sesuatu yang nyata, real untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara ini. Tidak cuma Indonesia Mengajar saja sarana yang bisa dipakai, aku kira banyak sekali sarana pengabdian real kita yang bisa kita lakukan untuk tanah air tercinta ini. Jika bukan kita, siapa lagi?. Jangan cuma diam dan bangga setelah jadi sarjana, tapi dengarkan suara jerit ibu pertiwi memanggil sumbangsih kita. Ia sudah didera sakit berlarut-larut, karenanya singsingkan lengan baju, berikan pengabdian terbaikmu demi mewujudkan janji kemerdekaan kita.

TETAP SEMANGAT. Aku sekedar coba-coba saja, jika misal tidak diterima ya sudah, jika diterima ya disyukuri. ;-D. Nah, dibawah ini adalah balasan email dari IM, sangat inspiratif. 

Minggu, 19 Februari 2012

Keep Swinging the Ball above the Fence, the People Will Notice You

Judul tulisan ini adalah pepatah atau proverb dari negara Amerika Serikat yang jika di-Indonesia-kan lebih kurangnya menjadi “Terus pukulah bola diatas pagar, maka orang-orang pun akan memperhatikanmu”. Pepatah ini di negara aslinya terilhami dari salah satu olahraga favorit di sana yakni base ball. Bagi saya, pepatah ini tidak hanya untuk orang Amerika saja, tapi bagi orang Indonesia-pun filosofinya sangat berguna. Pepatah ini memberikan nasehat kepada kita untuk selalu berusaha dan bekerja diatas rata-rata kebanyakan orang (above the fence), maka orang-orang disekeliling kita pun akan mengenali kita. Karenanya pula, kita dapat memperoleh apapun melebihi orang lain yang hanya berusaha pada batas kewajaran usaha manusia. 

Bagi saya, pepatah ini adalah nasehat penuh makna yang sangat pas dengan kehidupan setiap manusia. Saya sedang belajar berpikir dan memaknai kehidupan saya seperti nasehat yang terkandung dalam pepatah itu, namun belum bisa saya temukan ekspresi yang tepat untuk mengucapkannya sebelum saya membaca artikel didalam koran berbahasa Inggris terbitan Ibu kota yang memuat pepatah Amerika itu. Meskipun sederhana, namun kalimat itu, bagi saya, sarat akan makna hidup. 

Memang, siapapun kamu, jika kamu berusaha, bekerja, dan berkontribusi lebih banyak, lebih keras, dan lebih lama daripada rata-rata kebanyakan orang, maka InsyaALLAH kamu pasti akan mendapatkan lebih dari yang didapat kebanyakan orang.

Read Also

  • Jangan Baper - Jangan baper kalau kerja. Hubungan antar manusia di tempat kerja, entah dengan rekan, bawahan atau atasan, gak selamanya baik-baik saja. Hubungan kerja, sa...
    6 tahun yang lalu